Masih ingat dengan: Ini mataku, mata kiri mataku, mata kanan mataku, mata-mata? Tadi itu adalah salah satu backsound viral di tahun 2023 yang menampilkan ekspresi mata melotot. Ah, ngomongin mata, istilah ini juga ada lho dalam Bahasa Jawa, meski kesannya agak kasar sih. Lho, jadi ada versi halusnya ya?
Ada dong! Mari kita bahas bersama-sama seputar mata ini.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mata merupakan salah satu panca indra yang digunakan untuk melihat.
Dalam Bahasa Jawa, pengucapan mata adalah moto, dan ini merupakan salah satu umpatan, makian, atau kata kotor. Variasinya bisa matane, dan matamu seperti contoh kalimat:
- Yen nggoleki barang kuwi gawe mata! (Kalau nyari barang itu pakai mata),
- Matane! Ana wong lungguh disemprot banyu (Umpatan/kata kotor! Ada orang duduk malah disemprot air),
- Matamu kuwi! Diajak koyah malah nyepelekne (Umpatan/kata kotor! Diajak bicara malah menyepelekan).
Lalu untuk percakapan sehari-hari yang lebih santai dengan kawan sebaya, bestie akrab, dan orang yang lebih muda, kita bisa menggunakan linguistik Bahasa Ngoko yaitu mripat. Contohnya bisa seperti:
- Mripatku kelilipen lebu, sepet rasane (Mataku kemasukan debu, perih rasanya),
- Wong bule mripate rupa biru (Orang bule matanya berwarna biru).
Kemudian untuk percakapan santai dengan orang tua, orang yang usianya lebih tua, atau kepada orang dengan jabatan lebih tinggi, kita bisa menggunakan linguistik Bahasa Krama yaitu netra, soca, atau paningal. Contohnya bisa seperti:
- Netranipun Mister Berg rupinipun biru (Matanya Mister Berg berwarna biru). Atau bisa diganti dengan soca maupun paningal.
Sementara itu, menurut Pepak Basa Jawa, ada beberapa istilah lain untuk mata selain yang disebutkan di atas yaitu: eksi dan aksi yang tergabung dalam materi Dasanama.
Istilah ini biasa digunakan dalam penulisan geguritan, puisi, lirik lagu, sampai tembang macapat secara turun temurun. Contohnya bisa ditemukan di salah satu tembang macapat Kinanthi berikut ini:
Anoman malumpat sampun
Prapteng witing nagasari
Mulat mangandhap katingal
Wanodya yu kuru aking
Gelung rusak wor lan kisma
Kang iga-iga kaeksi
Bisa dibilang, beda penggunaan linguistik bahasa untuk mata, kesan dan maksudnya juga berbeda. Namun, tetap lebih baik memakai bahasa yang sopan ya. So, menurutmu gimana?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Tag
Baca Juga
-
Review Embrace in the Dark Night: Sinematografi Misteri yang Niat Banget
-
Lighter and Princess: Kesetiaan & Penghianatan yang Dieksekusi Membabi Buta
-
Dr. Kims Odd Creature: Manhwa Isekai yang Bikin Ngakak Sampai Sakit Perut!
-
Neko to Kiss: Mengadopsi Kucing yang Merupakan Jelmaan Teman Satu Kelas
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
Artikel Terkait
-
Belum Tayang, 37.000 Penonton Sudah Antre Buat Nobar Film Keajaiban Air Mata Wanita
-
Ulasan Buku The Simple Dollar: Membuka Mata Tentang Arti Keuangan Sejati
-
Esensi Holopis Kuntul Baris, Gotong Royong dan Ajang Bertukar Pendapat!
-
4 Eyelash Serum untuk Bulu Mata Lentik dan Lebat, Tak Ada Lagi Rontok!
-
Polri Rahasiakan Informasi Pengadaan Gas Air Mata, ICW: Jelas Mengada-ada dan Bertentangan dengan Prinsip Transparansi
Lifestyle
-
ASUS Dawn 7 Pro Resmi Meluncur, Laptop Ryzen AI dengan Layar 144Hz dan Performa Kencang
-
VW ID. Buzz dan Cara Volkswagen Merawat Warisan VW Kombi di Era Listrik
-
Harga Rp12 Jutaan, Xiaomi 17T Pro Masih Layak Disebut Flagship Killer?
-
Unik dan Modis! 4 Rekomendasi Tabi Shoes Brand Lokal yang Wajib Dilirik
-
Anti-Boring! 4 OOTD Modern Edgy Classic ala Sooin MEOVV yang Mudah Disontek
Terkini
-
Haru, Putri Tablo Epik High, jadi Lyricist untuk Lagu Utama Terbaru RIIZE
-
Menjelajah Luka Sejarah dan Birahi Cinta dalam Buku Manjali Karya Ayu Utami
-
Review Novel Cahaya Teduhan Luka: Saat Dosa Orang Lain Menjadi Beban Hidup
-
Materialists: Film dengan Refleksi Mendalam tentang Nilai Cinta yang Sejati
-
Memburu Rahasia Dibalik Jutaan Dolar Warisan Sang Hakim di Buku The Summons