Sejatinya, seseorang selalu memberikan candaan agar pendengarnya merasa terhibur dan tertawa. Begitu juga ketika orang tua bercanda kepada anak. Seharusnya orang tua bisa memberikan candaan yang membuat anak merasa terhibur, lalu tertawa.
Sayangnya, ada beberapa candaan yang memang justru membuat anak merasa tidak nyaman, takut, sakit hati, tersinggung, bahkan seolah sedang disudutkan. Bercanda yang seperti apa itu?
1. Menakut-nakuti
Gaya menakut-nakuti sering digunakan oleh orang tua untuk bercanda kepada anaknya. Namun, siapa sangka bahwa dengan menakut-nakuti anak tersebut benar-benar bisa membuat anak ketakutan. Anehnya, banyak orang tua yang merasa senang ketika anaknya ketakutan. Itu artinya candaannya berhasil, pikirnya.
Anak yang tumbuh dengan dipenuhi rasa takut akan kesulitan memulai banyak hal dalam kehidupannya. Dia akan cenderung menjadi anak yang pemilih dan sulit untuk berbaur dengan sekitar.
2. Ancaman
Pernah tidak kita mengatakan kepada anak "Kalau kamu begitu terus, nanti ibu tinggal, lho!" Tanpa kita tahu bahwa hal tersebut akan membuat anak merasa khawatir.
Pada saatnya nanti anak tahu bahwa yang dikatakan orang tuanya adalah bohong, maka akan rusak kepercayaan yang anak berikan kepada orang tuanya. Padahal, bukankah orang tualah yang seharusnya bisa menjadi tempat nomor satu untuk anak menaruh kepercayaan?
3. Bercanda tentang fisik
Orang tua biasanya menganggap bahwa membicarakan tentang fisik anak termasuk salah satu hal lucu yang bisa dia sampaikan kepada anaknya. Misalnya dengan mengatakan 'Jangan duduk di situ nanti jeblos, kan kamu gendut".
Sadarkah kita, bahwa kata gendut yang kita ucapkan akan tertanam dalam diri anak dan menjadi penghambat baginya untuk bereksplorasi. Anak akan merasa minder untuk melakukan banyak hal, karena dia merasa dirinya anak yang gendut, dan hanya akan menjadi perusak.
4. Mengancam dengan membawa nama orang lain
Banyak anak yang takut dengan dokter karena terbiasa ditakut-takuti perihal dokter sejak kecil. Misalnya "Kalau makannya gak habis, nanti di suntik pak dokter, lho!" Hal itu akan membuat anak tumbuh dengan membawa kata dokter sebagai sesuatu yang dia takuti.
Padahal, bukankah kenyataannya tidak seperti itu? Bahkan lambat laun, anak juga harus berinteraksi dengan dokter. Misalnya adalah ketika mengecek kesehatan. Ketika anak sudah terlanjur takut, maka sulit untuk membuatnya bisa berinteraksi dengan orang lain.
Itu dia 4 bercanda yang kurang baik untuk anak. Semoga bisa menjadikan kita orang tua yang lebih bijak dalam menjalani segala sesuatunya, apalagi menyangkut tentang tumbuh kembang anak.
Baca Juga
-
5 Dampak Keuangan yang Tidak Transparan: Bom Waktu dalam Rumah Tangga
-
Rumah Besar, Napas yang Sempit
-
Tepuk Sakinah Viral, Tapi Sudahkah Kita Paham Maknanya?
-
Bertemu Diri Kecil Lewat AI: Percakapan yang Tak Pernah Kita Siapkan
-
Dari Flu hingga Leptospirosis: 8 Penyakit Musim Hujan yang Harus Diwaspadai
Artikel Terkait
-
Mayat Anak Perempuan yang Dilempar Ibunya ke Sungai Ditemukan
-
5 Cara Pemilik Kos untuk Menjaga Keamanan Hunian Miliknya
-
Vincent Rompies Juara Tepok Bulu 2022, Gaya Tos dengan Anak Curi Perhatian, Ini 5 Cara Ciptakan Bonding Ayah dan Anak
-
3 Tips Mendidik Anak Lelaki Menjadi Pria Sejati, Perbolehkan Menangis!
-
Terpopuler: Pelatih Malaysia Sebut Pemain Vietnam Sakit Jiwa, Motif Penusukan Ibu dan Anak di Bekasi
Lifestyle
-
5 Look Ngampus Simpel yang Tetap Kece untuk Hangout ala Shin Hye Sun
-
4 Pelembap Probiotic Atasi Redness dan Kulit Kering untuk Skin Barrier Kuat
-
3 Pembersih Wajah Sulfur, Andalan untuk Kulit Bebas Jerawat
-
4 Milky Toner Panthenol Non-Comedogenic untuk Kulit Auto Lembap Banget!
-
4 Sepeda Lipat yang Praktis dan Nyaman untuk Aktivitas Sehari-hari
Terkini
-
Pelarangan Elephant Riding: Bukti Suara Kita Punya Impact Besar pada Alam!
-
Negara yang Sigap pada Pedagang Es Gabus, tapi Tertatih Menghadapi yang Berkuasa
-
Menemukan Sisi Manusiawi Rasulullah: Pelajaran Berharga dari Buku Tawa Tangis Para Nabi
-
Digarap Sam Raimi, Film Send Help Raih Rating 93% di Rotten Tomatoes
-
Gegara John Herdman, Kans Marselino Ferdinan Balik ke Timnas Indonesia Kembali Menipis?