Prestasi gemilang kembali datang dari dunia olahraga Indonesia. Melinda Septianti, atlet strongwoman Tanah Air, berhasil mengharumkan nama bangsa di kancah internasional melalui ajang Official Strongman Games (OSG) 2025 yang diselenggarakan di Taiwan.
Di balik keberhasilan itu, tersimpan kisah masa kecil yang tak banyak diketahui publik. Melinda ternyata pernah menjadi korban bullying selama bertahun-tahun ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.
Pengalaman pahit itu ia bagikan melalui video di kanal YouTube Comic 8 Revolution pada Minggu (30/11/2025). Melinda mengungkapkan bahwa ia mengalami perundungan sejak kelas 4 hingga kelas 6 SD.
Bullying itu dilakukan oleh teman-teman sekelasnya dan berlangsung dalam berbagai bentuk, termasuk kekerasan fisik yang membuatnya merasakan sakit hati yang mendalam.
Ia merasa bingung dan tidak memahami mengapa sebagai anak kecil ia harus menerima perlakuan seperti itu.
“Mereka mukulin aku, terus masukin air got ke mulut aku,” tutur Melinda.
“SD itu aku sekitar kelas 4 sampai 6 tuh sangat-sangat sakit hati, gitu. Merasa, aku masih kecil loh, tapi kenapa aku seperti ini,” tambahnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa perundungan yang dialaminya tidak hanya berhenti di situ. Melinda bahkan pernah menjadi sasaran kekerasan menggunakan berbagai benda.
“Dipukul rantai, dilempar minuman, terus kalau dulu ada mainan ketapel gitu. Aku jadi sasaran,” kata Melinda.
Selain menjadi korban kekerasan fisik, ia juga kerap disalahkan atas hal yang tidak ia lakukan. Suatu ketika, teman-temannya memukul meja dengan keras, dan saat guru masuk, semuanya justru menunjuk Melinda sebagai pelakunya. Akhirnya Melinda yang mendapatkan hukuman.
“Aku disuruh mukulin meja lima puluh kali di lapangan, padahal bukan aku,” ujarnya.
Melinda mengaku bahwa selama masa itu, ia menerima semua perlakuan tersebut tanpa banyak bicara. Ia bahkan tidak memberitahu orang tuanya.
Pada suatu hari ia mencoba memberanikan diri menceritakan kejadian itu kepada kakak keduanya. Kakaknya kemudian mendatangi para pelaku, tetapi hal itu justru membuat Melinda semakin menjadi sasaran.
“Kamu berani-beraninya ya katanya, masih kecil udah berbuat kayak gitu,” ujar Melinda.
“Eh besoknya malah makin di-bully. Jadi aku udah biarin aja. Besoknya aku diam, punggung aku dipukul,” tambahnya.
Melinda mengungkapkan bahwa ia sering menangis karena sedih dan merasa tidak berdaya. Namun, ia selalu menyembunyikan air matanya karena tahu bahwa para pelaku akan senang jika melihatnya bersedih.
“Nangis, sampai nangis, tapi nangisnya nggak dilihatin mereka. Kalau aku ngeliatin ke mereka, mereka senang aku nangis,” ucap Melinda.
Sebagai anak kecil, Melinda mengaku kebingungan tentang apa yang seharusnya ia lakukan. Pengalaman itu membuatnya paham betul mengapa banyak anak sulit bersuara ketika menjadi korban bullying.
“Aku pun bingung karena aku masih kecil, aku harus gimana. Aku percaya banyak kasus bullying yang beredar di media sosial itu nyata, karena aku sendiri pernah mengalaminya. Dan memang anak-anak itu pasti bingung harus seperti apa,” ungkapnya.
Dari anak kecil yang pernah dipukul, disalahkan, hingga harus menahan tangis sendirian, Melinda tumbuh menjadi atlet kuat yang membanggakan Indonesia di panggung dunia.
Perjalanannya menunjukkan bahwa keberanian untuk bangkit sering kali lahir dari pengalaman paling kelam yang pernah kita lewati.
Semoga kisah Melinda menguatkan siapa pun yang sedang menghadapi hal serupa, bahwa selalu ada harapan untuk bangkit dan menjadi versi diri yang lebih kuat.
Baca Juga
-
Debut Film Horor, Michelle Ziudith AlamiSakit Misterius hingga Lima Hari
-
Sering Disalahartikan, Ini Makna Lagu Sedia Aku Sebelum Hujan dari Idgitaf!
-
Kisah Dokter Gia Pratama Keluarkan Koin di Leher Balita Pakai Kateter Urin
-
Siap Menikah, Ranty Maria dan Rayn Wijaya Siapkan Live Streaming untuk Fans
-
Antara Sayang dan Sakit: Mengapa Orang Tetap Bertahan dalam Hubungan Toxic?
Artikel Terkait
-
Bullying Subur Karena Kita Tak Pernah Menciptakan Safe Space, Benarkah?
-
Peran Strategis Sekolah: Ujung Tombak Utama Pencegahan Bullying
-
Bullying: Beda Sikap Masyarakat Antara Korban dan Pelaku Perundungan
-
Saat Ruang Digital Jadi Ajang Menghina Mereka yang Tak Bisa Membela Diri
-
Bullying: Beda Sikap Guru Antar Generasi vs Pendekatan Pendidikan Modern
News
-
Duduk Perkara Konflik Keluarga Beckham, Brooklyn Tegas Ogah Berdamai
-
Capek Padahal Sudah Libur? Kenali Psychological Detachment dan Cara Istirahat yang Benar
-
Mengenal Otoritas Geospasial: Alasan di Balik Penyesuaian Nama Thailand Jadi Tailan
-
Krisis Ketahanan Emosional Remaja: Pelajaran di Balik Kasus Pengeroyokan Guru SMK
-
Suara-Suara di Kamar
Terkini
-
Multitasking Tanpa Ngelag, Ini 7 HP RAM 12 GB Termurah 2026 di Bawah Rp 4 Jutaan
-
Saat AI Terlalu Dipuja, Pendidikan Kehilangan Arah
-
Pinjol dan Paylater: Kemudahan Palsu yang Mahal Harganya
-
5 Inspirasi Outfit Kantor ala Kim Seonho,Tampil Cerdas dan Profesional!
-
Dilema Harga Tiket dan Ekonomi: Mens Rea Laris Bukan Berarti Rakyat Makmur