Bimo Aria Fundrika | Husnul Khotimah
Ilustrasi seorang ibu menyebrang sungai dengan tali sling (Sumber: doc pribadi)
Husnul Khotimah

Pernahkah Anda melihat rekaman video seorang ibu yang bergelantungan pada seutas tali sling baja untuk menyeberangi sungai yang meluap? Di bawahnya, arus cokelat pekat mengaum, siap menelan apa saja yang jatuh ke pelukannya.

Ibu itu tidak sedang melakukan aksi akrobatik demi ketenaran. Ia mempertaruhkan nyawa demi sesuatu yang bagi kita, yang tinggal di kota, terasa begitu remeh: akses.

Mungkin ia harus ke pasar, mungkin ada anak yang harus disekolahkan, atau mungkin ada sanak saudara yang sakit di seberang sana.

Pemandangan seperti itu adalah sebuah tamparan sekaligus pengingat yang menyesakkan dada. Ia merupakan manifestasi keputusasaan yang dibalut keberanian.

Namun, peristiwa itu juga menjadi “inspirasi” dalam bentuk yang paling pahit: bahwa kehadiran sebuah jembatan bukan sekadar proyek infrastruktur dalam daftar anggaran negara, melainkan solusi kemanusiaan yang sangat mendesak.

Ketika bencana datang, hal pertama yang sering kali dikhianati oleh alam adalah mobilitas manusia. Itulah yang terjadi di Aceh dan Sumatera pada awal Desember 2025.

Saat Bumi Tak Lagi Bersahabat

Ilustrasi jembatan putus (Sumber: doc pribadi)

Sumatra, pulau yang kita cintai ini, memang memiliki hubungan yang “rumit” dengan air. Data menunjukkan bahwa sepanjang 2024 hingga penghujung 2025, intensitas curah hujan di sepanjang Bukit Barisan hingga pesisir timur Aceh meningkat secara anomali.

Banjir bandang pun tak terelakkan. Di Aceh saja, data lapangan menunjukkan frekuensi bencana hidrometeorologi meningkat signifikan, menyebabkan kerugian infrastruktur hingga miliaran rupiah.

Pada awal Desember lalu, Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya menjadi salah satu korbannya. Banjir bandang yang membawa material lumpur dan kayu menghantam pondasi jembatan tersebut.

Bukan bangunan jembatannya yang runtuh sepenuhnya, melainkan oprit, jalan pendekat yang menghubungkan aspal dengan lantai jembatan, yang hancur diterjang arus.

Bayangkan oprit sebagai “tangan” yang menyambut kita saat melangkah ke atas jembatan. Ketika tangan itu patah, jembatan yang kokoh sekalipun menjadi tak berguna.

Ia berdiri gagah di tengah sungai, tetapi tak bisa dicapai. Dampaknya, Lintas Timur Aceh, urat nadi logistik yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bireuen dan terus ke Medan, tersumbat total.

Kecepatan yang Menjawab Kecemasan

Di tengah keputusasaan warga, ada sebuah gerak yang kerap luput dari sorot kamera nasional. Di bawah komando Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, para “pejuang jalan” dari Direktorat Jenderal Bina Marga segera turun ke lapangan.

Rita Marleni, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 BPJN Aceh, menjadi salah satu sosok di balik pemulihan cepat ini. Suasana di lapangan saat itu dipenuhi debu yang bercampur lumpur tebal sisa banjir, deru mesin alat berat yang tak berhenti bahkan ketika malam turun, serta koordinasi intens yang dilakukan di tengah kelelahan.

Penanganan sementara terhadap kerusakan oprit segera dilakukan agar jembatan kembali fungsional.

Mulai Kamis, 4 Desember 2025, pengerjaan dimulai. Progres demi progres dilaporkan, mulai dari pemasangan batu boulder untuk menahan gerusan air, penimbunan kembali tanah oprit, hingga pembersihan lumpur tebal yang menutup badan jalan.

Targetnya ambisius: sepuluh hari. Banyak yang meragukan, mengingat cuaca Sumatra di akhir tahun kerap tidak kompromistis. Namun, sinergi di lapangan membuktikan sebaliknya.

