M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi pertemanan (Pexels.com/Pavel Danilyuk)
e. kusuma .n

Belakangan, istilah alpha female, beta female, sampai sigma female makin sering muncul di media sosial. Banyak yang merasa, “Kok, ini gue banget?”, tetapi tak sedikit juga yang salah paham dan mengira pembagian ini soal siapa yang paling dominan atau paling keren.

Padahal, tipe kepribadian perempuan ini bukan tentang hierarki nilai, melainkan pola cara berpikir, bersikap, dan berelasi. Setiap tipe punya kekuatan dan tantangannya sendiri. Yuk, kenali satu per satu dengan versi yang lebih relevan dengan realitas perempuan masa kini.

1. Alpha Female: Pemimpin Alami yang Tahu Apa Maunya

Alpha female sering diasosiasikan dengan tipe kepribadian perempuan yang identik dengan pemimpin alami dan tahu apa maunya. Sosok ini punya kepercayaan diri yang tinggi, tegas, cenderung ambisius, dan tidak takut mengambil keputusan.

Di dunia kerja atau pertemanan, alpha female biasanya tampil dominan secara natural dan memiliki energi yang kuat. Mereka nyaman mendapat spotlight dan tidak ragu menyuarakan pendapat.

Namun, di sisi lain, si alpha ini kerap dianggap intimidating meski sebenarnya mereka hanya jujur dan lugas. Bagi Gen Z, alpha female sering terlihat sebagai sosok boss energy yang inspiratif.

2. Beta Female: Hangat dan Empatik

Kepribadian beta female sering ditangkap lewat sosoknya yang hangat dan empatik hingga disukai banyak orang. Mereka memang dikenal sebagai pribadi yang mudah berempati, suportif, fleksibel, dan pandai menyesuaikan diri.

Mereka jarang ingin jadi pusat perhatian, tetapi sering jadi “penjaga harmoni” di lingkaran sosial. Beta female yang ramah dan jauh dari kesan intimidatif mampu jadi pendengar yang baik serta cenderung menghindari konflik.

Namun, sayangnya ada kesan kalau mereka jadi sering mengalah terlalu jauh, bahkan sampai lupa pada kebutuhan sendiri. Banyak Gen Z perempuan berada di fase beta saat sedang belajar batasan diri.

3. Omega Female: Introver, Dalam, dan Punya Dunia Sendiri

Tipe kepribadian selanjutnya adalah omega female, sosok independen yang suka pada kebebasan, kreativitas, dan cenderung cuek pada status sosial. Meski terkesan dominan, sebenarnya omega female termasuk sosok introver.

Tidak jarang juga omega female sering disalahpahami sebagai sosok yang lemah hanya karena lebih nyaman menyendiri. Padahal, justru mereka sangat mandiri secara emosional, tidak haus validasi, dan kaya refleksi batin.

Mereka tidak tertarik bersaing atau membuktikan diri. Dunia internalnya kuat, meski sering dianggap “pendiam”. Di era Gen Z yang serba bising, omega female justru tampil sebagai sosok yang tenang, autentik, dan anti drama.

4. Sigma Female: Mandiri dan Misterius

Sigma female sering disebut sebagai lone wolf versi perempuan. Karakteristiknya sering terlihat sebagai sosok independen, tidak butuh validasi sosial, tetapi tetap punya aura yang kuat di balik sisi misteriusnya.

Mereka cenderung selektif dalam relasi, bahkan lebih nyaman berjalan sendiri. Tidak butuh panggung atau pengakuan, sigma female tetap merasa kuat tanpa harus terlihat dominan. Sayangnya, banyak orang memandang sigma female sebagai sosok yang dingin atau sulit didekati.

5. Gamma Female: Kompeten, tetapi "Si Paling Lowkey"

Gamma female adalah tipe yang idealis, kreatif, dan rasional hingga sering terlihat kompeten dalam bidang apa pun di mata orang lain. Tidak heran kalau mereka juga memiliki sisi kepribadian yang terus ingin berkembang.

Meski kompeten, gamma female tetap dikenal tidak suka mendapat sorotan. Di sisi lain, mereka punya empati tinggi dan perasaan yang dalam, tetapi sering terjebak dalam konflik batin saat mulai overthinking karena sangat peduli pada hubungan emosional.

Dalam kehidupan Gen Z yang penuh tekanan mental, gamma female sering berada di garis depan perjuangan kesehatan mental, baik sebagai pejuang maupun penyintas.

6. Delta Female: Realistis, Tenang, dan Low Profile

Last but not least, ada si delta female yang stabil, realistis, tidak suka drama, dan lebih memilih fokus pada hidupnya sendiri. Mereka tidak mengejar spotlight, dikenal low profile di kehidupan sosial, dan konsisten menjalani hidup.

Delta female juga sering dikenali sebagai sosok tulang punggung, baik di keluarga, pekerjaan, maupun komunitas. Kekuatannya ada pada ketenangan dan konsistensi. Tantangannya, ia sering diremehkan karena terlalu “biasa”, padahal justru paling tahan banting.

Semua Tipe Itu Valid

Sebenarnya, tidak ada tipe kepribadian perempuan yang lebih unggul dari yang lain. Bahkan, banyak perempuan berada di persimpangan beberapa tipe kepribadian, tergantung pada fase hidup, pengalaman, dan lingkungan.

Ada alpha di pekerjaan, tetapi omega di relasi. Di sisi lain, ada beta yang sedang belajar jadi sigma atau malah gamma yang tumbuh jadi delta. Perubahan ini wajar dan sehat, sebab yang penting bukan labelnya, melainkan kesadaran diri dan cara bertumbuh.

Di dunia Gen Z yang penuh tuntutan, mengenali pola diri akan jadi langkah penting untuk membantu kita lebih menerima diri sendiri, tidak memaksakan standar orang lain, dan membangun relasi yang lebih sehat.

Jadi, kamu tidak perlu berubah jadi tipe lain agar dianggap “kuat”. Karena kekuatan hadir dalam banyak bentuk dan semuanya sah, meski akan ada kecenderungan tipe kepribadian tertentu yang lebih dominan.