Setiap desa yang ada di Indonesia ini tentu memiliki potensinya masing-masing, ada yang berpotensi di bidang pertanian, peternakan, perikanan, bahkan potensi desa wisata atau desa budaya. Di antara banyaknya potensi desa tersebut menjadi keberagaman dan ciri khas masing-masing tiap desa. Sehingga tidak heran kalau ada argumen membangun Indonesia berangkat dari membangun desa.
Sama halnya dengan desa lain, desa Todang-Todang, yang letaknya di kecamatan Limboro, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, juga memiliki banyak sumber daya alam meskipun belum bisa terkelola dengan baik. Selain potensi pembuat gula merah dan kakao, potensi pohon jati pun bisa dibilang masih banyak bersemayam di desa Todang-Todang.
Peruntukan pohon jati tentu sangat banyak, pohon jati yang ada di desa Todang-Todang juga banyak digunakan untuk pembuatan rumah oleh masyarakat setempat, termasuk digunakan untuk tiang rumah. Selain itu juga banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk membuat kursi, meja, maupun lemari yang memang terbuat dari kayu. Mengingat ketahanan kayu jati amat bagus dan memang sangat estetik untuk pemanfaatan seperti itu.
Kayu jati yang ada di desa Todang-Todang masih banyak dijumpai di lahan masyarakat, tetapi pohon jati tersebut memang satu komunitas berada di lahan yang sudah disediakan, mengingat tanaman yang tumbuh di bawah pohon jati tentu akan sulit berkembang karena pasti terlindungi. Sehingga penempatan pohon jati di desa Todang-Todang memang satu rumpun dan biasanya berada di dekat-dekat gunung, karena masyarakat Todang-Todang kadang memanfaatkan lahannya yang dekat dengan perkampungan untuk pertanian seperti kakao atau tanaman jangka pendek.
Selain pemanfaatan pohon jati untuk keperluan warga masyarakat Todang-Todang, pohon jati juga kadang dijual kepada orang yang di luar dari desa Todang-Todang dengan harga sesuai dengan pasaran. Sehingga kayu jati tersebut juga dapat menambah potensi penghasilan bagi masyarakat desa Todang-Todang. Biasanya kayu jati yang dijual itu berbentuk bantalan yang memang langsung dijual banyak kepada pedagang kayu. Terkait dengan harga, kayu jatilah menjadi termahal dari setiap harga kayu yang ada di desa Todang-Todang.
Meskipun ketersediaan pohon jati di desa Todang-Todang sudah mulai berkurang, tetapi potensi tersebut masih bisa diandalkan sebagai kebutuhan hidup masyarakat Todang-Todang, terlebih dapat menambah perekonomian masyarakat. Apalagi kalau ditelisik pada daerah lain justru ketersediaan pohon jatinya sudah ada yang habis, itulah mengapa pohon jati di desa Todang-Todang mesti tetap dijaga agar tidak punah dan tetap bisa dinikmati oleh generasi pelanjut dari warga desa Todang-Todang. Selain itu, pohon jati juga dapat menjadi potensi yang dapat dilirik oleh daerah lain bahkan dapat menjadi cikal bakal dan ciri khas suatu desa.
Tag
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Persediaan Melimpah, Sulawesi Barat Bersiap Suplai Pangan ke IKN Nusantara
-
Selain Gula Merah, Desa Todang-Todang Juga Memiliki Potensi Tanaman Kakao
-
BRIN Dukung Penuh Peningkatan Ekonomi Masyarakat
-
Walau Ayah Ibu Produksi Gula Merah, Tapi Saya Memilih Tidak Melanjutkannya
-
Pengelolaan Hutan Pantai Bali Lestari sebagai Sumber Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan
News
-
Merasa Bersalah Kalau Lagi Istirahat? Saatnya Belajar Seni Memberi Jeda Lewat Tulisan Reflektif
-
Mengenal TRIPTIS: Ruang 'Haha-Hihi' Buat Dewasa Muda yang Mulai Kehilangan Teman Nongkrong
-
Unik! Festival Musik 'Padepopan: Sweet Escape' Siap Guncang Terminal Jatijajar Depok
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'
Terkini
-
Penuh Ambisi! BoyNextDoor Siap Raih Masa Depan Cerah di Lagu Animal
-
Skenario Sang Jenderal: Runtuhnya Tembok Kebohongan Ferdy Sambo
-
Skin Barrier Kuat! 4 Moisturizer Aman Dipakai Kulit Kering Pasca Eksfoliasi
-
Novel Zero Byte: Ketika Deadline Skripsi dan Perjodohan Datang Bersamaan
-
Plot Twist Mengejutkan di 'The Handmaiden', Ketika Cinta Sesama Jenis Jadi Simbol Perlawanan