Di Yogyakarta, baru saja berlangsung Pameran Moda-Modif. Tepatnya dilaksanakan di Galeri Rumah DAS. Tema pameran "Moda-Modif" menggambarkan keberanian kaum muda dalam menciptakan perubahan, menantang norma, dan menyuarakan ide-ide progresif melalui karya seni. Pameran ini merefleksikan semangat generasi muda yang adaptif, kreatif, dan penuh vitalitas.
Pameran Moda-Modif berlangsung selama tiga minggu, dari tanggal 20 Desember 2024 hingga 11 Januari 2025. 17 seniman muda yang berasal dari tiga kelompok, terlibat dalam pameran kali ini.
Karya-karya dari 17 seniman beragam dan unik. Pasalnya, karya tersebut fokus pada objek pemuda yang selalu bergerak untuk menciptakan sebuah peristiwa, terutama di bidang seni.
Rohman (Ketua Pameran Moda Modif) menjelaskan bahwa pelaksanaan Pameran Moda-Modif merupakan pameran perdana ia dan teman-teman yang dilakukan di galeri.
“Sebagai mahasiswa yang masih di semester 5, tentunya merasakan membuat sebuah pameran pertama kali dan di luar kota kampus kita belajar yaitu Universitas Negeri Sebelas Maret, menjadi kesempatan untuk membuat ruang-ruang dalam mengeksplorasi seni melalui sebuah pameran," kata Rohman dalam acara pembukaan.
Pameran Moda-Modif juga menjadi salah satu dari tantangan yang diberikan oleh Ibu Dyan Anggraini sebagai pemilik galeri kepada mahasiswa, agar tahu bagaimana sebenarnya seni di tangan seorang pemuda.
Pameran Moda-Modif turut disambut baik oleh Achmad Fiqhi W.D selaku Direktur Rumah DAS. Ia sepakat jika seni rupa baik sebagai modal pun motif sangat dinamis dan organik, hal tersebut begitu kental di Yogyakarta.
Achmad Fiqhi W.D menjelaskan, “sejatinya semangat itulah yang diniatkan hadir di tengah-tengah kita melalui tajuk ‘Moda Modif’. Sebuah kata yang mampu meringkus ekspresi “muda dan bergerak”, yang tentu tidak sekadar tawaran “matemtis” (usia dan jumlah peserta), berkat ketepatan kurator merangkum seluruh instrument yang disumbang-sajikan para peserta,”.
Melalui hal tersebut Hilmi Reyhan dan Polanco S. Achri (Kurator Pameran Moda-Modif) menuturkan, “Sangatlah menarik ketika terma muda ini dilihat dalam kasus seniman. Seniman muda seringkali berada dalam situasi dilema; karena muda di sini disamaartikan dengan awam dan belum berpengalaman. Pameran MODA-MODIF ingin menunjukkan, bahwa seniman muda memiliki serangkaian modal berupa daya, tenaga, dan keinginan untuk bereksplorasi. Dari sana, gerak sebagai tema menjadi penting untuk diperhatikan.”
Pameran Moda-Modif ini merupakan hasil uraian dari ide-ide liar dari kurator yang selalu muncul setiap kali sesi diskusi selama kurang lebih dua bulan sebelum terlaksana. Hal ini diciptakan sebagai suatu siasat dan membuat sebuah pameran sebagai titik kritis dan batu loncatan ke pameran lain, sehingga tidak berhenti di sini namun akan berlanjut ke ruang yang lebih besar.
Pameran Moda-Modif dibuka secara resmi oleh FX. Harsono (Seniman) dengan penyerahan secara simbolis karya grafis milik Andi Firda kepada beliau. FX. Harsono juga ikut memberikan sudut pandangnya mengenai anak muda dan dunia seni, menurutnya melihat pameran ini merupakan sebuah kebanggan tersendiri karena selain merupakan pameran perdana bagi para seniman dan penyelenggara yang terlibat, peristiwa ini juga memberikan sebuah kesempatan bagi seniman muda untuk terus mengeskplorasi seni. Jika mungkin kurang memuaskan, maka di situlah seninya, bagaimana cara untuk melakukan improvisasi setelahnya.
