Dalam hiruk pikuk kehidupan urban yang serba cepat, tekanan pekerjaan dan minimnya ruang hijau sering kali membuat warga kota merasa kelelahan secara mental. Hal itu juga dirasakan oleh Dinda, salah satu peserta workshop yang diadakan oleh komunitas TerramoriYK di Kota Yogyakarta. Bekerja dan berdinamika bersama orang lain membuatnya merasa lelah dan perlu melakukan kegiatan yang menenangkan serta dapat melupakan sejenak kesibukan yang ia lakukan.
"Aku tertarik untuk ikut workshop ini karena ingin healing dan me time, serta melupakan sejenak kesibukanku," ujarnya.
Berdasarkan penelitian Kim et al. (2023), aktivitas berkebun di wilayah perkotaan terbukti menurunkan tingkat stres secara signifikan. Pengukuran menggunakan BEPSI menunjukkan penurunan stres psikologis yang signifikan pada kelompok yang mengikuti program berkebun (p < 0.05), sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan berarti.
Selain itu, kadar kortisol saliva sebagai indikator stres biologis juga mengalami penurunan signifikan pada kelompok berkebun, yang mengindikasikan bahwa aktivitas menanam berkontribusi langsung terhadap penurunan respons stres tubuh.
TerramoriYK sebagai Ruang Jeda dan Recharge Energi
Di tengah kondisi yang cukup berat, TerramoriYK hadir sebagai komunitas terarium yang memberikan ruang istirahat bagi penduduk kota. Lewat workshop terarium, peserta diajak untuk merakit ekosistem kecil secara perlahan dan dengan penuh kesadaran.
Vivien, sebagai pemilik sekaligus pelatih di TerramoriYK, mengatakan, "Terramori ini memang didesain sebagai tempat yang menyenangkan, menenangkan, dan menghibur."
Allen, yang juga merupakan peserta workshop, menambahkan, "Kegiatan ini dapat membuat kreativitas kita tercurahkan dalam media yang sudah diberikan, seperti tanah, tumbuhan, bebatuan, dan hiasan, di mana kita sebagai peserta dapat berkreasi sesuka hati dengan desain tanamannya."
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kim et al. (2023), paparan visual terhadap elemen hijau dapat menurunkan hormon stres (kortisol) hingga sekitar 25–30% dalam periode intervensi singkat, menjadikan aktivitas berbasis tanaman sebagai pendekatan terapeutik yang efektif dan mudah diakses.
Peran Interaksi Sosial dalam Kegiatan Workshop
Selain kegiatan merangkai, workshop TerramoriYK juga menjadi tempat berkumpul dan berinteraksi bagi para peserta. Mereka bisa berdiskusi santai dan berbagi pengalaman selama acara sehingga merasa lebih nyaman dan tidak kesepian dalam menghadapi tekanan hidup.
"Rata-rata orang yang menjadi peserta workshop di Terramori ini memang butuh ketenangan dan hiburan, dan setelah melakukan workshop, mereka terlihat lebih happy daripada sebelumnya," ujar Vivien.
Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Kim et al. (2023) bahwa lebih dari 75% partisipan merasakan peningkatan kesejahteraan mental ketika aktivitas hortikultura dilakukan secara berkelompok karena adanya dukungan sosial dan rasa keterhubungan.
Dampak Sederhana bagi Para Peserta Workshop
Dampak dari workshop tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Terarium yang mereka bawa pulang menjadi pengingat agar mereka memperlambat ritme hidup.
"Aku berencana untuk merawat terarium ini supaya menjadi makin cantik di rumahku, biar lebih kelihatan hijau," ujar Dinda. Allen juga menambahkan, "Aku juga mau merawat terarium ini, biar kamarku terlihat lebih adem karena ada tanaman cantiknya."
Melalui kegiatan sederhana, TerramoriYK menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental tidak harus dengan cara yang rumit. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Kim et al. (2023), terapi hortikultura merupakan pendekatan non-farmakologis yang efektif, terjangkau, dan mudah diterapkan untuk meningkatkan kesehatan mental masyarakat urban.
Bagi para peserta workshop, "hutan mini" bukan hanya sekadar dekorasi, melainkan sebuah ruang kecil untuk bernapas sejenak di tengah padatnya kehidupan perkotaan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Generasi Kutu Buku Tidak Hilang, Aksaraya Semesta Tunjukkan Buktinya
-
Tukar Akar Jadi Ruang Pulih Anak Muda Menemukan Teduh Untuk Tumbuh
-
Berawal dari Hobi, Komunitas Satwa di Medan Ini Lawan Stigma dengan Edukasi
-
Komunitas MBOIG Tunjuk Ketua Umum Baru Jalankan Organisasi
-
Ketika Parfum Menjadi Gaya Hidup Cerita Jogja Fragrance Community
News
-
Jangan Ada Lagi "Asal Bapak Senang": Menguji Nyali Kejujuran Birokrasi
-
Dia yang Berdehem Tiga Kali
-
Bye-bye Velocity! Mengapa Tren "Natural" D'Masiv Gantikan "Dung Tak Dung" di Momen Ramadan 2026
-
Terhindar dari Macet dan Polusi: Alasan Mal Jadi Tempat Ngabuburit Paling Nyaman
-
Fenomena Shower Thoughts: Kenapa Ide Cemerlang Muncul Pas Lagi Sabunan?
Terkini
-
Review Novel Pion Memorabilia: Bagaimana Bidak Kecil Mengubah Nasib Seorang Anak yang Dianggap Gagal
-
Sepupuku Seorang Ahli Matematika: Menghitung Angka di Bumi Hingga Antariksa
-
4 Ide OOTD Outerwear ala Ningning aespa, Dari Chic sampai Bold Look!
-
Angkat Kisah Superhero yang Gagal Jadi Aktor, Wonder Man Adalah Miniseri Marvel Paling Berani!
-
Seni Beretorika di Buku How to Win an Argument Karya Marcus Tullius Cicero