Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sempat hilang dari muka publik selama beberapa minggu ketika Covid-19 masuk ke Indonesia. Kejadian ini terjadi setelah beliau mengatakan hal kontroversi seperti bebasnya Indonesia dari virus corona karena banyaknya doa masyarakat.
Menkes Terawan juga sempat mengabaikan pendapat ahli dari Harvard University yang mengatakan bahwa seharusnya sudah masuk ke Tanah Air. Ketika masyarakat melakukan panic buying, secara mengejutkan pemerintah menunjuk juru bicara khusus dalam penanganan corona. Melihat hal tersebut membuat masyarakat meragukan kepemimpinan dari beliau dalam menangani Covid-19.
Berbicara mengenai kepemimpinan dapat kita lihat definisi dari Yukl. Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang mampu berkontribusi demi efektifitas dan keberhasilan sebuah organisasi (Yukl, 2009).
Membahas kepemimpinan tidak terlepas dari karisma sebuah pemimpin. Karisma diperlukan dalam memimpin untuk menjadi daya tarik dalam mempengaruhi kontribusi seseorang dalam mendukung tujuan organisasi.
Berdasarkan definisi tersebut kita dapat melihat kurangnya karisma dalam diri Menkes Terawan. Seorang pemimpin yang berkarisma dapat terlihat dari kemampuan berkomunikasinya dalam mempengaruhi orang lain.
Kurangnya kemampuan berkomunikasi dari Menkes Terawan dapat kita lihat dari munculnya juru bicara dalam pemberian informasi mengenai Covid-19. Hal ini terlihat seperti kurang mampunya beliau dalam memberikan informasi dan mempengaruhi masyarakat dalam mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan.
Hilangnya Menkes Terawan di muka publik juga menjadi salah satu bukti kurangnya sifat kepemimpinan beliau. Beliau menghilang ketika masyarakat membutuhkan informasi yang tepat mengenai kasus Covid-19 di Indonesia. Kelakar beserta menghilangnya beliau seakan menghindari masalah dan tidak mencerminkan seorang pemimpin yang baik.
Covid-19 seharusnya dapat menjadi pembelajaran bagi Menkes Terawan atas kurangnya pengalaman sebagai pemimpin. Pengambilan tindakan yang cepat dan tepat, kemampuan mempengaruhi orang lain, serta mampu menerima masukan dari pihak luar dibutuhkan oleh seorang pemimpin.
Artikel Terkait
-
Amarah Wali Kota Risma dari Sudut Pandang Kepemimpinan
-
Kewalahan Tangani Pasien Corona, RSU Soetomo Minta Tambahan Tenaga Medis
-
Gaya Kepemimpinan Ganjar Pranowo dalam Menangani Covid-19 di Jawa Tengah
-
Kepemimpinan Visioner Nova Iriansyah dalam Penanganan Covid-19 di Aceh
-
Inilah Cara Wali Kota Tri Rismaharini Membangun Kepercayaan Masyarakat
News
-
Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS: Apakah Ini Saatnya Panik atau Investasi?
-
Stop Jadi Martir Sosial! People Pleaser itu Bukan Orang Baik, Justru Merugikan Loh
-
Biaya Editing hingga Mic Rp0, Fakta di Balik Kasus Videografer Amsal Sitepu
-
8 Cara Menghidupkan HP yang Mati Total Tanpa Tombol Power dan Volume
-
Fakta Hukum Mengejutkan: Mengapa Menteri Korupsi, Presiden Tetap 'Kebal Hukum'?
Terkini
-
Suara yang Memanggil dari Dunia yang Tidak Pernah Ada
-
Warisan Leluhur Negeri Tirai Bambu: 88 Kisah yang Bikin Kamu Lebih Bijak
-
Nasib Apes Pemain Diaspora: Main di Belanda tapi "Dibekukan" Gara-Gara Paspor WNI?
-
Saat Opini Media Sosial Dianggap Lebih Valid dari Sains: Selamat Datang di Era Matinya Kepakaran
-
Riyadus Shalihin: Teduhnya Oase Spiritual di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia