Bimo Aria Fundrika | Muchammad Jauhari
Ilustrasi Banjir di Aceh Tamiang (Sumber: Doc. Pribadi)
Muchammad Jauhari

Masih jelas di ingatan saya, kurang dari sebulan yang lalu, adalah kali pertama saya melihat video viral bencana banjir dahsyat yang belum pernah saya saksikan sebelumnya di TikTok.

Ceritanya, waktu itu, sehabis sarapan, saya langsung beranjak ke meja kerja buat bikin konten tutorial. Seperti biasa. Sebelum membuat konten, saya akan mencari-cari inspirasi di TikTok.

Berharap menemukan video yang bisa saya pakai sebagai bahan konten, tapi kenyataannya, fyp saya malah penuh dengan potret memilukan tentang bencana di Aceh dan Sumatera Barat.

Isinya bermacam-macam, ada yang bikin hati ini seperti disayat-sayat, tapi tidak sedikit juga yang bikin saya ingin banting ponsel karena... masih banyak masyarakat yang dengan entengnya membuat komentar pedas atau nyinyiran dan komentar yang bernada menghakimi, alih-alih memberi komentar yang menunjukkan rasa empati, apalagi ikut menolong.

Saya mengikuti semua VT dengan rasa yang campur-aduk, antara sedih dan resah. Saking seringnya melihat berita bencana Sumatera ini, saya jadi lupa sama tagar #TipsTrikAndroid karena keseringan nyari tagar #BanjirSumatera atau #AcehTamiang.

Tak bisa saya pungkiri, banjir besar yang melanda Aceh dan wilayah Sumatera lainnya telah merenggut banyak korban jiwa, menyebabkan anak-anak terpisah dari keluarganya, rumah rusak, infrastruktur hancur, dan masyarakat kehilangan mata pencaharian sekaligus kehilangan sumber makanan dan air bersih.

Semuanya terasa seperti deretan fakta yang menyesakkan dada. Namun, ada satu momen yang membuat rasa itu berubah menjadi sesuatu yang sedikit... lebih dalam... perasaan tidak berdaya sebagai sesama manusia.

Itu terjadi ketika saya tak sengaja menonton sebuah vlog dari salah satu korban. Dengan suara lirih, ia mengaku terpaksa mengambil beberapa bungkus makanan instan (yang bukan haknya) karena ia dan anak-anaknya sangat kelaparan.

Yang membuat video itu semakin menyesakkan, bukan hanya karena pengakuannya, melainkan janjinya. Suatu hari nanti, ketika keadaan membaik, ia akan mengembalikan semua yang telah ia ambil.

Di titik itu, air di pelupuk mata tak bisa lagi saya bendung. Bukan karena marah padanya, tetapi karena merasa dunia seolah membiarkannya sampai harus membuat pilihan yang begitu sulit.

Pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan di kepala saya, berisik dan emosional. “Selambat ini kah kita bertindak?” “Ke mana bantuan?” “Kenapa semuanya terasa seperti tak peduli?” Amarah itu awalnya mencari sasaran. Pemerintah, para penggalang dana, masyarakat luas, bahkan diri saya sendiri tak luput dari tudingan batin itu.

Namun, pengalaman dan sedikit bekal literasi digital yang pernah saya pelajari memaksa saya untuk tetap memakai kepala dingin. Menarik napas. Tidak langsung bereaksi. Saya mencoba menahan diri agar tidak larut dalam emosi yang mudah dipantik oleh potongan video-video viral.

Saya mulai mencari informasi lebih luas, membaca dari berbagai sumber, dan perlahan menyadari bahwa banjir kali ini memang luar biasa dahsyat.

Skala kerusakan, luas wilayah terdampak, serta medan yang sulit membuat penyaluran bantuan tidak semudah yang dibayangkan dari balik layar ponsel.

Menemukan Kebijaksanaan di Tengah Arus Informasi

Ilustrasi jembatan putus (Sumber: Doc. Pribadi)

Ada bantuan yang tertahan, ada yang belum sampai, bahkan ada yang harus dijatuhkan dari udara karena jalur darat benar-benar terputus.

Pemahaman itu tidak serta-merta menghapus rasa sedih. Tapi ia membantu saya menjadi lebih bijak. Lebih hati-hati dalam menelan dan menyebarkan narasi. Lebih sadar bahwa tidak semua keterlambatan adalah kelalaian, dan tidak semua yang terlihat di media sosial mewakili keseluruhan cerita.

