Bisa dibilang sebagian besar orang dewasa menghabiskan waktunya di tempat kerja. Itulah kenapa tempat kerja yang nyaman sangat berpengaruh besar terhadap loyalitas karyawan.
Kendati memberikan gaji besar, tapi kalau seorang karyawan harus menghadapi lingkungan toksik tiap hari lama-lama akan berpikir untuk resign. Logikanya, untuk apa gaji besar kalau uangnya habis untuk menghilangkan stres akibat tekanan kerja karena lingkungannya toksik. Setuju?
Berikut akan diulas beberapa kondisi toksik di tempat kerja yang bikin karyawan jadi enggak betah. Seperti apa? Disimak, yuk!
1. Minim apresiasi dari atasan
Contoh pertama dari kondisi toksik di tempat kerja, adalah minim apresiasi dari atasan atau dari perusahaan. Apresiasi ini bisa dalam beragam bentuk.
Misalnya saja dalam bentuk pemberian gaji yang layak. Apresiasi bisa pula dalam bentuk sikap atasan yang ramah dan menghormati karyawannya. Hal yang paling sederhana, yaitu berterima kasih ketika karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
2. Beban pekerjaan berlebih
Kondisi toksik di tempat kerja selanjutnya, adalah beban pekerjaan yang tidak sesuai, yaitu sangat berlebih. Persoalan ini cukup sering dihadapi para karyawan, dan kerap bikin karyawan jadi stres sehingga bekerja sudah tidak lagi bikin karyawan semangat atau bahagia.
3. Rekan kerja penjilat
Kondisi toksik di tempat kerja gak hanya bisa disebabkan oleh perusahaan atau atasan, tapi bisa pula disebabkan oleh rekan kerja. Meskipun rekan kerja tidak terlibat langsung dalam pemberian gaji atau bisa dibilang tak punya otoritas, tapi tetap saja harus menghadapi orang yang menyebalkan tiap hari bikin kepala mumet.
Salah satu tipe rekan kerja yang sering bikin seorang karyawan sampai memutuskan keluar, adalah tipe penjilat. Tipe orang seperti ini akan berusaha menjatuhkan rekannya demi mengangkat reputasi dirinya sendiri.
4. Tidak memberi ruang istirahat
Ada sebagian perusahaan yang menghormati waktu libur karyawan, tapi gak sedikit yang gak peduli bahwa tiap orang butuh istirahat.
Sering ditelepon ketika sedang libur atau cuti untuk urusan kerja, sering diminta lembur saat akhir pekan, adalah contoh kondisi toksik perusahaan yang tidak memberi ruang istirahat.
Gimana, dari pemaparan di atas apakah kamu pernah mengalaminya? Menurutmu, lebih baik resign jika mengalaminya, atau tetap bertahan?
Baca Juga
-
Netflix Hadirkan Dokumenter Baru: Sisi Rentan Elvis Presley Terungkap!
-
Dokumenter 'Madaniya': Cara Mohamed Subahi Suarakan Revolusi tanpa Senjata
-
Blossom in Darkness: Drama China Romantis Horor yang Dibintangi Li Hongyi dan Sun Zhenni
-
Kabar Gembira! Aktor Song Joong-ki Umumkan Kelahiran Putri Keduanya di Roma
-
16 Tahun Vakum, Oasis Umumkan Konser Perdana di Korea
Artikel Terkait
-
4 Cara Menyikapi Surat Teguran dari Tempat Kerja, Jangan Panik!
-
3 Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Memutuskan Resign dari Pekerjaan
-
3 Perilaku Toksik dalam Hubungan Asmara yang Sering Dianggap Normal
-
3 Sikap Orang-Orang Toxic yang Harus Kita Abaikan, Jangan Masukkan ke Hati
-
4 Hal yang Perlu Kamu Terapkan agar Bisa Naik Jabatan
Lifestyle
-
4 Padu Padan Outfit Monokrom ala Seo Kang Joon, Clean dan Stylish!
-
Huawei Mate X7 Datang, Apakah Siap Jadi Raja HP Lipat?
-
Hentikan Gengsi! Begini Cara Kelola Arisan Biar Tetap Cuan di Bulan Suci
-
Dari Lapar Perut ke Lapar Mata: Kenapa Ramadan Justru Bikin Boros?
-
5 Cushion untuk Kulit Kering saat Puasa, Bikin Wajah Tetap Fresh Seharian
Terkini
-
Bertemu Lail dan Esok di Novel Hujan: Jajaran Romansa Ringan ala Tere Liye
-
BBM Aman 20 Hari ke Depan, Yakin Nggak Panik saat Mudik Nanti?
-
Book's Kitchen: Refleksi Hidup di Tengah Dunia Kerja yang Menyandera Hidup
-
Bukber Alumni Perkuliahan dan Politik Jaringan Sosial
-
Review Novel Here We Are: Kisah Persahabatan yang Diuji oleh Luka Kehidupan