Meramban atau mencari tanaman liar yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan memang terdengar menarik. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun untuk memanfaatkan hasil alam sebagai ketahanan pangan. Tetapi, apakah kamu pernah bertanya-tanya, bagaimana orang-orang zaman dulu bisa tahu kalau bayam liar, antanan, atau sintrong aman dikonsumsi?
Ternyata, aktivitas ini tidak bisa dilakukan dengan asal memetik dan mencicipi tanaman yang terlihat menarik. Pasalnya, warna, bentuk daun, atau aroma tertentu tidak selalu bisa menjadi tanda bahwa sebuah tanaman aman untuk dimakan. Lalu, apa ciri-ciri tanaman liar yang aman dikonsumsi? Bagaimana cara mengenalinya?
1. Petik Tanaman yang Memang Sudah Diketahui
Langkah pertama dan yang paling aman adalah memastikan kamu sudah mengetahui nama dan ciri tanaman yang akan dipetik. Kamu bisa menggunakan panduan, sumber terpercaya, atau bertanya kepada orang yang memang berpengalaman mengenali tanaman liar.
Kalau identitas tanaman masih meragukan, sebaiknya jangan dikonsumsi. Lebih baik melewatkan satu tanaman daripada mengambil risiko mengonsumsi tumbuhan yang belum diketahui keamanannya.
2. Perhatikan Apakah Tanaman Itu Dimakan Hewan atau Tidak
Saat meramban, kamu mungkin melihat burung, serangga, atau hewan lain memakan tanaman tertentu. Ini bisa jadi salah satu kemungkinan bahwa tanaman tersebut terbebas dari racun berbahaya. Hal ini juga merupakan naluri yang dilakukan sejak zaman nenek moyang saat bertahan hidup di tengah hutan.
Namun, tanaman yang bisa dikonsumsi hewan tidak selalu menjamin keamanannya. Ada beberapa perbedaan dalam pencernaan manusia dan hewan yang mungkin menjadi faktor cocok atau tidaknya suatu bahan makanan dikonsumsi. Jadi, tetap kenali jenis tanaman dan pastikan keamanannya sebelum mengonsumsi.
3. Cicipi untuk Mencoba Rasa, Aroma, dan Tekstur
Kalau kamu sudah sering meramban dan ingin mencoba tanaman liar lain yang belum pernah kamu coba, kamu harus memastikan rasa dan bentuk fisik dari tanaman tersebut. Kamu bisa gigit sedikit daun atau buah yang kamu temukan tetapi jangan sampai tertelan.
Pastikan permukaan daun atau daging buah tidak menunjukkan tekstur yang tidak biasa. Selain itu, perhatikan apakah ada rasa yang mengganggu, seperti rasa pahit atau sensasi yang tidak biasa. Di samping rasa, pastikan tidak muncul gejala seperti mulut gatal atau iritasi saat mencicipi.
4. Hindari Tanaman dengan Fisik Mencolok
Saat meramban, kamu mungkin menemukan tanaman dengan warna, bentuk, atau tampilan yang terlihat berbeda dari tanaman lain. Tanaman yang memiliki warna atau bentuk yang mencolok memang terlihat menarik.
Tetapi perlu diingat bahwa bisa saja itu menjadi mekanisme pertahanan alami. Hal ini juga menjadi pertanda untuk hewan dan manusia agar bisa membedakan dengan mudah mana tanaman yang aman dan beracun. Misalnya seperti kecubung dengan buah berdurinya atau jamur liar yang memiliki warna cerah mencolok.
5. Tanaman Tumbuh di Tempat Bersih
Setelah memastikan jenis tanamannya, jangan lupa memperhatikan tempat tanaman tersebut tumbuh. Tanaman liar yang berada di lingkungan yang tercemar bisa terpapar berbagai zat yang membuatnya tidak aman untuk dikonsumsi, meskipun jenis tanamannya sebenarnya dapat dimakan.
Kamu harus berhati-hati untuk tidak meramban di tempat pembuangan limbah, saluran air yang tercemar, atau lahan yang berpotensi terkena pestisida dan bahan kimia lainnya.
Meramban memang bisa menjadi cara menarik untuk mengenal tanaman dan memanfaatkan sumber pangan yang ada di sekitar kita. Namun, keamanan tetap harus menjadi hal utama. Kenali jenis tanamannya, perhatikan tempat tumbuhnya, dan pastikan bagian yang diambil memang aman untuk dikonsumsi. Pernah coba meramban?
Baca Juga
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
-
5 Rekomendasi Drakor Komedi dengan Humor Absurd, Dijamin Bikin Ngakak!
-
5 Bahan Makanan Tradisional yang Kini Mendunia, Ada Matcha hingga Ube!
-
Rasisme di Like a Winding Sheet: Siapa yang Salah, Siapa yang Kena Marah?
-
Padmaavat: Saat Perempuan Memilih Lenyap daripada Jatuh ke Tangan Lelaki
Artikel Terkait
-
Gibran Makin Rajin Muncul di Krisis MBG, Respons Pemerintah atau Bangun Citra Politik?
-
Apakah Korban Keracunan MBG Bisa Menuntut Jalur Hukum? Ini Hak dan Langkahnya!
-
Keracunan MBG: Antara Kelalaian, Pengawasan, dan Tanggung Jawab Pidana
-
Langkah Gibran Sambangi Korban MBG Disebut Belum Selesaikan Masalah, Cuma Cari Panggung Politik?
-
Langkah Empati Wapres Gibran Harus Diiringi Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis
Lifestyle
-
4 Sunscreen Beta Glucan Kunci Kulit Terhidrasi dan Skin Barrier Anti-Rusak
-
4 Pore Clear Pad Eksfoliasi Wajah agar Pori-Pori Bersih dan Lawan Bruntusan
-
Fenomena Information Overload: Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Minim Jeda
-
Bukan Earbud Biasa, Baseus MC2 NC Bawa ANC dan Baterai 60 Jam
-
Asus ProArt P16 dan P14 Rilis dengan RTX Spark, Seganas Apa Performanya?
Terkini
-
Review Empat Musim Pertiwi: Pulang untuk Melawan Luka dan Stigma
-
Ketika Jatuh Cinta Berubah Jadi Dilema: Menyelami Kepedihan 'I LIKE U' Karya NIKI
-
Variety Show Mr. Trot 4 Tayang Desember, Ini Jajaran Pengisi Acaranya
-
Ulasan Film Hasut: Teror Horor Psikologis yang Menguji Paranoia dan Realita
-
BITCH X RICH Hadirkan Spin-Off Tayang 2027, Ini Para Pemeran Utamanya