Tepat hari Minggu (23/1/2022) kemarin, organisasi Technology Computer Study Club (TCSC) Majene melaksanakan program kerjanya yang bertajuk Study Tour di desa Napo, kecamatan Limboro, Polewali Mandar. TCSC Majene selama ini biasa dikenal dengan lembaga yang bergerak di bidang Informasi Teknologi (IT). Namun, itu anggapan yang keliru dan sebenarnya tidak hanya sebatas menjalankan program kerja yang berpatok pada komputer maupun media sosial saja.
Seperti dengan organisasi pada umumnya, bahwa TCSC Majene akan terus berupaya untuk mengembangkan dan menambah pengetahuan kadernya, sebagai bagian dari tanggungjawab organisasi. Mengisi pengetahuan kader bukan hanya secara intelektual. Namun, perilaku dan emosional juga tak kalah penting yang harus diwujudkan oleh lembaga kemahasiswaan. Ya, dan salah satunya dengan pengenalan nilai-nilai kebudayaan kepada kader-kader di organisasi.
Maka sangat tepat, program Study Tour merupakan salah satu program yang dapat mengenalkan etika budaya kepada para kader organisasis, terlebih dapat mengenal kehidupan dan perjuangan para pendahulu.
Sekitar jam 11 lebih, waktunya siang kala itu. Kami dari organisasi TCSC Majene dapat tiba di rumah papak Muli. Papak Muli sendiri merupakan salah satu tokoh masyarakat yang masih bergaris keturunan dari para pemangku adat pada zaman kerajaan Balanipa pertama yakni raja Todzilaling.
Kebetulan dalam Study Tour itu, lebih mengarah pada pengenalan tokoh dan sejarah raja Todzilaling. Mungkin tidak asing terdengar, dan tentu nama raja Todzilaling dapat dijumpai namanya di beberapa buku dan situs internet. Beliau dikenal sosok raja yang pemberani dan jujur sejak ia memimpin sebagai seorang raja pertama di kerajaan Balanipa.
Papak Muli sebagai pemantik dan pemberi wejangan terkait dengan sosok raja Todzilaling. Sehingga memantik bagi kami untuk berbincang hangat dengan beliau. Banyak pesan-pesan yang telah disampaikan oleh beliau, mulai dari etika hingga pengaruh budaya luar kepada generasi sekarang.
Papak Muli sapaan akrabnya, juga tak henti-hentinya berpesan kepada kami untuk terus mengusahakan dan membiasakan berperilaku sebagai orang Mandar. Satu pesan dari beliau yang masih tersimpan di benak pikiran saya, tidak masalah kita berperilaku menunduk asalkan menusuk. Artinya apa, meskipun bersikap rendah hati tetapi benar, itulah salah satu perilaku orang-orang Mandar.
Tentu tidak hanya itu pesan-pesan yang disampaikan oleh papak Muli. Ada banyak lagi pesan yang disampaikan, tetapi tak bisa tertuang semua dalam tulisan ini. Intinya bahwa kegiatan Study Tour mesti dapat terus dilestarikan dan lebih diperdalam lagi, semangat antusias untuk menggali dan mengetahui sejarah perlu terus didorong.
Namun, terakhir pesan dari papak Muli yang sering diulang juga, jangan malu untuk berbahasa Mandar. Meskipun jaman semakin modern, namun pesan beliau jangan sampai budaya kita terkikis oleh budaya luar.
Usai perbincangan bersama papak Muli di rumah kediamannya, kegiatan kembali dilanjutkan dengan mengunjungi langsung makam raja Todzilaling. Deretan tangga pun kami lalui untuk menuju ke sana, hingga dari kami pun ada yang merasa capek untuk menaiki tangga dengan alunan secara normal. Salah satu juga penjelasan dari papak Muli, kenapa makam raja Todzilaling dimakamkan di bukit. Pasalnya, raja pada waktu itu ingin ditinggikan derajatnya. Ya, memang terbukti bahwa setiap makam kerajaan di tanah Mandar ini, selalu berada di bukit.
Suasana yang sangat indah dan nyaman di tempat itu, di makam raja Todzilaling. Angin terus berhembus merasuki kulit-kulit kami, bahwa seakan sampai terasa pada tulang-tulang. Aroma yang sangat berbeda dengan tempat-tempat lain, sehingga seakan berasa bahwa kami akan lama-lama ditempat itu.
Sudut-sudut kami mulai pandangi, termasuk pohon besar dan tua yang berada di puncak itu. Kata dari papak Muli, bahwa pohon itu tumbuh ketika raja Todzilaling dimakamkan yang berada di tengah makam raja Todzilaling. Memang terlihat angker dan sudah sangat tua pohon itu. Besarnya pun tak ada yang menyaingi dengan pohon-pohon sebagaimana pernah saya lihat sebelumnya.
Selain itu, etika juga mesti dijaga di tempat itu, termasuk dilarang ribut, membuang sampah sembarangan, dan harus membuka alas kaki jika sudah masuk dalam lingkungan makam raja Todzilaling. Banyaklah pengetahuan dan pengalaman tambahan yang didapatkan, semoga saja Study Tour seperti demikian terus diupayakan, dan terlebih mampu mengaktualisasikan keilmuan yang sudah didapatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tag
Baca Juga
-
Hari Raya Idul Fitri, Memaknai Lebaran dalam Kebersamaan dan Keberagaman
-
Lebaran dan Media Sosial, Medium Silaturahmi di Era Digital
-
Ketupat Lebaran: Ikon Kuliner yang Tak Lekang oleh Waktu
-
Dari Ruang Kelas ke Panggung Politik: Peran Taman Siswa dalam Membentuk Identitas Bangsa
-
Menelisik Sosok Ki Hajar Dewantara, Pendidikan sebagai Senjata Perlawanan
Artikel Terkait
-
Kepulauan Seribu: Dulu Tempat Healing Anak Kost, Kini Jadi Surga Wisata Mewah
-
Apakah Jumat Agung Libur Nasional? Cek Daftar Tanggal Merah April 2025
-
Libur Lebaran? 5 Kolam Renang Terbaik di Karanganyar Ini Wajib Dicoba
-
8 Destinasi Wisata di Cilacap, Banyak Spot Instagramable
-
6 Rekomendasi Tempat Wisata di Dieng, Nuansa Alam Penuh History
News
-
Kode Redeem Genshin Impact Hari Ini, Hadirkan Hadiah Menarik dan Seru
-
Pasar Literasi Jogja 2025: Memupuk Literasi, Menyemai Budaya Membaca
-
Bukan Hanya Kembali Suci, Ternyata Begini Arti Idulfitri Menurut Pendapat Ulama
-
Contoh Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa yang Menyentuh dan Memotivasi
-
Hikmat, Jamaah Surau Nurul Hidayah Adakan Syukuran Ramadhan
Terkini
-
Review Novel 'TwinWar': Pertarungan Harga Diri di Balik Wajah yang Sama
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia Kembali Gendong Marwah Persepakbolaan Asia Tenggara
-
Ulasan Webtoon Our Secret Alliance: Perjanjian Palsu Ubah Teman Jadi Cinta
-
Pemain PC Kini Bebas dari PSN! Sony Ubah Kebijakan Akun PlayStation
-
Timnas Indonesia, Gelaran Piala Asia dan Bulan April yang Selalu Memihak Pasukan Garuda