Melansir laporan dari American Psychological Association mengenai manajemen emosi, kondisi fisik yang lelah dan kadar gula darah yang menurun secara drastis saat berpuasa dapat memperlemah fungsi kendali diri di otak (prefrontal korteks), yang membuat seseorang menjadi lebih reaktif dan mudah tersulut emosi negatif.
Fenomena ini sering kali menjadi tantangan terbesar bagi saya sebagai seorang ibu pekerja sekaligus manajer rumah tangga, terutama saat memasuki "jam ajaib" menjelang berbuka puasa. Bayangkan saja, di satu sisi saya harus berpacu dengan waktu menyiapkan menu takjil di dapur, namun di sisi lain mata saya harus menyaksikan ruang tengah yang tiba-tiba berubah menjadi "kapal pecah" karena mainan anak-anak yang berserakan.
Rasanya, tumpukan cucian dan remah-remah makanan di lantai itu seolah-olah berteriak memancing amarah saya keluar, tepat di saat perut sedang keroncongan dan energi berada di titik nadir.
Namun, Ramadan tahun ini mengajarkan saya sebuah perspektif baru tentang bijak berkonsumsi, yang ternyata tidak hanya soal mengatur uang belanja, melainkan tentang bagaimana saya mengonsumsi—atau dalam hal ini, mendistribusikan—energi kesabaran saya. Saya mulai menyadari bahwa marah-marah kepada anak karena rumah berantakan hanya akan menguras energi yang seharusnya saya simpan untuk ibadah tarawih. Bijak berkonsumsi versi saya adalah dengan sengaja "berpuasa marah".
Saya belajar untuk tidak mengonsumsi ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap kerapian rumah selama bulan suci ini. Jika rumah berantakan berarti anak-anak sedang asyik bermain dan tidak bisa menunggu adzan maghrib, maka biarlah lantai itu penuh mainan untuk sementara. Saya memilih untuk menguras emosi saya daripada harus meledak dan akhirnya menyesal saat duduk di meja makan nanti.
Siasat cerdas yang saya terapkan agar tetap zen adalah dengan mengubah cara pandang saya terhadap kekacauan tersebut. Alih-alih melihat mainan yang berserakan sebagai beban tambahan, saya mencoba melihatnya sebagai tanda bahwa rumah saya "hidup" dan penuh berkah.
Saya juga mulai melibatkan anak-anak dalam ritual persiapan buka puasa yang sederhana, seperti menaruh sendok di meja atau memetik daun bayam, sehingga mereka merasa menjadi bagian dari tim dan bukan "pengganggu" kesibukan ibu. Dengan memberikan tanggung jawab kecil kepada mereka, saya tidak perlu lagi berteriak menyuruh mereka diam. Inilah bentuk investasi emosional jangka panjang; saya meluangkan lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan lembut, dan hasilnya adalah suasana rumah yang jauh lebih tenang dan hangat.
Selain itu, saya juga menanamkan "detoks ekspektasi" pada diri saya sendiri. Saya berhenti memaksakan diri untuk menjadi ibu yang sempurna dengan rumah yang selalu kinclong ala katalog furnitur setiap hari. Jika memang saya merasa sangat lelah, saya tidak segan mengajak anak-anak membereskan mainan bersama-sama sambil mendengarkan selawat atau lagu anak Islami, menjadikannya sebuah permainan yang menyenangkan daripada sebuah perintah yang kaku.
Menahan amarah saat puasa ternyata memberikan dampak kesehatan mental yang luar biasa bagi saya dan anak-anak. Saya merasa lebih ringan, tidak mudah pusing, dan yang paling penting, anak-anak tidak takut untuk mendekat saat saya sedang menyiapkan hidangan.
Esensi kemenangan di hari raya bukan hanya terletak pada kebersihan rumah atau kemewahannya menu lebaran, melainkan pada ketenangan hati yang berhasil kita jaga selama tiga puluh hari penuh. Bijak berkonsumsi energi sabar adalah kunci agar hubungan saya dengan anak-anak tetap harmonis meski ujian rasa lapar melanda.
Ternyata, "puasa marah" jauh lebih menantang daripada sekadar menahan haus, namun hasilnya jauh lebih manis daripada es buah mana pun di meja makan. Bagaimana dengan Moms di rumah? Apakah meja dapur yang berantakan masih mampu membuat Moms "mokel" secara emosional, atau Moms sudah punya cara jitu sendiri untuk tetap tenang menjelang bedug maghrib? Yuk, kita saling menguatkan agar tabungan sabar kita tidak zonk sebelum Idulfitri tiba!
Baca Juga
-
Benarkah Sakit Itu Tabu? Fenomena Seorang Ibu yang Tidak Boleh Sakit
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Nestapa Minyak Jelantah Hitam Pekat demi Menyelamatkan Dompet yang Sekarat
-
Mimpi Buruk Saya sebagai Ibu Rumah Tangga yang Tak Punya Jaminan Hari Tua
-
Berhentilah Menyiksa Rekening Bank demi Validasi Semu Geng Sosialita
Artikel Terkait
-
Apakah Tukar Uang Baru di Pinggir Jalan Termasuk Riba? Ini Penjelasannya
-
Kapan Malam Lailatul Qadar Ramadan 2026? Ini Prediksi Tanggalnya di 10 Malam Terakhir
-
Begini Cara Pembatalan Tiket Kereta Api Online, Simak Detailnya!
-
Piala Dunia Tarawih: Antara Tim 7 Menit Kelar vs Tim Satu Juz Sampai Pagi
-
Menu Sahur Hemat dan Bergizi: 4 Olahan Telur yang Satset dan Ramah Kantong
Lifestyle
-
5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula saat Slow Jogging
-
Bye Kulit Kusam! 4 Masker Hydrogel Korea dengan Kandungan Niacinamide yang Bikin Wajah Glowing
-
5 Rekomendasi Cushion Berformula Skin-Like untuk Pancaran Alami Kulit Wajah
-
Naik Transportasi Umum: Langkah Kecil Menuju Green Transportation
-
Bye Surburn! 4 Sunscreen Ini Lindungi Kulit Anak dari Terik Sinar Matahari
Terkini
-
Ironi Makan Bergizi Gratis: Mengapa Daerah 3T Masih Dianaktirikan?
-
Gelar Sarjana vs AI: Menagih Aksi Pemerintah Atasi Krisis Kerja Gen Z
-
Kenapa Pindah ke Transportasi Umum Itu Investasi Buat Bumi?
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
AIESEC in UNJ Sukses Selenggarakan AFL Summer Peak, Cetak Pemimpin Muda Berdampak Sosial