Pernah merasa ingin kembali membaca, tetapi selalu kalah oleh gawai dan rutinitas? Atau mungkin Anda pernah membeli buku baru, namun akhirnya hanya menjadi pajangan di meja belajar?
Di Yogyakarta, ada sekelompok anak muda yang merasakan hal serupa. Mereka sama-sama pernah kehilangan semangat membaca, terjerat distraksi digital, dan bingung harus mulai dari mana. Sampai akhirnya mereka bertemu di sebuah ruang sederhana bernama Aksaraya Semesta—tempat di mana halaman demi halaman kembali hidup, dan cerita kembali dibagikan.
Di tengah angka minat baca mahasiswa yang terus menurun, komunitas kecil ini justru menunjukkan bahwa semangat membaca bisa tumbuh lagi ketika ada ruang dan teman untuk berbagi.
Media sosial adalah musuh terbesar konsistensi membaca. Nafi, volunteer lainnya, mengakui bahwa dia pun pernah terjebak dalam rutinitas scroll tanpa henti.
“Ketika lagi brainwashed social media, itu males baca,” ungkapnya.
Namun setelah bergabung dengan Aksaraya, ia menemukan ritme membaca yang lebih stabil. Ada teman diskusi, ada ruang untuk bercerita, dan ada alasan untuk menyelesaikan setiap buku yang ia mulai.
“Perubahannya besar banget. Kalau dinilai 1–10, aku kasih 8,” ujarnya.
Menurut Nafi, lingkungan yang mendukung literasi sangat berpengaruh terhadap motivasi membaca seseorang.
Ruang yang Dibutuhkan Mahasiswa untuk Bercerita
Membaca bukan hanya soal menuntaskan halaman, tetapi juga tentang menemukan seseorang yang mau mendengarkan apa yang kita temukan di dalamnya. Itulah yang terjadi di Aksaraya.
Ibrahim, salah satu volunteer, melihat peningkatan minat baca anak muda—meski tidak selalu terlihat. Menurutnya, banyak mahasiswa mulai membaca lagi karena dipengaruhi isu-isu sosial yang dekat dengan mereka, terutama lewat genre historical fiction.
“Banyak kejadian yang nge-trigger orang buat ngebaca historical fiction. Dari situ mereka mulai nyoba baca buku-buku lainnya,” jelasnya.
Namun, minat itu sering terhenti karena tidak adanya ruang diskusi.
“Seringnya mereka pengen cerita atau berbagi opini, tapi karena nggak ada komunitas," lanjutnya.
Aksaraya tidak hanya memulihkan minat membaca, tetapi juga menghadirkan ruang sosial yang hangat.Banyak anggota yang awalnya datang dengan rasa canggung, tetapi tetap nekat mencoba. Dan sebagian besar dari mereka kembali lagi.
“Kegiatan ini sangat mendukung minat baca saya. Suasananya menyenangkan dan pasti ingin ikut lagi,” ujar salah satu peserta yang telah dua tahun mengikuti kegiatan Aksaraya.
Lewat diskusi, permainan literasi, dan suasana santai, Aksaraya menjadi tempat yang menghapus rasa takut dan menggantinya dengan kenyamanan.
Penguatan Jejaring dan Kolaborasi Literasi
Komunitas ini juga membuka kolaborasi dengan berbagai instansi.
Resi Fitri Pramulia dari American Corner Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengatakan bahwa komunitas baca memberi ruang penting bagi anak muda untuk saling menginspirasi.
“Biasanya kita cuma bisa baca 1–3 buku dalam seminggu. Tapi kalau sharing, bisa hampir 10–20 buku,” tuturnya.
Diskusi di komunitas membuat pengalaman membaca semakin kaya dan memperluas jaringan literasi.
Aksaraya: Bukti bahwa Minat Baca Bisa Dinyalakan Kembali
Fenomena Aksaraya membuktikan bahwa rendahnya minat baca mahasiswa bukan karena mereka tidak suka membaca, tetapi karena tidak ada ruang yang mendukung mereka untuk terus melakukannya.
Ibrahim percaya komunitas seperti ini akan selalu relevan.
“Buku bakal tetap hidup, entah fisik atau digital. Yang berubah cuma genrenya,”
Aksaraya Semesta menjadi saksi bahwa semangat membaca bisa kembali tumbuh pelan, hangat, dan penuh cerita ketika dibangun bersama.
Baca Juga
-
BBM di Indonesia Lebih Murah dari Singapura, tapi Apakah Lebih Terjangkau?
-
Baru Mulai 6 Menit, Felix Nmecha Cetak Gol Kilat Jerman di Piala Dunia 2026
-
Dari Peradaban hingga Nina, Hindia Raih Penghargaan di Music Awards Japan!
-
KB Gantari dan Ruang Creative Jadi Ruang Anak Tumbuh Kreatif Lewat Bermain
-
Sekilas Mirip Vario, Brusky 125 Jadi Skutik Pertama Kawasaki di Indonesia
Artikel Terkait
-
Mini Garden Terrarium: Tren Healing Baru untuk Gen Z yang Penat
-
Komunitas Board Game Yogyakarta, Kembalikan Keseruan Bermain Tanpa Gadget
-
Komunitas Aksaraya Semesta Bangkitkan Cinta Buku Fisik di Kalangan Gen Z
-
Berkarya tapi Kesepian? Kei Kurnia Hadirkan Tukar Akar sebagai Harapan
-
Terapi Hijau di Tengah Kota: Workshop Terarium Jadi Ruang Recharge Energi
Lifestyle
-
Cowok Minimalis Merapat! 4 Daily OOTD ala Lee Jun Young yang Mudah Ditiru
-
Pesona WAGs Piala Dunia 2026, Ada Pasangan Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, hingga Kylian Mbappe
-
Sentuhan Hidrasi Maksimal: 5 Toner Pad untuk Makeup Flawless Tanpa Retak
-
Lenovo IdeaPad Slim 5i Gen 9: Laptop Tipis, Performa Buas untuk Kerja dan Kuliah
-
Laptop Murah Rasa Premium, 5 Pilihan Terbaik untuk Mahasiswa
Terkini
-
Menyoal Tulisan di Bak Belakang Truk: Viral, Vulgar, Atau Puitis Saja Sih?
-
Sorotan Tajam Piala Dunia 2026: Kontroversi Visa AS dan Bayang-Bayang Kesuksesan Rusia 2018
-
Ulasan Serial Zomvivor: Drama Horor Thriller dengan Efek Visual Luar Biasa!
-
Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global
-
Budiman Sudjatmiko dan Mahasiswa: Siapa yang Gagal Berdialog?