Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
An English Murder. (Dokumentasi Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

An English Murder adalah karya spesialis cerita kriminal Inggris, Cyril Hare, yang menampilkan pembunuhan dengan cara yang benar-benar “sangat Inggris”. Nuansanya dibangun dari perpaduan dekorasi Natal, pesta minum teh lengkap dengan kue, suasana rumah bangsawan, kepala pelayan yang setia, kerabat yang penuh intrik, orang asing yang mencurigakan, badai salju yang menutup akses keluar-masuk, hingga kehadiran potassium sianida yang mengintai di balik tradisi hangat. Novel ini pertama kali terbit pada 1951, masa Inggris baru saja melewati kemenangan Perang Dunia II.

Sinopsis

Kisah bermula ketika seorang bangsawan tua bernama Viscount Warbeck, yang sedang sakit parah, tetap memaksakan tradisi reuni Natal keluarga di rumah tua mereka, Warbeck Hall, di pedesaan Inggris pada musim dingin. Orang-orang yang diundang pun beragam, mulai dari keluarga inti hingga orang asing.

Di antara mereka, ada Robert Warbeck, putra tunggal sang Viscount; Sir Julius Warbeck, sepupu pertama Viscount yang kini menjadi anggota parlemen sosialis sekaligus Menteri Keuangan; Mrs. Carstairs, putri mantan rektor paroki sekaligus istri Alan Carstairs; kolega Sir Julius yang banyak bicara dan membosankan; Lady Camilla Prendergast yang dianggap bagian dari keluarga; serta James Rogers, seorang sersan Kepolisian Metropolitan yang ditugaskan sebagai pengawal pribadi Sir Julius.

Selain itu, hadir pula Briggs, kepala pelayan Warbeck Hall, beserta putrinya Susan. Yang paling mencolok adalah Wenceslaus Bottwink, Ph.D., seorang profesor sejarah kelahiran Hongaria yang memiliki darah Yahudi dan Rusia. Ia pernah menjadi warga Austria, Cekoslowakia, hingga Jerman, sebelum akhirnya menemukan perlindungan di Inggris setelah selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Bottwink datang ke Warbeck Hall untuk meneliti dokumen rahasia negara era Raja George III yang tersimpan di ruang arsip tanpa pemanas, dengan tulisan sulit dibaca seperti cakar ayam.

Sejak awal reuni, hubungan antaranggota keluarga sudah dipenuhi kebencian. Robert bahkan sempat menolak mentah-mentah keinginan ayahnya, terutama karena Sir Julius dianggap sebagai pengkhianat keluarga. Namun karena mungkin ini adalah Natal terakhir sang ayah, Robert tetap hadir.

Acara demi acara berlangsung canggung, dari minum teh hingga makan malam yang dingin. Hingga pada perjamuan anggur, suasana berubah drastis ketika Robert tiba-tiba jatuh dan meninggal seketika. Situasi makin mencekam karena badai salju di luar semakin menggila, jaringan telepon terputus, dan semua orang terjebak di dalam rumah. Rogers pun terpaksa menangani kasus ini dengan kemampuan seadanya.

Semua orang saling menuduh dan curiga, sebab siapa pun bisa memiliki motif untuk membunuh Robert: Sir Julius yang ingin warisan gelar kebangsawanan, Lady Camilla yang patah hati, kepala pelayan yang mungkin menyimpan rahasia, bahkan Profesor Bottwink yang rentan menjadi sasaran prasangka rasis.

Kecurigaan semakin kuat ketika diketahui botol racun sianida hilang dari pantry milik kepala pelayan. Ini menjadi tanda bahwa pembunuh masih berkeliaran di dalam rumah. Tak lama kemudian, sang Viscount juga meninggal—diduga akibat syok setelah mendengar kematian putranya. Kejadian makin mengerikan ketika Mrs. Carstairs ditemukan tewas dalam posisi duduk dengan secangkir teh beracun.

Penyelidikan Rogers belum membuahkan hasil, sementara bantuan polisi dari luar belum bisa datang. Di sinilah peran Profesor Bottwink menjadi penting. Dengan penjelasan sejarah panjang yang berakar pada peristiwa Inggris sejak 1789—yang bahkan membuat sebagian orang muak—ia justru berhasil mengungkap bahwa pembunuhan ini memang benar-benar “sangat ala Inggris”. Motifnya pun ternyata sederhana, namun ironis.

Pelaku sebenarnya adalah Mrs. Carstairs. Ia meracuni Robert karena merasa dihina oleh sikap Robert yang arogan dan ekstrem secara politik. Selain itu, Robert juga berencana mengubah wasiat ayahnya atau menjual aset keluarga setelah menjadi ahli waris, sesuatu yang menurut Mrs. Carstairs akan menghancurkan prestise keluarga Warbeck yang selama ini ia jaga mati-matian.

Namun ironi besar dari “pembunuhan ala Inggris” ini adalah Mrs. Carstairs tidak mengetahui adanya perubahan hukum terbaru pasca Perang Dunia II yang membuat suaminya tetap tidak bisa mewarisi gelar kebangsawanan meski Robert sudah mati. Satu orang ini bertanggung jawab atas kematian tiga orang: Robert, Viscount Warbeck (secara tidak langsung), dan dirinya sendiri. Ia akhirnya meracuni diri setelah sadar bahwa kehormatan keluarga Warbeck tetap berada di luar jangkauannya.

Novel ini benar-benar membuat pembaca terus bertanya-tanya dan meragukan tebakan sendiri, dengan nuansa misteri klasik khas “zaman keemasan” yang tradisional namun tetap memikat.

Identitas Buku

  • Judul: An English Murder
  • Penulis: Cyril Hare
  • Penerbit: Laksana
  • Tahun terbit: 2021
  • ISBN: 978-623-327-199-8
  • Tebal: 248 halaman