Lifestyle

Kisah Ayu Rianna, Penulis yang Jadikan Kebaya sebagai Outfit Keseharian

Kisah Ayu Rianna, Penulis yang Jadikan Kebaya sebagai Outfit Keseharian
Penulis fiksi dan kreator konten Ayu Rianna berpose di balik tumpukan ratusan eksemplar novel karyanya yang berjudul “Daisy”. (Foto: Instagram/Ayu Rianna)

Di tengah riuhnya tren fashion anak muda, Ayu Rianna justru menemukan caranya sendiri untuk tampil. Kebaya menjadi pakaian yang dikenakannya dalam keseharian, termasuk ketika sedang duduk santai di coffee shop sambil mengobrol dan merekam aktivitas untuk media sosial.

Bagi Ayu, kebaya bukan kostum untuk menghadiri acara tertentu. Pakaian tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya sebagai penulis novel sekaligus content creator. Tim Yoursay.id menemui Ayu di Kopi Kolonjono, Condongcatur, untuk mengulik cerita di balik identitasnya sebagai “penulis berkebaya”.

Berawal dari Promosi Novel

Julukan “penulis berkebaya” ternyata tidak lahir dari strategi branding yang dirancang sejak awal. Identitas itu muncul secara tidak sengaja ketika Ayu menggunakan media sosial untuk mempromosikan karya-karya novelnya.

Karena kebaya memang menjadi pakaian sehari-hari, pakaian yang dikenakannya ketika membuat konten buku pun otomatis kebaya. Lama-kelamaan, perhatian audiens justru bergeser dari karya ke pakaian yang dikenakannya.

“Yang ditanyakan bukan cuma ‘Ayu sekarang lagi nulis apa?’ atau ‘lagi punya karya apa?’, tapi juga ‘Ayu bajunya beli di mana?’, ‘Kebayanya merek apa?’, ‘Harganya berapa?’,” ujar Ayu ketika diwawancarai tim Yoursay.id.

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, identitas “penulis berkebaya” terbentuk dengan sendirinya. Kebaya yang semula hanya menjadi pakaian sehari-hari kemudian ikut melekat pada citra Ayu sebagai penulis.

Melawan Stigma, Membangun Percaya Diri

Bagi Ayu, tantangan mengenalkan kebaya kepada anak muda berawal dari cara pandang terhadap pakaian itu sendiri. Kebaya kerap ditempatkan sebagai busana wisuda, undangan, atau acara formal.

Menurutnya, kebaya perlu kembali dilihat sebagai bagian dari budaya yang dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Rasa bangga terhadap budaya sendiri menjadi langkah awal sebelum kebaya bisa terasa relevan bagi generasi muda.

“Tidak perlu takut dan tidak perlu malu, mari kita pakai kebaya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ayu.

Pada awal mengenakannya setiap hari, Ayu mengaku sempat minder. Ia kerap mendapat pertanyaan seperti, “Mbak, habis acara atau kontenan dari mana?” Kekhawatiran terlihat terlalu heboh membuatnya sempat merasa tidak percaya diri.

Kini, situasinya berubah. Sekitar 70 sampai 80 persen isi lemarinya merupakan kebaya. Seiring kebiasaan tersebut, pertanyaan orang-orang pun bergeser menjadi apresiasi. “Mbak, bajunya bagus beli di mana?” menjadi pertanyaan yang lebih sering ia dengar.

Kampanye dari Keseharian hingga Novel

Ayu memilih cara yang sederhana untuk mengenalkan kebaya. Ia memakainya secara jujur dalam keseharian, lalu membagikan pengalaman tersebut melalui media sosial.

Saat berada di coffee shop, misalnya, ia merekam obrolan santai menggunakan kebaya dan membagikannya melalui Instagram Story. Dari praktik sederhana itu, beberapa temannya justru mengaku ikut tertarik mengenakan kebaya.

“Lihat kamu pakai kebaya jadi pengen ikut pakai juga,” ujar Ayu mengutip respons teman-temannya.

Kampanye tersebut juga ingin ia lanjutkan melalui karya fiksi. Novel-novel Ayu yang telah terbit memang belum mengangkat kebaya sebagai tema utama. Namun, ia berencana membuat novel pop bertema kebaya untuk memperkenalkan budaya tersebut melalui jalur lain.

Proses menulisnya sendiri tidak sebentar. Ayu terbiasa melakukan riset selama berbulan-bulan dengan menemui komunitas dan orang-orang yang memiliki profesi tertentu. Ia meminta izin sebelum mengangkat pengalaman mereka ke dalam naskah.

Di tengah proses panjang itu, Ayu memegang satu prinsip bahwa “Naskah yang baik adalah naskah yang selesai.”

Pada akhirnya, pesan Ayu tidak berhenti pada kebaya. Sebagai penulis, ia berharap masyarakat semakin rajin membaca, bahkan untuk hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, membaca pesan berantai WhatsApp secara saksama dapat membantu seseorang membedakan hoax dan fakta. Membaca berita juga tidak cukup hanya dari judulnya.

“Semoga kebaya dan wastra Nusantara bisa terus lestari, selalu ada, dan terus dipakai oleh masyarakat Indonesia,” pungkas Ayu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda