Trauma bencana bisa begitu berdampak bukan hanya pada orang dewasa, tapi juga pada anak-anak kita? Bukan tak mungkin, ketika bencana alam itu menimpa, dampak psikis yang anak-anak derita justru lebih besar daripada luka-luka fisik yang dia alami. Sementara, orang tua terkadang hanya peduli terhadap kondisi fisik yang terlihat. Padahal, bahkan hanya dengan melihat di TV sekali pun, anak sudah bisa merasa trauma.
Lantas, bagaimana kita mengajak anak memahami arti bencana alam itu? Apa yang harus Anda lakukan untuk membantu agar dia cepat sembuh dari trauma yang diderita? Lalu, bagaimana Anda bisa menjelaskan bencana alam kepada anak tanpa membuatnya takut atau trauma? Juga, cara apa saja yang bisa kita tempuh untuk mengajaknya berempati?
Berikut ini, ada empat cara yang bisa Anda lakukan agar anak tidak trauma hadapi bencana.
1. Peduli
Dengan mengajak anak peduli terhadap lingkungan berarti kita telah menanamkan jiwa kebersamaan dan kekeluargaan serta tanggap terhadap situasi di lingkungannya. Peduli tidak saja membantu, tetapi juga menjadi hal sederhana serupa turut berdoa agar bencana tidak menimpa lingkungan kita.
2. Budayakan hidup sehat
Membudayakan hidup sehat dan bersih tidak saja dilakukan di sekolah dan rumah saja, tapi terhadap lingkungan. Caranya, dengan mengajari anak tidak membuang sampah sembarangan, tidak bermain api atau listrik sembarangan. Hal-hal tersebut sudah cukup untuk menetralisir bencana yang mengancam anak.
3. Berikan pemahaman sesuai usia perkembangan anak
Anak usia balita (bayi lima tahun) belum mampu berpikir sesuai dengan pemikiran orang dewasa, mereka bertindak berdasar pengalaman seperti apa yang orang-orang dewasa lakukan. Oleh karena itu, berikan pemahaman dengan gambaran sederhana, agar anak tidak panik dan bingung ketika terjadi bencana. Simulasi dengan pola bermain sangat membantu mencegah trauma bencana yang mengancam anak-anak kita.
Anak usia 3 tahun sudah mulai kritis, ia kadang suka bertanya terhadap suatu hal yang ingin diketahuinya, inilah fase yang tepat untuk memberi pengertian dan pemahaman dengan deskripsi sederhana. Misalnya seperti tidak boleh membuang sampah di selokan dan beri tahu alasannya.
4. Pendampingan
Seperti halnya yang dilakukan sekelompok organisasi pemerhati anak-anak, kita pun bisa seperti mereka karena kita lebih dekat dengan anak-anak kita. Jadi, tidak ada salahnya sesibuk apa pun pekerjaan kita, luangkan waktu sejenak untuk mendampingi anak, entah dengan bercerita, melihat tayangan TV, atau bermain simulasi sederhana.
Itulah empat cara agar anak tidak trauma hadapi bencana. Mengajak anak untuk ikut serta dalam acara simulasi bencana dan trauma healing saat ini sangat penting untuk perkembangannya. Selain itu, bisa membantu agar anak lebih memahami bahaya bencana dan dampaknya, serta bagaimana cara bersinergi dengan lingkungan sekitarnya. Jangan lupa, ajak anak untuk tanggap dan sigap ketika bencana datang
Artikel Terkait
Lifestyle
-
iPad Air 11 Inci (M3): Kecil-Kecil Cabe Rawit, Performa Bukan Kaleng-Kaleng
-
Bye-Bye Video Gemeteran! Intip 7 Jagoan OIS dari Samsung dan Xiaomi di 2026
-
Biar Ngampus Makin Stylish, Intip 4 Gaya Smart Casual ala Kim Jae Won
-
Oppo Find X9 Ultra Siap Guncang Pasar pada April 2026: Bawa Layar 2K+ danZoom Periskop 10x
-
Bocoran Spek OnePlus Nord CE6 Lite, Usung Baterai Monster 7000 mAh
Terkini
-
433 Ribu Hektare Lenyap: Menggugat Angka Deforestasi Indonesia 2025
-
Gerundelan Penulis Kere: Kontradiksi Idealisme dan Hegemoni Kapitalisme
-
Angkat Kisah Setelah Ending, Episode Spesial My Hero Academia Tayang 2 Mei
-
Kebanyakan Polusi, Kupu-Kupu jadi Ogah Tinggal! Refleksi Rusaknya Alam Kita
-
Refleksi Ketika Negara, Gereja, dan Rakyat Bertabrakan di Oetimu