Pulih. Kata itu sering kita dengar ketika seseorang yang semula sakit perlahan membaik dan kembali sehat. Namun, kali ini pulih bukan tentang sembuh dari penyakit, melainkan tentang bangkit dari keadaan yang hancur, kehilangan, dan bahkan tidak memiliki apa-apa lagi selain pakaian yang melekat di badan.
Pulih bisa berarti belum sepenuhnya kembali seperti semula, tetapi hidup harus terus dilanjutkan. Mau tidak mau, seseorang harus belajar bangkit dan berdampingan dengan kondisi yang sebenarnya tidak diinginkan siapa pun. Siapa yang ingin tertimpa musibah? Siapa yang rela kebahagiaannya terenggut? Tidak ada pula yang ingin menjalani hidup dengan kondisi kronis.
Indonesia Berduka
Seluruh Indonesia berduka. Terjangan banjir bandang yang meluluhlantakkan wilayah Sumatra dan Provinsi Aceh sungguh memilukan. Aceh Tamiang dan Aceh Utara menjadi daerah yang paling terdampak.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan dalam Konferensi Pers Pemulihan dan Rencana Strategis Pascabencana di Lapangan Halim Perdanakusuma pada 29 Desember 2025, terdapat 13 desa yang hilang. Di Sumatra Utara, delapan desa mengalami kerusakan, sementara satu desa rusak di Sumatra Barat.
Berbagai upaya pembenahan dilakukan dengan cepat di berbagai wilayah agar bantuan dapat segera disalurkan dengan lancar. Tujuannya satu, membantu mereka yang terluka, baik secara fisik maupun batin, agar perlahan bisa pulih. Meski kondisi tidak akan kembali seperti sediakala dalam waktu singkat, setidaknya ada tangan-tangan yang hadir untuk memeluk dan menenangkan dengan ketulusan.
Deja Vu di Tengah Bencana
Di balik musibah banjir bandang ini, ada kisah seseorang yang kembali dihadapkan pada ingatan masa lalu. Dedy Saputra, Pengawas Lapangan PPK 1.5 BPJN Aceh, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, seolah terlempar ke peristiwa 21 tahun silam. Pada 2004, tsunami melanda ujung Banda Aceh dan merenggut orang tua serta dua adiknya. Hingga kini, tidak ada kabar tentang mereka.
Meski demikian, Dedy memilih melanjutkan hidup. Ia belajar menata kembali hati yang berserakan dan pecah. Berangkat dari pengalaman kehilangan tersebut, Dedy memiliki tekad kuat untuk membantu warga terdampak bencana. Untuk sementara waktu, ia harus jauh dari anak dan istrinya demi menjalankan tugas negara.
Saat ditanya apakah trauma itu masih ada, Dedy mengaku jujur,
“Trauma itu pasti ada. Namun, kalau bagi saya sendiri, sudah pulih, sudah bisa menerima keadaan. Namanya hidup, kalau masih bernyawa, mau tidak mau kita harus menjalaninya.”
Jembatan Krueng Meureudu Tersambung Kembali
Kementerian Pekerjaan Umum bergerak cepat dalam menangani dampak bencana. Salah satunya adalah perbaikan oprit Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya yang rusak parah akibat terjangan banjir bandang. Jembatan ini merupakan bagian dari jalan nasional lintas timur Aceh yang menghubungkan jalur penting menuju Kabupaten Bireuen.
Selain kerusakan jembatan, lumpur tebal sisa banjir bandang juga menjadi tantangan besar dalam proses penanganan. Meski penuh perjuangan, penimbunan sementara oprit jembatan telah selesai dilakukan dengan tambahan batu boulder untuk memperkokoh jalur nasional Lintas Timur Aceh.
PPK 1.2 Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Rita Marleni, membenarkan bahwa penanganan sementara telah dilakukan.
“Penanganan sementara terhadap kerusakan oprit Jembatan Krueng Meureudu sudah dilakukan. Alhamdulillah, jembatan mulai fungsional dan kembali dibuka sejak hari ini,” ujar Rita pada 12 Desember 2025.
Selain itu, pembersihan ruas Jalan Nasional batas Kabupaten Pidie Jaya–Kota Bireuen menjadi prioritas utama agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan dan distribusi logistik tidak terhambat.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan, “Kementerian PU terus berupaya agar akses ini kembali fungsional secepat mungkin. Jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan masyarakat dan distribusi logistik.”
Apa pun kondisinya, semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana dapat segera pulih, dan seluruh proses pemulihan pascabencana berjalan lancar tanpa hambatan.