Orang bisa dengan mudah memulai sesuatu target dalam sehari dengan semangat yang menggebu-gebu. Tetapi, orang yang bisa melanjutkan target yang baru dimulainya itu secara konsisten hingga tercapai hanya sedikit. Begitu banyak penyebab yang bisa jadi sudah umum terjadi dan ada yang jarang terjadi. Akan tetapi, kita bisa berusaha untuk menutup celah faktor yang sudah umum itu agar tidak menimpa kita.
Berbicara tentang konsistensi, ini berkaitan dengan bagaimana kita set-up target kita dari awal. Apakah kita bisa meraih target ini dengan kemampuan kita yang sekarang, kondisi kita yang sekarang, dan situasi kita yang sekarang. Pertimbangan itu harus dipikirkan secara matang sebelum dieksekusi karena dari situlah kita bisa memutuskan apakah bisa konsisten atau tidak.
Dalam pembahasan kali ini, saya akan membahas mengenai faktor penyebab umum yang sudah terjadi pada sebagian banyak orang yang membuat mereka sulit untuk berkonsisten. Ada 4 faktor penyebab umum orang sulit untuk berkonsisten. Mari simak pembahasannya.
1. Mental yang lemah
Faktor pertama yang sudah umum terjadi adalah lemahnya mental seseorang. Ketika di awal mungkin masih memiliki motivasi yang tinggi. Tetapi, mulai berjalan ke tengah lintasan, mulai ada rintangan berupa cemooh atau dia diremehkan oleh orang lain. Jika mental tidak kuat, otomatis akan langsung berhenti. Kita harus ingat bahwa pasti ada orang yang ingin menghancurkan mental kita karena mereka takut disaingi oleh kita. Jadi, kamu harus beranggapan bahwa orang-orang yang mencoba menurunkan motivasi kita adalah orang yang tidak bisa berada di posisi kita.
2. Belum dewasa secara pikiran
Selain mental, pikiran sendiri juga bisa menjadi musuh terberat untuk berkonsisten terhadap suatu kebiasaan. Suatu momen, kamu akan merasa keraguan yang di mana pikiranmu akan bertanya ke diri kamu apakah jika kamu melakukan ini terus menerus bisa membuat kamu sukses untuk meraih targetmu. Keraguan dalam pikiran inilah yang secara perlahan membuat kamu mundur.
Pola pikir yang harus dipasang adalah proses yang dijalankan dengan penuh perjuangan akan menentukan hasil yang memuaskan. Jika pikiran belum dewasa, kamu seperti dipenjara oleh sugesti negatif dari pikiranmu sendiri bahwa sebenarnya kamu itu tidak layak dan tidak sanggup melakukan itu secara konsisten. Hal yang bisa dilakukan untuk melawan adalah kamu harus ingat bahwa konsisten dari yang kamu lakukan memiliki dampak jangka panjang yang jauh ke depan dan itu bisa membentuk karakter kamu.
3. Mengikuti nafsu untuk mencoba hal yang besar
Satu hal yang harus dipahami adalah konsisten dilakukan bukan dengan memulai dari aktivitas yang langsung kelas berat atau besar. Karena tubuh dan pikiran kita belum sanggup mengemban aktivitas yang berat itu. Misalnya, kamu ingin memulai kebiaasan lari pagi dengan rutin setiap hari. Jika masih baru, mulailah dari lari sejauh 2 km atau 3 km. Jangan langsung mulai hingga 10 km. Jika kamu paksakan, fisikmu akan terkejut dan otomatis membuatmu berpikir bahwa itu mustahil.
4. Tidak bisa memotivasi diri sendiri
Motivasi akan besar pada awalan memulai, tetapi kamu harus menjaga motivasi kamu sampai akhir. Permasalahan kebanyakan orang adalah tidak mampu memotivasi diri ketika sudah berada di tengah jalan sehingga motivasi semakin menurun secara perlahan.
Motivasi harus diperbarui dari awal hingga akhir agar itu tetap mengecas semangat kamu. Orang tidak bisa konsisten karena mereka tidak tahu bagaimana memperbarui motivasi mereka. Jika kamu sudah bisa lari sejauh 10 km, maka kamu cari tahu motivasi apa yang sesuai untuk kamu untuk tantangan selanjutnya lari sejauh 20 km.
Pahami 4 faktor penyebab umum ini untuk tetap menjaga konsistensimu. Selamat berjuang dan semoga bermanfaat. jalani harimu dengan penuh semangat.
Video yang Mungkin Anda Suka.
Tag
Baca Juga
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?
-
Review 12 Strong: Kisah Heroik Pasukan Khusus AS Pasca Peristiwa 11/09/2001
-
Review The Recruit, Aksi Spionase Menegangkan dengan Sentuhan Humor Segar
-
AI Mengguncang Dunia Seni: Kreator Sejati atau Ilusi Kecerdasan?
-
Lebaran di Tengah Gempuran Konsumerisme, ke Mana Esensi Kemenangan Sejati?
Artikel Terkait
-
Jumlah Pemudik Turun, Rano Karno: Mungkin karena Ekonomi
-
5 Teknik Psikoterapi untuk Menangani Gangguan Mental, Ciptakan Coping Mechanism Sehat
-
Di Balik Gaun Pengantin, Luka Psikologis Pernikahan Dini
-
Ulasan Buku A Little Less Broken: Merangkai Sebuah Harapan dari Kepedihan
-
Benarkah Merokok Berlebihan Bisa Rusak Kesehatan Mental? Ini Faktanya
Lifestyle
-
4 Moisturizer dengan Cooling Effect, Segarkan Wajah di Cuaca Panas!
-
Gaya Street Style ala Moon Sua Billlie, Ini 4 Ide OOTD yang Bisa Kamu Coba!
-
4 OOTD Minimalis ala Yerin GFRIEND, Cocok untuk Gaya Harian yang Effortless
-
Penalaran Kata 'Mundhut': Sama-sama Predikat Kalimat, tapi Dilarang Ambigu!
-
Mudah Ditiru! 4 Gaya Hangout ala Bona WJSN yang Wajib Dicoba
Terkini
-
Review Anime My Stepmoms Daughter Is My Ex: Ketika Mantan Jadi Saudara Tiri
-
Novel Four Aunties and A Wedding: Pesta Pernikahan Berubah Menjadi Mencekam
-
Kembali Naik Peringkat, Timnas Indonesia Berpotensi Tempel Ketat Vietnam di Ranking FIFA
-
Review Film Broken Rage: Ketika Takeshi Kitano Menolak Bertele-tele
-
Hidup Itu Absurd, Jadi Nikmati Saja Kekacauannya