Di era digital yang memungkinkan akses informasi instan dari smartphone dan platform streaming, buku fisik justru mengalami kebangkitan minat di kalangan anak muda Indonesia, khususnya Gen Z. Meski e-book dan audiobook menawarkan kemudahan, survei terbaru menunjukkan preferensi kuat terhadap buku cetak karena sensasinya yang tak tergantikan seperti aroma kertas, dan fokus membaca tanpa distraksi dari smartphone.
Tren ini mencakup lonjakan penjualan buku fisik, terutama genre fiksi romantis dan nonfiksi pengembangan diri. Gramedia mencatat peningkatan 25% penjualan cetak sejak 2023, didorong juga dengan adanya BookTok di TikTok yang viral dengan challenge "book haul".
Gen Z menjadi penggerak utama, dengan 45% dari mereka sebagai kontributor peningkatan Tingkat Gemar Membaca (TGM). Survei Goodstats 2025 melibatkan 1.200 responden nasional menemukan 79% lebih suka buku cetak karena retensi informasi lebih baik (hingga 30% lebih tinggi dibanding digital). Influencer seperti penulis Tere Liye dan akun Bookstagram memicu impuls pembelian.
Komunitas Aksaraya Semesta adalah kelompok literasi Jogja yang didirikan pada 2020 oleh tiga sahabat, Irfa, Astri, dan Putri dan rutin menggelar kegiatan baca bareng dua kali selama sebulan, menarik para pemuda untuk nikmati buku cetak secara offline dan berbagi pendapat dan cerita serta berdiskusi dari buku yang dibaca.
Aksaraya juga rekrut volunteer pemula via Instagram (@aksarayasemesta), ciptakan ruang aman dan nyaman bagi Gen Z yang awalnya bosan baca sendirian menjadi lebih bersemangat bersama temean-teman lainnya. Komunitas ini jadi bukti nyata buku fisik tetap diminati di tengah perkembangan digitalisasi.
“Setelah saya masuk Aksaraya, saya jadi punya teman diskusi, terus saya juga udah nggak bosan lagi, jadi punya teman sharing buku gitu kan jadi semakin seru untuk membaca buku” Nafi, salah satu volunteer Aksaraya Semesta.
"Saya sangat merekomendasikan teman-teman yang mengalami permasalahan membaca buku meskipun senang membaca buku itu bergabung ke lingkungan yang suka membaca buku atau lingkungan yang mendukung literasi", tambah Nafi.
Meski dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini masih banyak anak-anak muda yang tetap memilih buku fisik. Serta dengan hadir nya komunitas literasi dapat membantu mereka lebih bersemangat membaca buku.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Terapi Hijau di Tengah Kota: Workshop Terarium Jadi Ruang Recharge Energi
-
Generasi Kutu Buku Tidak Hilang, Aksaraya Semesta Tunjukkan Buktinya
-
Tukar Akar Jadi Ruang Pulih Anak Muda Menemukan Teduh Untuk Tumbuh
-
Berawal dari Hobi, Komunitas Satwa di Medan Ini Lawan Stigma dengan Edukasi
-
Komunitas MBOIG Tunjuk Ketua Umum Baru Jalankan Organisasi
News
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
Terkini
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah