Kecewa? Siapa yang tidak pernah mengalami rasa kecewa dalam hidup. Semua orang pasti pernah merasa kecewa. Entah itu anak-anak, remaja dan juga dewasa. Tidak peduli apakah dia kaya atau miskin. Bahkan, tidak peduli memiliki jabatan atau hanya rakyat biasa. Semua pasti pernah merasakan kecewa dalam hidupnya.
Perasaan kecewa muncul karena gagal dalam usaha. Misalnya, anak-anak kecewa karena gagal pergi piknik dalam liburan lebaran. Remaja kecewa karena berpisah atau putus dengan pacar.
Padahal, hati sedang berbunga dan bersemangat mencoba membangun dan menjalin hubungan yang lebih serius. Orang tua kecewa karena usaha dalam mencari nafkah mengalami keterpurukan. Semua orang merasakan kecewa.
Kecewa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, ialah (1) kecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dan sebagainya); tidak senang, (2) cacat; cela, dan (3) gagal (tidak berhasil) dalam usahanya dan sebagainya.
Jadi, kecewa ialah perasaan hati yang tidak puas dan tidak senang hati karena gagal (tidak berhasil) dalam usahanya, tidak terkabul keinginannya atau harapan.
Perasaan kecewa jika dibiarkan berlarut akan menjadikan hati menjadi minder. Kecil hati dan merasa gagal dalam hidup. Rasa kecewa harus segera diatasi.
Janganlah membiarkan perasaan kecewa mendekam dalam hati. Membuat tidak memiliki semangat menjalani hidup. Untuk itu diperlukan sikap yang baik dalam menghadapi perasaan kecewa. Caranya bagaimana? Berikut 3 sikap mengatasi rasa kecewa.
1. Berdamai dengan Tuhan
Ya, berdamai dengan Tuhan. Tuhan memberikan kegagalan dan perasaan kecewa untuk bisa kita renungkan. Bisa kita introspeksi diri. Bisa merenungkan diri. Mengapa Tuhan memberikan kita perasaan kecewa?
Berdamailah dengan Tuhan dan menerima keputusan Tuhan. Kemungkinan kegagalan hari ini adalah sukses di masa depan. Perasaan kecewa kita saat ini mungkin digantikan dengan rasa senang hari esok. Maka berdamai dengan keputusan Tuhan berarti kita akan merasakan ketenangan hidup dan kedamaian diri.
2. Tetap mengucapkan syukur
Kita harus tetap bersyukur walau kita merasa kecewa. Saat kita tetap bersyukur, kita akan merasa damai dan tenang. Beban perasaan kecewa akan hilang. Rasa sedih akan sirna. Tinggal perasaan senang dan bersyukur.
Walau ada rasa kecewa, kita tetap dikaruniai Tuhan kesenangan yang lain. Misal kita gagal terbitkan tulisan di Yoursay, tapi kita masih mampu menulis lagi. Kemungkinan tulisan kita yang lain akan lolos kurasi dan terbit di Yoursay. Jadi, tetaplah mengucapkan rasa syukur walau hati kecewa.
3. Tidak mempersalahkan siapapun
Saat gagal dan keadaan hati merasa kecewa, kita tidak perlu menyalahkan siapapun. Tidak ada yang salah dalam kehidupan. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Bergerak dan berpikir bahwa hidup harus dijalani, menjadikan perasaan sedih dan kecewa sirna.
Mempersalahkan siapa pun berarti menambah masalah. Kemungkinan menjadikan kita tambah sedih dan kecewa. Untuk iu jangan pernah mempermasalahkan siapapun.
Demikian 3 sikap mengatasi rasa kecewa. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Pikir Kembali Jika Pasanganmu Berani Melakukan 5 Hal ini!
-
Usai Perayaan Lebaran, Ini Tips kembalikan pola Hidup Sehat
-
4 Cara yang Bisa Kamu Lakukan untuk Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Kasus Stunting Masih Tinggi, Bupati Cirebon Minta Semua Pihak Kerja Keras
-
Sebanyak 73 Warga Batam Gagal Berangkat ke Tanah Suci Tahun Ini karena Tak Penuhi Persyaratan Usia
Lifestyle
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator
-
Bikin Jerawat Cepat Kempes, Cek 5 Pilihan Acne Spot Gel di Bawah Rp50 Ribu
-
Kulit Tetap Kencang, Ini 5 Sunscreen Lokal SPF 50 Anti-Aging
Terkini
-
Agensi Umumkan Lee Know Stray Kids Akan Mulai Wajib Militer pada Awal 2027
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
-
Dilema Green Jobs: Solusi atas Krisis Iklim atau Ancaman Ekstraktif Baru?