Tepat pada Jumat, 12 Desember 2025, kabar baik itu datang. Jembatan Krueng Meureudu kembali dibuka. Akses yang sempat terputus kini tersambung kembali.

Suara-Suara dari Tepian Krueng Meureudu

Jika kita berdiri di pangkal jembatan itu hari ini, kita tidak hanya melihat aspal baru atau tumpukan batu penahan. Kita melihat kehidupan yang kembali mengalir.

Seorang guru honorer yang selama sepekan harus memutar jalan berkilometer atau nekat menggunakan jasa rakit darurat demi sampai ke sekolah, kini dapat melintas dengan sepeda motor tanpa rasa waswas.

Ada pula petani sayur yang hasil panennya sempat tertahan dan mulai membusuk. Kini, truk-truk kecil mereka kembali melaju menuju pasar di Bireuen.

Inilah yang kerap kita lupakan: setiap menit sebuah jembatan terputus, ada denyut ekonomi yang berhenti, akses pendidikan yang terhambat, dan—yang paling krusial—akses kesehatan yang tertunda.

Bagi warga di wilayah bencana, jembatan kerap menjadi pembeda antara hidup dan mati ketika ambulans harus membawa pasien darurat menuju rumah sakit kabupaten.

Sinergi antara pemerintah pusat melalui Bina Marga, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat menjadi kunci. Warga tidak sekadar menjadi penonton. Mereka memberi dukungan moral, informasi lapangan terkait titik rawan, hingga kesabaran saat pengerjaan dilakukan selama 24 jam penuh.

Jembatan, Lebih dari Sekadar Beton

Kembali pada kisah ibu yang menyeberang dengan tali sling. Mengapa video itu begitu menyesakkan dada? Karena ia adalah antitesis dari kemajuan. Pengingat bahwa di beberapa sudut negeri ini, orang masih harus mempertaruhkan nyawa demi kebutuhan mendasar.

Keberhasilan BPJN Aceh memperbaiki Jembatan Krueng Meureudu dalam waktu kurang dari sepuluh hari menjadi isyarat bahwa warga tidak boleh dibiarkan terlalu lama menjadi “pemeran utama” dalam video-video berbahaya semacam itu.

Pembangunan infrastruktur pascabencana bukan semata urusan teknis penimbunan tanah atau pengerasan jalan. Ia adalah upaya mengembalikan martabat manusia.

Dengan terbukanya kembali akses ini, harapan yang sempat terendam lumpur banjir perlahan tumbuh kembali. Warga kembali berani bermimpi untuk bekerja dengan tenang, bersekolah dengan nyaman, dan menjalani hidup dengan kepastian akses.

Penutup: Harapan di Atas Aspal Baru

Bencana memang tak sepenuhnya bisa dihindari, terlebih dengan kondisi geografis Sumatra yang menantang. Namun, cara kita merespons pascabencana adalah cerminan keberpihakan pada rakyat.

Kecepatan kerja tim Bina Marga di Meureudu menjadi standar yang patut dibanggakan. Ia membuktikan bahwa dengan dedikasi, kendala akses dapat diatasi.

Aspal di atas oprit itu mungkin masih baru dan aromanya masih menyengat. Namun, di atasnya, ribuan langkah kaki dan putaran roda membawa doa-doa yang akhirnya terkabul.

Jembatan itu kini berdiri tegak, menghubungkan kembali apa yang sempat dipisahkan oleh murka alam. Bagi kita yang menyimaknya, kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap infrastruktur yang dibangun dengan hati akan selalu membawa cerita tentang kebangkitan.

Lalu, apa selanjutnya? Harapannya, semangat gerak cepat ini tidak hanya hadir saat bencana besar melanda, tetapi juga dalam pemeliharaan rutin di seluruh pelosok negeri. Agar kelak, tak ada lagi ibu yang harus menggenggam tali sling hanya untuk menyeberangi sungai, karena jembatan yang kokoh telah siap menyambut langkahnya.

Baca Juga