Menjadi bagian dari generasi sandwich itu rasanya seperti menjadi selembar roti tawar yang sedang ikut lomba tarkam: ditekan dari atas, dijepit dari bawah, dan kalau hancur, kita juga yang disalahkan karena dianggap kurang "bertekstur".
Di atas ada orang tua yang mulai sering masuk angin dan butuh biaya berobat, di bawah ada anak yang minta beli mainan edukasi tapi harganya nggak masuk akal. Sementara kita yang di tengah? Cuma bisa pasrah jadi selai yang lumer karena tekanan ekonomi.
Mau teriak capek, eh, takut dibilang durhaka. Mau curhat soal saldo rekening yang tinggal digit terakhir nomor HP, takut dianggap nggak bersyukur sama Tuhan. Akhirnya, banyak dari kita yang memilih diam, kerja lembur bagai kuda, sambil sesekali memandangi foto liburan orang lain di Instagram sebagai satu-satunya bentuk healing yang gratis.
Istilah sandwich generation ini sebenarnya keren di nama doang, tapi praktiknya bikin dada sesak. Biasanya menyerang mereka yang ada di usia 25 sampai 50 tahun. Katanya sih, ini usia produktif. Tapi kenyataannya, ini adalah usia di mana kita lebih sering memikirkan cicilan motor, uang SPK anak, dan tagihan BPJS orang tua ketimbang memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Di fase ini, hidup nggak lagi tentang "mengejar mimpi", tapi tentang "gimana caranya supaya besok nggak telat bayar listrik".
Bayangkan seorang ibu muda yang baru pulang kerja, harus langsung mikir stok susu anak yang mau habis. Belum sempat duduk, orang tuanya telepon minta diantar ke rumah sakit karena asam urat kumat. Di titik ini, dompet bukan cuma makin tipis, tapi mental juga makin aus. Stres dan kelelahan emosional akhirnya jadi menu sarapan harian yang lebih konsisten daripada bubur ayam depan kompleks.
Lalu, muncul pertanyaan yang biasanya diucapkan oleh mereka yang hidupnya terlalu tenang: "Ini semua salah orang tua yang egois, ya?"
Duh, jawabannya nggak semudah bikin mi instan. Kita harus paham kalau orang tua kita dulu hidup di zaman yang beda. Mereka nggak kenal aplikasi pengatur keuangan atau seminar investasi saham. Mereka tumbuh di era di mana akses pendidikan terbatas dan kesehatan itu barang mewah.
Mereka bertahan hidup dengan cara manual, bukan dengan perencanaan pensiun ala influencer keuangan yang sering fyp di TikTok. Jadi, menyalahkan mereka sepenuhnya itu rasanya kurang adil, meski dampaknya memang harus kita yang tanggung.
Namun, memahami masa lalu bukan berarti kita boleh pasrah mengulanginya. Di sinilah tugas berat kita sebagai generasi yang "terjepit". Kita punya PR besar: gimana caranya supaya anak-anak kita nanti nggak perlu merasakan "sesak" yang sama. Caranya? Ya, jangan sampai kita jadi orang tua yang menjadikan anak sebagai dana pensiun di masa depan.
Ini dimulai dari hal yang paling dasar: keputusan menikah. Di zaman sekarang, menikah bukan cuma modal cinta atau biar punya foto aesthetic buat diunggah di media sosial. Menikah itu soal kesiapan mental dan, yang paling penting, kesiapan finansial.
Kalau kita menikah dalam kondisi "ngos-ngosan" secara ekonomi, besar kemungkinan kita akan menggantungkan hidup pada banyak pihak, termasuk menjadikan anak sebagai gantungan harapan finansial di masa tua. Padahal, anak itu titipan, bukan instrumen investasi yang bisa dicairkan saat kita sudah nggak produktif lagi.
Selain itu, kita perlu berdamai dengan konsep dana pensiun dan asuransi. Di lingkungan kita, menyiapkan dana pensiun sendiri sering dianggap tabu, seolah-olah kita nggak percaya anak bakal mengurus kita nanti. Padahal, dengan menyiapkan dana pensiun sejak dini, kita sebenarnya sedang memberikan kado terindah buat anak kita: yaitu kebebasan. Kebebasan agar mereka bisa mengejar mimpinya tanpa perlu merasa berdosa karena nggak bisa membantu biaya hidup orang tuanya secara penuh.
Jangan lupa soal kesehatan. Sehat itu investasi, bukan sekadar bonus dari Tuhan. Satu penyakit serius di masa tua bisa menghanguskan tabungan seumur hidup dalam sekejap, atau lebih parahnya, memindahkan beban utang ke pundak anak. Investasi di layanan kesehatan itu bukan gaya-gayaan, tapi bentuk tanggung jawab agar kita tidak merepotkan orang lain di kemudian hari.
Pada akhirnya, urusan generasi sandwich ini bukan soal siapa yang paling menderita atau siapa yang paling salah. Ini soal siklus hidup yang harus kita potong rantainya. Kita belajar dari keterbatasan orang tua kita, lalu berusaha sedikit lebih keras agar generasi setelah kita bisa bernapas lebih lega. Karena sejujurnya, hidup ini sudah cukup melelahkan tanpa harus ditambah beban merasa bersalah karena terjepit di tengah pesanan "sandwich" yang sebenarnya nggak pernah kita pesan sejak awal.
Baca Juga
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Jangan-jangan Ini Jawabannya
Artikel Terkait
Kolom
-
Dapur, Sumur, dan Kasur: Benarkah Peran Perempuan Hanya Sebatas Itu?
-
Membeli karena Butuh atau FOMO? Refleksi Gaya Hidup Gen Z di Era Konsumtif
-
Robohnya Pilar Keadilan di LCC MPR RI: Saat Juri Gagal Menjadi Teladan
-
Glow Up atau Tekanan Sosial? Saat Perempuan Dipaksa Selalu Terlihat Sempurna
-
Upaya Saya Merebut Kembali Makna Membaca di Tengah Gempuran Distraksi
Terkini
-
Ulasan The WONDERfools: Serial Komedi Aksi dengan Twist Y2K yang Inovatif!
-
Bye Jerawat di Badan! 4 Acne Body Soap Lokal dengan Harga Mulai Rp24 Ribu
-
Kentut Kosmopolitan: Catatan Nakal tentang Jakarta ala Seno Gumira Ajidarma
-
Gaya Lebih Menarik! 4 OOTD Athleisure ala Keonho CORTIS yang Patut Dilirik
-
Keluar dari SM Entertainment, Ten NCT Resmi Luncurkan Label Baru 'illimnt'