Sebuah video yang lagi bikin geger jagat maya datang dari Ternate. Bukan video lucu atau pamer kemewahan, tapi sebuah pemandangan yang dijamin bikin hati kita campur aduk antara kaget, kasihan, dan bingung. Seorang polisi berseragam lengkap, sosok yang biasanya kita lihat gagah di jalanan, terekam kamera warga sedang menangis histeris.
Di pinggir jalan yang ramai, ia meronta dan berteriak pilu menolak dijemput paksa oleh Propam.
"Tolong-tolong saya tara mau jemput," jeritnya, sebuah kalimat yang langsung viral dan membekas di ingatan banyak orang.
Momen ini sontak meruntuhkan citra polisi yang selama ini kita kenal. Ini bukan lagi soal penegakan disiplin, tapi sebuah drama kemanusiaan yang mempertontonkan sisi lain di balik seragam yang dihormati sekaligus ditakuti itu.
Katanya sih, Gara-gara Jarang Masuk Dinas
Usut punya usut, penjemputan paksa ini ada alasannya. Menurut keterangan resmi, oknum polisi yang merupakan anggota Satuan Sabhara Polda Maluku Utara ini punya masalah kedisiplinan. K
abarnya, ia sering tidak masuk kantor tanpa keterangan yang jelas. Tentu saja, ini adalah pelanggaran serius di institusi mana pun, apalagi di kepolisian.
Tapi, kalau masalahnya "cuma" soal absensi, kenapa reaksinya bisa sampai seheboh itu? Tangisan histeris dan perlawanan yang ia tunjukkan seolah jadi sinyal kuat kalau ada masalah lain yang jauh lebih berat sedang ia pikul. Ini bukan lagi tangisan anak bandel yang ketahuan bolos, ini seperti ledakan emosi yang sudah lama terpendam.
Saat Seragam Gagah Tak Lagi Bisa Menutupi Luka
Video ini seolah menampar kita dengan realita yang sering kita lupakan: polisi juga manusia. Kita terbiasa melihat mereka sebagai figur otoritas yang kuat, tegas, dan mungkin tanpa emosi. Tapi di balik seragam cokelat itu, ada seorang individu yang punya masalah, tekanan, dan titik rapuh, persis seperti kita semua.
Apalagi sebagai anggota Sabhara, tugas mereka bukan main-main. Mereka adalah garda terdepan yang harus selalu siaga menghadapi berbagai situasi di lapangan. Tekanan mental dan fisiknya pasti luar biasa. Bayangkan jika di saat yang sama, mereka juga harus berjuang melawan masalah pribadi, entah itu soal keluarga, ekonomi, atau kesehatan mental yang diam-diam menggerogoti.
Sayangnya, di lingkungan yang menuntut ketangguhan, mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja seringkali dianggap aib. Stigma "lemah" masih begitu kuat menempel. Akibatnya, banyak yang memilih memendam semuanya sendirian, menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Dan mungkin, inilah yang kita saksikan di Ternate.
Kejadian ini adalah sebuah pengingat keras. Ini bukan tontonan untuk dijadikan bahan candaan atau sekadar hiburan viral sesaat. Ini adalah cerminan dari isu kesehatan mental yang bisa menyerang siapa saja, tanpa pandang profesi.
Melihat seorang aparat menangis histeris di depan publik seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan berpikir. Mungkin sudah saatnya dukungan kesehatan mental tidak lagi jadi barang mewah, tapi jadi kebutuhan pokok, terutama bagi mereka yang bekerja di bawah tekanan tinggi setiap harinya.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah seragam tidak ada artinya jika manusia di baliknya sedang hancur.
Baca Juga
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
Artikel Terkait
-
Geger Polisi di NTB Tewas Terikat di Pohon, Ada Luka Benda Tumpul di Jasad Brigadir Esco!
-
Polisi Membabi Buta! Wartawan yang Liput Aksi Bubarkan DPR Dipukuli
-
Demo 25 Agustus di DPR Ricuh: Pendemo Dibopong Gegara Luka-luka, Polisi Dicap Anarkis!
-
Ribuan Aparat Jaga Ketat DPR Imbas Demo Besar 25 Agustus, Polisi: Jangan Terprovokasi Berita Negatif
-
5 Fakta Brutal Bripda Alvian: Polisi Pembunuh Putri Apriyani, Dipecat dan Terancam Hukuman Mati
News
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
Terkini
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam