Telepon-telepon di ruang kantor berdering nyaring pada Kamis pagi itu. Pesannya singkat: hentikan semua operasi.
Seorang pekerja Korea Selatan yang berada di pabrik mobil listrik milik Hyundai dan LG Energy di Ellabell, Georgia, Amerika Serikat segera tahu ada sesuatu yang besar sedang terjadi.
Tak lama, ratusan agen federal mengepung kompleks senilai 7,6 miliar dolar AS itu.
Suasana berubah tegang. “Panik, semua orang bingung,” kata pekerja seperti dikutip dari BBC.
Ia meminta identitasnya dirahasiakan. Dari kejauhan, ia melihat rekan-rekannya digiring, beberapa dengan tangan diborgol, sebagian lain mencoba kabur dengan nekat melompat ke kolam limbah di dekat pabrik.
Hari itu, 475 orang ditangkap, termasuk sekitar 300 warga negara Korea Selatan. Otoritas imigrasi AS menyebut banyak di antara mereka tidak memiliki izin kerja sah.
Operasi besar-besaran ini segera dicatat sebagai penggerebekan imigrasi satu lokasi terbesar dalam sejarah Keamanan Dalam Negeri, sekaligus yang terbesar sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih.
Pekerja tadi mengaku ia punya izin kerja legal. Tapi ia menyaksikan bagaimana ponsel para pekerja ditinggalkan di kantor yang kemudian dikunci, membuat keluarga mereka panik tak bisa menghubungi. “Mereka menerima panggilan telepon, tapi tak bisa menjawab,” ujarnya.
Sebagian besar yang ditangkap, katanya, adalah mekanik jalur produksi yang direkrut kontraktor. Beberapa bahkan dikirim langsung dari Seoul untuk menjalani pelatihan.
“Saya yakin hampir semua dari mereka punya hak untuk berada di sini, tapi visanya salah atau masa kerjanya sudah habis,” katanya lagi.
Hyundai dan LG Energy buru-buru merilis pernyataan, menegaskan mereka bekerja sama penuh dengan otoritas AS. Perusahaan bahkan menghentikan sementara konstruksi pabrik, meski menekankan tak ada karyawan langsung Hyundai yang ditahan.
Di luar pagar pabrik, operasi yang dijuluki “Operasi Tegangan Rendah” ini menyisakan pertanyaan besar. Pabrik mobil listrik itu sebelumnya dielu-elukan Gubernur Georgia Brian Kemp sebagai proyek ekonomi terbesar dalam sejarah negara bagian, sebuah simbol masa depan energi bersih dan lapangan kerja baru. Kini, bayang-bayang ketidakpastian justru menyelimutinya.
Bagi komunitas Korea di Savannah, penggerebekan itu terasa sebagai pukulan telak. “Ini sangat mengejutkan,” kata Cho Dahye, presiden Asosiasi Korea-Amerika setempat. Ia khawatir dampaknya meluas hingga ke hubungan diplomatik dua negara.
Sementara itu, pekerja yang kami temui hanya bisa menghela napas. “Saya terkejut, tapi juga tidak terkejut,” katanya. Di bawah slogan “America First”, ia paham razia semacam ini akan datang.
Yang ia tak pernah sangka, puluhan telepon yang berdering pagi itu menjadi awal dari hari paling panjang dalam hidupnya.
Baca Juga
-
Less Waste Hulu ke Hilir: Mengapa Pencegahan Sampah Harus Jadi Prioritas?
-
Sinopsis Hai Jawani Toh Ishq Hona Hai, Film Romcom Terbaru Varun Dhawan
-
Mencintai Kehidupan dengan Bekerja: Refleksi Almustafa Karya Kahlil Gibran
-
Menambal Kebocoran Sistemis: Menakar Solusi Less Waste dari Hulu ke Hilir
-
Tiru Cara Orang Jepang: Bawa Kantong Plastik Kecil untuk Wadah Sampah Kita
Artikel Terkait
News
-
Creator Merchant Makin Ramai, Event Jejepangan Ikut Dorong Industri Kreatif
-
Tak Perlu Bingung, Ini Cara Nonton Piala Dunia 2026 secara Resmi dan Legal!
-
Orang Utan Jennifer dan Hayato Dipertemukan, Simbol Persahabatan Indonesia-Jepang dalam Konservasi
-
Polusi Udara Level 'Aman' Tetap Berisiko Bagi Kesehatan, Apa Dampaknya?
-
Bahlil Lahadalia Ingin Bertemu Sosok di Balik Lagu MBG yang viral, Ada Apa?
Terkini
-
Less Waste Hulu ke Hilir: Mengapa Pencegahan Sampah Harus Jadi Prioritas?
-
Sinopsis Hai Jawani Toh Ishq Hona Hai, Film Romcom Terbaru Varun Dhawan
-
Mencintai Kehidupan dengan Bekerja: Refleksi Almustafa Karya Kahlil Gibran
-
Menambal Kebocoran Sistemis: Menakar Solusi Less Waste dari Hulu ke Hilir
-
Tiru Cara Orang Jepang: Bawa Kantong Plastik Kecil untuk Wadah Sampah Kita