Rifqi Satya Pratama (26) adalah seorang graphic designer dan photographer di salah satu agensi. Sebagai seorang pekerja kreatif, ia dituntut untuk selalu memunculkan ide-ide baru untuk karyanya. Ide-ide tersebut bisa datang kapan saja dan di mana saja. Tanggung jawab yang diembannya seolah membuat otaknya tidak pernah berhenti dan beristirahat dari dunia kreativitas. Aktivitas kerjanya yang berulang tak jarang membuatnya lelah dan burnout.
“Justru kalau kita selalu melakukan hal yang sifatnya monoton, itu-itu saja, dan tidak ada ruang untuk beristirahat, ya kita akan burnout, kita akan bosan,” jelasnya.
Tuntutan untuk terus produktif di dunia kerja tidak bisa dihindarkan; segala macam tugas sering kali muncul tanpa jeda. Data dari CNBC yang dikutip dari laporan “SHRM 2025 Insight: Workplace Mental Health” menjelaskan bahwa 52% karyawan mengalami burnout karena pekerjaan.
Tekanan kerja yang dialami Rifqi dan pekerja lainnya terkadang membuat mereka kesulitan mencari waktu untuk benar-benar lepas dan memiliki ruang nyaman sendiri, bahkan untuk sementara. Konsekuensi “selalu siap” di dunia pekerjaan juga sering kali mengaburkan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi.
“Apalagi aku bekerja di industri yang sifatnya kreatif. Ada dominasi kreativitas yang harus dituntut setiap hari,” jelas Rifqi sambil sedikit mengeluh tentang pekerjaannya.
Beruntungnya, ia sudah menyadari bahwa jeda adalah kebutuhan yang harus dipenuhi di tengah kesibukannya. “Sehingga, misalkan ternyata aku merasa burnout, ya, memang aku harus menemukan tempat istirahat itu,” lanjutnya dengan penekanan.
Kesadaran akan kebutuhan waktu jeda inilah yang membuat Rifqi mencari apa definisi jeda baginya dan bagaimana cara menciptakannya. Bagi kebanyakan orang, mengambil waktu jeda saat burnout kerja dilakukan dengan menyempatkan waktu untuk menyendiri. Namun, berbeda dengan Rifqi, ia menemukan definisi jeda yang cukup bertolak belakang. Baginya, waktu jeda bisa didapatkan dari interaksinya dengan orang lain, yang asing sekalipun.
“Jadi, aku mengambil ruang jeda itu dalam bentuk lebih banyak berinteraksi dengan orang, tapi yang sifatnya bukan pekerjaan.”
Keputusan itu memiliki makna yang dalam. Interaksi dengan orang baru di luar pekerjaannya menjadi pintu menuju pembaruan dirinya. Keberhasilannya keluar dari dunia kerja yang monoton menuntunnya menemukan "harta karun" berharga dari orang-orang yang diajaknya berinteraksi.
“Melihat perspektif lain dari orang-orang bisa jadi insight buat aku,” ungkapnya.
Menemukan Ruang Jeda dalam Komunitas “Cerita Ruangkan”
Di tengah pencariannya akan ruang jeda dan interaksi, Rifqi menemukan “Cerita Ruangkan”. Bukan sekadar komunitas biasa, “Cerita Ruangkan” adalah wadah yang memang dirancang untuk menghadirkan ruang untuk berhenti sejenak dari padatnya kegiatan sehari-hari. Kebutuhan Rifqi akan “orang baru” dan “perspektif baru” dapat ia temukan di sini. Ruangkan menyediakan wadah yang nyaman, menjadi tempat pemulihan energi yang tepat.
Rifqi bertemu dengan jiwa-jiwa yang juga mendambakan waktu jeda, mencoba beristirahat dengan berkumpul bersama lewat kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. Baginya, mengikuti kegiatan “Cerita Ruangkan” menjadi tempat istirahat yang dicarinya, ruang tempat ia bisa berinteraksi dengan orang baru dan mendapat perspektif-perspektif baru tanpa tekanan pekerjaan.
Sita (24), pendiri komunitas ini, menjelaskan filosofi sederhana yang melatarbelakanginya. “Ruangkan itu aku bayangkan seperti rumah, terus banyak ruangan-ruangannya. Nanti teman-teman bisa memilih ruangan atau kegiatan mana yang mereka pilih.” Sebuah analogi sederhana dan bermakna yang menjadikan komunitas ini benar-benar sebagai ruang rehat sementara, tempat bertemu orang baru, mendengar cerita, dan berbagi napas lega tanpa diselimuti beban keseharian.
Jeda Bukan Berarti Berhenti
Apa yang dilakukan Rifqi terasa seperti pengingat yang kita semua butuhkan. Jeda bukan berarti berhenti total atau lari dari tanggung jawab. Sifat dari kata “jeda” adalah sementara. Manusia bukanlah mesin yang bisa bekerja terus tanpa henti. Bahkan, mesin pun bisa rusak jika terus dipaksa bekerja. Kita, sebagai manusia, sangat membutuhkan ruang jeda.
Bagi sebagian orang, ruang jeda yang mereka pilih bisa berupa diam di kamar atau mungkin bepergian ke tempat yang disukai. Tetapi, bagi Rifqi, jeda berarti menemukan insight dan perspektif orang lain yang baru dan berbeda, layaknya harta karun berharga yang memang ia cari selama ini.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Di Tengah Gempuran Media Sosial, Mahasiswa Mencari Ruang Literasi
-
Mini Garden Terrarium: Tren Healing Baru untuk Gen Z yang Penat
-
Komunitas Board Game Yogyakarta, Kembalikan Keseruan Bermain Tanpa Gadget
-
Komunitas Aksaraya Semesta Bangkitkan Cinta Buku Fisik di Kalangan Gen Z
-
Berkarya tapi Kesepian? Kei Kurnia Hadirkan Tukar Akar sebagai Harapan
News
-
Kembalinya Pablo Neruda ke Tubuh Seekor Cicak
-
Aku Demam di Bumi yang Sakit
-
Menakar Keadilan bagi Rakyat Kecil: Mengapa Permintaan Maaf Aparat Saja Tidak Cukup?
-
Jarang Diajarkan di Sekolah, Inilah 7 Soft Skill yang Bikin Kamu Cepat Dapat Kerja
-
Krisis Perlindungan Korban: Ketika Biaya Visum Tak Lagi Ditanggung Negara
Terkini
-
Pemulihan Aceh Pascabencana: Ini Suara untuk Negara yang Lambat Bertindak!
-
4 Film Korea Tayang Februari 2026, Comeback Choi Woo Shik hingga Zo Insung
-
Sparks of Tomorrow Siap Tayang Juli, Pencarian Buku Katalog Listrik Dimulai
-
3 Drama Korea Bertema Hukum yang Tayang di Awal Tahun 2026, Terbaru Honour
-
Sinopsis Mercy, Film Thriller yang Mengungkap AI Jadi Hakim Keadilan