Dunia kencan pada tahun 2026 semakin menyerupai labirin yang membingungkan. Di satu sisi, kita memiliki akses tanpa batas untuk bertemu orang baru melalui aplikasi, tetapi di sisi lain, kita semakin takut untuk memberikan nama pada sebuah perasaan.
Muncullah istilah situationship—sebuah kondisi ketika dua orang terlibat dalam kedekatan emosional dan fisik layaknya pasangan, namun tanpa label, tanpa komitmen, dan tanpa kejelasan masa depan. Fenomena ini dibedah secara kritis dalam artikel ilmiah berjudul "Escaping the Situationship: Understanding and Addressing Modern Relationship Ambiguity Among Young Adults" yang diterbitkan dalam Pacific University International Interdisciplinary Journal (PUI-IJ).
Jurnal tersebut menyoroti bagaimana ketidakjelasan status ini bukan sekadar tren, melainkan bentuk ambiguitas hubungan modern yang berdampak serius pada kesejahteraan psikologis orang dewasa muda.
Mengapa generasi sekarang seolah “alergi” terhadap label?
Secara kritis, kita dapat melihat bahwa situationship adalah produk dari masyarakat yang terobsesi pada kebebasan individu. Kita ingin menikmati manisnya kasih sayang, perhatian di malam hari, dan teman kencan pada akhir pekan, tetapi kita menutup pintu rapat-rapat terhadap konsekuensi dari sebuah komitmen. Ini adalah bentuk egoisme romantis: kita ingin memiliki seseorang tanpa benar-benar ingin dimiliki. Status "jalani saja dulu" telah bergeser dari sekadar fase perkenalan menjadi sebuah zona nyaman yang manipulatif dan melelahkan mental.
Masalah utama dari situationship bukan terletak pada ketiadaan labelnya, melainkan pada asimetri harapan yang sering kali disembunyikan. Jarang sekali ada dua orang yang benar-benar sepakat untuk berada dalam wilayah "tanpa status" selamanya. Biasanya, ada satu pihak yang diam-diam berharap hubungan ini berevolusi menjadi komitmen, sementara pihak lainnya hanya menikmati fasilitas "layanan pasangan" tanpa sedikit pun niat untuk menetap.
Di sinilah letak kekejamannya. Situationship sering kali menjadi tempat persembunyian bagi mereka yang memiliki masalah keterikatan (attachment issues) atau mereka yang hanya ingin mengoleksi validasi emosional tanpa mau membayarnya dengan kesetiaan. Secara psikologis, menjalani hubungan tanpa status dalam jangka panjang adalah resep mujarab untuk menghancurkan harga diri sendiri.
Bayangkan, Anda memberikan segalanya—waktu, energi, pikiran, bahkan kerentanan emosional—kepada seseorang yang secara legal dan sosial bisa pergi kapan saja tanpa merasa perlu memberikan penjelasan. Karena perlindungan di balik tameng "kan kita tidak pacaran," secara otomatis tidak ada kewajiban untuk setia, tidak ada kewajiban untuk hadir di saat sulit, dan ironisnya, Anda tidak memiliki hak untuk merasa cemburu. Ini adalah bentuk eksploitasi emosional modern yang dibalut dengan narasi "santai" dan "tidak mau ribet."
Selain itu, tren ini mencerminkan bagaimana konsumerisme telah merambah ke wilayah paling privat dalam kehidupan manusia. Kita memperlakukan manusia layaknya katalog di lokapasar; selalu ada opsi yang lebih baik, selalu ada yang lebih menarik, maka geser ke berikutnya. Akibatnya, banyak individu takut berkomitmen pada satu orang karena merasa akan kehilangan peluang pada “stok” lain yang mungkin lebih menguntungkan. Situationship adalah cara kita untuk tetap berada di pasar kencan sambil tetap memastikan kenyamanan hubungan. Kita menjadi generasi yang kaya akan pilihan, namun miskin akan kedalaman dan ketulusan.
Jika kita terus meromantisasi hal ini dengan dalih "menjalani hidup apa adanya," kita sebenarnya sedang membangun peradaban yang dangkal dan penuh kemiskinan emosional. Hubungan yang sehat membutuhkan landasan keamanan, dan keamanan hanya lahir dari sebuah kejelasan. Tanpa keberanian untuk menentukan status, kita hanya akan berakhir sebagai sekelompok jiwa yang haus validasi namun takut terluka, yang terus berputar dalam siklus perkenalan tanpa pernah sampai pada tujuan kedewasaan emosional yang sejati.
Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi kesalahan massal ini. Jika seseorang cukup dewasa untuk menikmati waktu, perhatian, dan kedekatan fisik Anda, mereka seharusnya sudah cukup dewasa untuk memberikan kepastian posisi. Jangan biarkan diri Anda terjebak dalam "ruang tunggu" emosional bernama situationship. Sebab, pada akhirnya, hubungan tanpa nama hanyalah sebuah cara halus bagi seseorang untuk mengatakan bahwa Anda tidak cukup berharga untuk diperjuangkan secara resmi di depan dunia.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Antara Sayang dan Sakit: Mengapa Orang Tetap Bertahan dalam Hubungan Toxic?
-
Lebih dari Sekadar Cocok, Ini Ciri-ciri Pasangan yang Sefrekuensi
-
4 Zodiak yang Terlahir sebagai Mak Comblang, Paling Jago Menjodohkan Orang!
-
5 Cara Sederhana Membangun Kepercayaan Diri Menurut Psikologi
-
Membangun Kepercayaan Diri Sebagai Reduksi Rasa Takut
Lifestyle
-
Praktis dan Hemat! 6 Rekomendasi Bundle Lipstik Ombre untuk Daily Makeup
-
4 Moisturizer Gel Rawat Kulit Berminyak Ampuh Redakan Kemerahan dan Jerawat
-
4 Peeling Gel Salicylic Acid untuk Eksfoliasi dan Atasi Bruntusan di Wajah
-
4 Ide Outfit Rok ala Bae Suzy, Feminin Banget!
-
Murah Tapi Niat: 5 Speaker PC 100 Ribuan dengan Kualitas Terbaik
Terkini
-
Menjaga Pesisir Sumbawa Melalui Ekowisata Mangrove Nanga Sira Desa Penyaring
-
NCT Wish Bintangi Variety Show, Mulai Petualangan Baru di 'ON THE MAP'
-
Ini Dia Upaya Pemerintah Atasi Bencana Pulau Sumatra
-
Ketika Bencana Memutus Jalan dan Pulihnya Jembatan Jadi Penyambung Kehidupan
-
Krisis Hunian Generasi Z dan Harapan Punya Rumah yang Sulit Tergapai