Tidak hanya menyuguhkan karya seni, Pameran Moda-Modif juga menghadirkan berbagai aktivitas dan kolaborasi interaktif bersama Pasar Setupon, WIKITI, dan berbagai komunitas yang dirancang untuk membuat ruang atau wadah antara seniman dan audiens, seperti:
- Artist Talk & Tur Kuratorial: Diskusi dan penjelasan karya seni langsung dari para seniman dan kurator, sehingga memberikan pengalaman yang berbeda dalam menikmati sebuah karya seni.
- Aktivasi Ruang Baca: Membaca buku bersama sekaligus berdiskusi tentang seni dan budaya, ruang ini untuk siapa saja dari berbagai kalangan dan umur, bertujuan untuk membuat seni dan budaya lebih dekat menggunakan basis literasi.
- Aktivasi bersama Komunitas: Pasar seni dan kerajinan lokal di halaman Rumah DAS yang menciptakan wadah serta ruang yang beragam, sehingga tidak hanya terkotak pada seni saja namun penikmat seni juga bisa mendapatkan praktik lokakarya melalui komunitas.
Adapun harapan dengan diadakannya Pameran Moda-Modif ini bisa menciptakan ruang seni yang lebih luas dan membuat sebuah loncatan seni yang diciptakan oleh anak muda. Mampu merefleksikan semangat dan bagaimana anak muda membuat peristiwa seni secara orisinal dengan kreativitas mereka.
Baca Juga
-
4 Milky Toner Mengandung Ceramide yang Ampuh Perkuat Skin Barrier
-
Di Balik Retorika Perang Narkoba: Ketimpangan Hukum dan Celah Struktural
-
Ramadan dan Kesempatan Kedua: Momentum Reset Diri yang Sering Terlupakan
-
Potret Pengungsi Perang Suriah dalam As Long as the Lemon Trees Grow
-
Menanti Tuhan yang Diam: Pergulatan Iman dalam Silence Karya Shusaku Endo
Artikel Terkait
-
Lintas Batas Komunitas Gelar Pameran Seni Rupa di Museum Monjali
-
Toxic Till the End: Mengurai Hubungan Beracun ala Rose Blackpink
-
Kurator Galnas Ungkap Pameran Yos Suprapto di Galnas Berkali-kali Ditunda Sejak 2023
-
Polemik Pameran Yos Suprapto di Galnas, Suwarno Wisetrotomo Ungkap Kejanggalan Seleksi Pameran
-
Negara dan Seni: Dari Lagu Hati yang Luka hingga Pameran Lukisan Yos Suprapto
News
-
Menebar Kebaikan di Bulan Suci, FISTFEST Berkolaborasi dengan Waroeng Steak
-
Dilema Midnight Sale Jelang Lebaran: Pilih Tidur Nyenyak atau Checkout Seragam Keluarga Estetik?
-
Opornya Hangat, Tapi Kok Hati Dingin? Rahasia di Balik Rasa Hampa Saat Bulan Suci
-
Seni Memilah Prioritas di Buku Mencari Intisari Karya Sherly Annavita
-
Kisah Kolaborasi Mengejutkan: Pramuka dan Kophi Jateng Satukan Kekuatan Jaga Lingkungan
Terkini
-
4 Milky Toner Mengandung Ceramide yang Ampuh Perkuat Skin Barrier
-
Di Balik Retorika Perang Narkoba: Ketimpangan Hukum dan Celah Struktural
-
Ramadan dan Kesempatan Kedua: Momentum Reset Diri yang Sering Terlupakan
-
Potret Pengungsi Perang Suriah dalam As Long as the Lemon Trees Grow
-
Menanti Tuhan yang Diam: Pergulatan Iman dalam Silence Karya Shusaku Endo