Kebudayaan Jawa memiliki beberapa mitos yang terkait dengan pantangan yang berkembang di masyarakat secara turun-temurun. Mungkin dari beberapa mitos ini terdengar tidak masuk akal, namun kali ini mari bersama disimak pesan dan asal-usul di baliknya.
1. Pantangan menikah di bulan Muharram (Suro)
Bulan Suro (atau bulan Muharram dalam kalender Islam) adalah bulan pertama, sekaligus bulan yang disucikan oleh masyarakat Jawa, bahkan jauh sebelum masuknya Islam ke tanah Jawa. Bulan ini dipenuhi berbagai perayaan dan upacara yang disiapkan dan dirayakan secara bersama-sama.
Oleh karena itu, masyarakat Jawa menganggap sebaiknya untuk tidak melaksanakan upacara pernikahan pada bulan ini agar esensi bulan Suro tidak hilang.
2. Pantangan menikahkan dua mempelai dengan rumah yang saling berhadap-hadapan
Pantangan menikahkan dua mempelai dengan rumah yang saling berhadap-hadapan dimaksudkan agar masing-masing dari keluarga calon mempelai tidak saling curiga dan ingin ikut campur urusan keluarga pasangan calon mempelai sebelum waktunya.
Rumah yang saling berhadapan akan menimbulkan rasa ingin tahu yang berlebih terhadap kehidupan keluarga pasangan, dan tentunya akan mengganggu keharmonisan.
3. Menikahkan anak pertama dengan anak ketiga bakal langgeng
Bagi masyarakat Jawa, anak pertama adalah anak yang dididik keras supaya menjadi tulang punggung keluarga, sehingga mereka akan memiliki sifat yang keras dan cenderung mendominasi. Sedangkan anak ketiga cenderung dimanja dan penurut.
Kedua sifat ini akan saling melengkapi dan bakal harmonis dalam rumah tangga. Sebaliknya jika anak pertama dinikahkan dengan anak pertama, maka akan saling berebut kekuasaan, dan jika anak terakhir dinikahkan dengan anak terakhir juga maka akan saling mengalah.
4. Menikahkan Mempelai Berdasarkan Weton
Masyarakat Jawa meyakini bahwa Weton kelahiran mempengaruhi energi bawaan yang menjadi karakter. Sehingga ada beberapa karakter yang saling cocok dan ada yang saling berlawanan. Contohnya anak yang lahir pada hari Senin Kliwon memiliki sifat yang cocok dengan anak yang lahir pada Sabtu Kliwon.
Nah, itu dia penjelasan singkat mengenai asal-usul dan pesan di balik mitos dalam Pernikahan masyarakat Jawa. Bagi kamu yang masih meyakini tidak perlu khawatir dan menjadikan ini hambatan, melainkan menjadi pertimbangan dan refleksi untuk melihat karakter pasanganmu!
Baca Juga
-
Kenapa Cuma di Indonesia Artis Pindah Agama Dijadikan Komoditas Berita?
-
Mengintip Surga Laptop Second Jogja yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Rantau
-
Modal Rp7 Juta Bisa Dapat Motor Gahar Apa? Ini 5 Rekomendasi Paling Gagah
-
Tips Ngabuburit dari Buya Yahya: Menunggu Berbuka tanpa Kehilangan Pahala Puasa
-
Mengenal Orang Tua Alyssa Daguise: Calon Besan Ahmad Dhani Ternyata Bukan Sosok Sembarangan
Artikel Terkait
News
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
-
Merawat Syiar Islam Berkemajuan: Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua di Fakfak
-
Ancaman El Nino 2026: Luas Area Terindikasi Terbakar Capai Tiga Kali Lipat Daratan Jakarta
-
Pariwisata Maju, Lalu Lintas Mundur: Sisi Gelap di Balik Viralnya Situ Kamojing Cikampek
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
Terkini
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
"The Rock from the Sky" dan Pelajaran tentang Berani Menghadapi Perubahan
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?