Teman Sintas adalah komunitas pendampingan penyintas yang didampingi oleh Wiloka Workshop. Komunitas ini bergerak dalam penguatan dan edukasi berbasis komunitas, dengan melibatkan penyintas dan non-penyintas dalam isu kekerasan dan kesehatan mental.
Dalam perjalanannya, Teman Sintas berkembang sebagai ruang pendampingan yang terbuka bagi berbagai latar belakang. Salah satu penggeraknya, Lucia Peppy Novianti, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa komunitas ini dibangun dari pengalaman kerja pendampingan yang bersinggungan langsung dengan isu kekerasan dan perundungan, serta kebutuhan akan ruang aman yang berbasis komunitas.
Sejak 2022, Teman Sintas diarahkan menjadi komunitas daring. Perubahan ini dilakukan setelah muncul kekhawatiran dari calon anggota terkait keamanan dan kerahasiaan cerita yang dibagikan.
Dengan format daring, keterlibatan dapat dilakukan tanpa harus membuka identitas secara langsung, terutama bagi individu dengan pengalaman sensitif.
Dalam kegiatannya, Teman Sintas terlibat dalam pendampingan komunitas yang menghadapi persoalan kekerasan, salah satunyakekerasan seksual berbasis gender, khususnya yang dialami oleh remaja.
Pendampingan dilakukan melalui penguatan dan edukasi, dengan menyesuaikan pendekatan pada usia remaja serta konteks sosial remaja. Kerja ini dijalankan bersama mitra komunitas yang lebih dulu mendampingi masyarakat setempat.
Salah satu metode yang digunakan dalam pendampingan tersebut adalah photovoice. Melalui pendekatan ini, remaja diajak menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka melalui media visual.
Foto-foto yang dihasilkan menjadi sarana bercerita, sekaligus medium untuk menyuarakan pengalaman mereka dalam ruang advokasi bersama pihak-pihak terkait.
Selain pendampingan lapangan, Teman Sintas juga terlibat dalam kegiatan riset dan diskusi lintas disiplin bersama jejaring yang memiliki latar belakang psikologi dan hukum.
Kajian-kajian ini berangkat dari pengalaman pendampingan dan digunakan untuk melihat bagaimana kebutuhan psikologis, khususnya anak, dapat diperhatikan dalam berbagai proses.
Ketika Menjadi Tempat Bercerita
Dalam pendampingan sehari-hari, Peppy menekankan pentingnya sikap dasar ketika seseorang menjadi tempat bercerita.
“Yang paling dasar itu, jangan sampai kita menjadi sumber stresor baru. Kalau seseorang sudah percaya dan mau bercerita ke kita, lalu ceritanya justru kita hakimi atau kita beri nasihat secara reaktif, itu tidak aman. Yang penting adalah memastikan bahwa dia merasa aman bersama kita, bukan malah mengalami kesakitan lagi,” ungkap Peppy dalam wawancara Yoursay pada Jumat (12/12/2025).
“Yang kedua, aman juga berarti apa yang dia percayakan ke kita tetap aman di kita. Cerita itu tidak dibuka atas nama apa pun. Kalau memang perlu dibuka, itu harus dengan seizin orang yang bersangkutan.”
Peppy mengakui bahwa dua prinsip dasar tersebut tidak mudah dijalankan, terutama ketika yang bercerita adalah orang terdekat.
Dalam situasi seperti itu, respons sering kali muncul secara reaktif. Niat untuk membantu justru dapat berubah menjadi sikap yang menyakiti, meskipun tidak disadari.
Oleh karena itu, Peppy menekankan pentingnya memahami batas peran, khususnya bagi pendamping non-profesional. Menurutnya, menjadi tempat bercerita bukan berarti memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah orang lain. Anggapan bahwa pendamping atau peer counselor harus memberi solusi sering kali justru membuat batas pendampingan menjadi kabur.
Peppy kemudian menjelaskan pendekatan yang dapat digunakan dalam pendampingan awal agar relasi tetap aman bagi kedua belah pihak.
“Yang bisa dilakukan adalah Psychological First Aid. Intinya listen, look, and link. Kita dengarkan dulu secara aktif, kita lihat kondisinya, lalu membantu menghubungkan dia dengan dukungan yang dibutuhkan. Justru di situlah peran kita,” sambung Peppy.
Seiring meningkatnya perhatian publik terhadap isu kesehatan mental, Peppy juga menyoroti tantangan berupa arus informasi yang berlebihan dan kecenderungan diagnosis diri.
Menurutnya, informasi yang tidak disampaikan secara hati-hati justru berpotensi menimbulkan kebingungan dan kecemasan. Karena itu, Teman Sintas menempatkan edukasi sebagai bagian penting dari kerja komunitas, dengan bahasa yang sederhana dan tidak menghakimi.
Melalui pendampingan berbasis komunitas, kegiatan edukasi, serta keterlibatan dalam riset dan diskusi lintas disiplin, Teman Sintas terus bergerak sebagai ruang penguatan bagi penyintas.
Komunitas ini berupaya memastikan proses pendampingan dilakukan secara bertanggung jawab pada kebutuhan psikologis penyintas.
Baca Juga
-
Dari Lumpur Pantai Baros: Mengubah Aksi Tanam Mangrove Jadi Seni dan Refleksi Diri
-
Lebih dari Sekadar Angkat Senjata, Ini Cara Bela Negara di Kehidupan Sehari-hari
-
Restitusi untuk Korban Tindak Pidana Masih Sulit Direalisasikan
-
Dirut ANTAM dari Eks Tim Mawar, Negara Tutup Mata soal Rekam Jejak HAM
-
Rp17 Miliar Terkumpul, Musisi Indonesia Peduli bagi Korban Bencana
Artikel Terkait
-
Latihan Bareng Komunitas, Cara Seru Pelari Siapkan Diri Jelang Ajang Lari 2026
-
Muda, Berbudaya, dan Adaptif: Tukar Akar Hadirkan Sastra yang Lebih Inklusif
-
Dinner with Strangers: Jawaban atas Tingginya Tingkat Kesepian di Yogyakarta
-
Mengenal Neophobia: Ketika Rasa Takut pada Hal Baru Menjadi Hambatan
-
Waspada Produk Identik AHRS Tegaskan Komitmen Lindungi Kepercayaan Konsumen
News
-
Menakar Keadilan bagi Rakyat Kecil: Mengapa Permintaan Maaf Aparat Saja Tidak Cukup?
-
Jarang Diajarkan di Sekolah, Inilah 7 Soft Skill yang Bikin Kamu Cepat Dapat Kerja
-
Krisis Perlindungan Korban: Ketika Biaya Visum Tak Lagi Ditanggung Negara
-
Waspada Predator Berkedok Kreator: Bedah Kasus Konten "Sewa Pacar Satu Jam" yang Incar Anak SMA
-
Update Skandal Narkoba Korea 2026: Jurnalis Ungkap Hwang Hana Sebut Nama Figur Publik
Terkini
-
Hotel Rajawali
-
Film Kafir: Gerbang Sukma, Kembalinya Karma yang Datang Menagih Nyawa!
-
Aktor Dibalik Layar: Alexander Zwiers Disebut Tokoh Sentral Naturalisasi
-
4 Sunscreen Stick dengan Blue Light Protection, Praktis untuk Daily Use
-
Return to Silent Hill: Adaptasi Horor yang Mengecewakan dan Gagal Total!