Banyak orang menunda niat umrah dengan alasan ingin melakukannya di usia matang. Takut jika diri ini masih terlalu banyak dosa untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci. Padahal, siapa yang bisa menjamin semakin tua kita tak lagi berbuat dosa?
Padahal, justru saat masih muda, fisik kita tentu lebih kuat untuk menghadapi rangkaian ibadah yang berat. Lebih sedikit kekhawatiran akan kesehatan dan digitalisasi, yang tentu akan membuat perjalanan ibadah ini bisa dijalani dengan lebih khusyuk dan menyenangkan.
Berikut 6 alasan logis yang bikin kamu makin yakin untuk umrah di usia muda!
1. Penerbangan Panjang yang Butuh Ketahanan Fisik dan Mental
Perjalanan dari Indonesia ke Jeddah memakan waktu cukup lama. Sekitar 10 jam untuk penerbangan tanpa transit, dan bisa mencapai 14-15 jam jika transit. Dan selama perjalanan, jamaah harus siap menghadapi antrean panjang, ruang tunggu bandara, hingga rasa lelah membawa barang. Belum lagi tantangan seperti makanan yang tidak cocok atau mabuk pesawat. Saat muda, daya tahan tubuh dan mental jauh lebih kuat untuk menghadapi kondisi ini tanpa banyak keluhan.
2. Adaptasi dengan Digitalisasi Arab Saudi
Arab Saudi kini semakin modern dengan penerapan sistem digital di berbagai aspek ibadah. Mulai dari aplikasi Nusuk untuk mendaftar masuk Raudhah, hingga sistem administratif elektronik yang mengharuskan jamaah beradaptasi dengan teknologi. Semua dilakukan mandiri lewat ponsel. Bayangkan jika mata sudah buram dan tangan gemetar, tentu akan lebih sulit mengurusnya. Karena itu, di usia muda kamu bisa belajar cepat, adaptif, dan lebih mandiri menjalankan semua proses digital dengan mudah.
3. Rangkaian Ibadah yang Menguras Energi
Thawaf tujuh kali putaran di sekitar Ka'bah, dilanjutkan dengan sa’i yang jaraknya mencapai hampir 3,5 kilometer antara bukit Safa dan Marwah — semua membutuhkan stamina luar biasa. Selain itu, jamaah juga harus tetap tenang di tengah ribuan orang yang berdesakan. Jika tubuh tidak fit, ibadah bisa terganggu oleh rasa lelah, dehidrasi, atau bahkan panik. Makanya, mumpung masih muda, latih kekuatan kaki (leg day) sejak sekarang agar tidak kewalahan di Tanah Suci.
4. Cuaca Ekstrem yang Menuntut Daya Tahan Tubuh
Arab Saudi dikenal dengan suhu yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 46°C di musim panas. Kondisi ini tentu jauh berbeda dengan panas di Indonesia. Tubuh muda lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan cuaca ekstrem, apalagi jika kamu menjaga asupan air dan makan dengan bijak. Jangan sampai lapar mata membeli minuman dingin berlebihan hanya karena tergoda cuaca panas. Bisa-bisa malah sakit tenggorokan dan dehidrasi.
5. Kesempatan Umrah Mandiri Sepuasnya
Biasanya, paket umrah dari travel hanya menyediakan dua kali umrah. Namun, jika kamu masih muda dan punya energi lebih, kamu bisa melakukan umrah tambahan secara mandiri. Selama tahu aturan dan lokasi miqat, kamu bebas melakukannya kapan pun. Bahkan jika stamina mendukung, kamu bisa melakukan umrah beberapa kali dalam sehari. Ini tentu bakalan jadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan.
6. Trip Solo yang Penuh Makna
Perjalanan umrah rata-rata berlangsung lebih dari seminggu. Hal ini tentu membuat kita punya banyak waktu luang untuk menjelajahi tempat bersejarah di sekitar Makkah dan Madinah. Mulai dari Jabal Uhud, Masjid Quba, Jabal Khandamah, Jabal Kudai, Jabal Nur, Jabal Rahmah, hingga kebun kurma dan museum Islam. Trip semacam ini tak hanya menambah wawasan, tapi juga memperdalam makna perjalanan spiritualmu.
Ditambah lagi, sekarang Arab Saudi melegalkan umrah mandiri bagi penerbangan transit. Umroh hanya butuh 4-6 jam aja kok. Jadi, meski tujuan kita Turki, Dubai, atau negara lain. Kalau kita transit di Jeddah cukup lama, kita bisa mengisi waktu dengan umroh.
Mulai dari naik turun lift hotel yang bisa sampai lantai 60, keliling kota sambil belajar dan belanja, menikmati tiap perjalanan yang harusnya secara logika bakal capek, tapi tubuh dan energi masih sangat memadai. Yakin nih masih ragu buat indah di usia muda?
Baca Juga
-
Buku Yang Terhormat Bapak Saya: Antologi Kisah tentang Sisi Terapuh Manusia
-
Di Balik Persaingan Ketat dan Banyaknya Jalur Masuk ke Perguruan Tinggi
-
Seni Mengatur Hati di Buku You Are What You Think, You Are What You Believe
-
Aku Demam di Bumi yang Sakit
-
Warisan Kelam 1965: Mengapa Nalar Kritis Publik Indonesia Masih Terbelenggu?
Artikel Terkait
-
Inara Rusli Jalani Co-Parenting dengan Virgoun, Pesannya Simpel tapi Ngena!
-
Dari Lulusan SMA, Bisa Kuliah Gratis dan Umrah: PNM Apresiasi Garda Terdepan Pemberdayaan Masyarakat
-
Berapa Perbedaan Biaya Umrah Mandiri vs Travel? Kini Dilegalkan Negara
-
Biaya Haji Tahun 2026 Ditetapkan Rp87 Juta, Wamenhaj: Harusnya Naik Rp2,7 Juta
-
2 Kali Gagal Berangkat, Tangisan Papham Pecah Saat Ivan Gunawan Hadiahi Umrah Bareng Sahabat
Lifestyle
-
4 Moisturizer dengan Kandungan Kafein, Bantu Jaga Nutrisi Kulit
-
5 Look Daily Outfit ala Lomon untuk Aktivitas Sehari-hari
-
10 Resep Buka Puasa Praktis Pakai Mahsuri Sachet, Cocok Dicoba di Rumah
-
Merasa Gaya Hidup Sudah Eco Friendly? 5 Kebiasaan Ini Ternyata Keliru
-
4 Serum Butylresorcinol, Solusi Cepat Bikin Kulit Cerah Bebas Noda Hitam
Terkini
-
Pemulihan Aceh Pascabencana: Ini Suara untuk Negara yang Lambat Bertindak!
-
4 Film Korea Tayang Februari 2026, Comeback Choi Woo Shik hingga Zo Insung
-
Sparks of Tomorrow Siap Tayang Juli, Pencarian Buku Katalog Listrik Dimulai
-
3 Drama Korea Bertema Hukum yang Tayang di Awal Tahun 2026, Terbaru Honour
-
Sinopsis Mercy, Film Thriller yang Mengungkap AI Jadi Hakim Keadilan