Ya, memang benar! Sebagian besar video yang viral memperlihatkan keluhan mengenai listrik yang belum menyala, logistik yang belum datang, atau narasi-narasi bernada negatif lainnya. Namun saya yakin, di balik “algoritma” yang gemar mengangkat emosi, ada banyak hal baik yang berjalan dalam senyap.

Ada relawan yang terus bergerak, ada petugas yang bekerja tanpa sorotan, dan ada upaya-upaya tanpa lelah untuk penyaluran bantuan secepatnya, terutama dari saudara-saudara kita para relawan dan pemerintah... yang mungkin tidak pernah masuk linimasa kita, tapi bertindak mereka nyata adanya.

Dan... kalau saya hanya berhenti di video-video viral, besar kemungkinan saya akan ikut hanyut dalam emosi, termakan potongan cerita yang belum tentu utuh, atau bahkan hoax yang menyamar sebagai empati.

Saya mungkin tak akan menyadari betapa absurdnya proses pemulihan itu jika hanya dilihat dari layar ponsel. Seolah semua bisa selesai dalam hitungan hari, seolah setiap penderitaan bisa dihilangkan dalam waktu semalam.

Padahal, di sisi lain yang jarang disorot, pemerintah, relawan, dan berbagai organisasi kemanusiaan sedang bergerak secepat yang mereka mampu. Membuka akses jalan yang tertutup lumpur, memperbaiki sanitasi, memastikan kebutuhan dasar tetap tersedia. Semua itu berjalan, meski tidak selalu tampil dramatis atau viral.

Saya ingat pernah membaca satu berita tentang penanganan jalan dan jembatan pascabencana. Menteri Pekerjaan Umum menginstruksikan kerja 24 jam penuh untuk membersihkan lumpur di ruas jalan nasional dan daerah.

Daftar jalan dan jembatan fungsional mencakup jalan nasional di Aceh Tamiang. Jalan Aceh Tamiang adalah akses jalan nasional yang menghubungkan Medan-Aceh melalui wilayah Aceh Tamiang, kini kembali normal dan dapat dilalui kendaraan.

Sinergi di Balik Pulihnya Akses Jembatan

Jembatan Krueng Bireuen (Sumber: Doc Ditjen Bina Marga Kementerian PU)

Selain itu, tim Dirjen Bina Marga Kementerian PU yang bersinergi dengan masyarakat serta TNI juga telah memastikan jembatan Krueng Tingkeum, Krueng Meureudu, Alue Kulus, Teupin Mane, hingga Kreung Beutong, siap dilalui.

Tujuannya cuma satu. Supaya logistik dan bantuan bisa segera masuk. Kerja keras semacam ini jarang muncul di linimasa. Tidak ada musik latar menyentuh, tidak ada potongan adegan yang dirancang untuk memancing emosi. Tapi justru di situlah kerja sesungguhnya berlangsung.

Tentu saja, hati tetap terasa berat melihat saudara-saudara kita kehilangan rumah dan harus bertahan di tenda darurat. Namun, di tengah rasa sedih itu, ada juga perasaan lega yang pelan-pelan muncul.

Misalnya, saat saya membaca kabar bahwa ribuan liter air bersih akhirnya mengalir ke kampung-kampung terdampak. Listrik mulai menyala di beberapa wilayah. Bantuan makanan, pakaian, dan tenda darurat satu per satu sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Setelah akses jalan mulai bisa dilalui.

Ini adalah kabar baik. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan, seolah hati ini berkata pelan, “akhirnya… mereka bisa minum air bersih tanpa rasa cemas.”

Ada pula satu-dua video warga yang tersenyum, meski pakaian mereka masih lusuh dan latar di belakangnya jauh dari kata layak. Senyum-senyum tulus itu... entah kenapa bikin hati ini nyesss....

Sinergi dalam Senyap, Membangun Kembali Jalur Harapan

Ilustrasi anak di pengungsian bermain bola (Sumber: Doc Pribadi)

Selain itu, tim Dirjen Bina Marga Kementerian PU yang bersinergi dengan masyarakat serta TNI juga telah memastikan jembatan Krueng Tingkeum, Krueng Meureudu, Alue Kulus, Teupin Mane, hingga Kreung Beutong, siap dilalui.

Tujuannya cuma satu. Supaya logistik dan bantuan bisa segera masuk. Kerja keras semacam ini jarang muncul di linimasa. Tidak ada musik latar menyentuh, tidak ada potongan adegan yang dirancang untuk memancing emosi. Tapi justru di situlah kerja sesungguhnya berlangsung.

Tentu saja, hati tetap terasa berat melihat saudara-saudara kita kehilangan rumah dan harus bertahan di tenda darurat. Namun, di tengah rasa sedih itu, ada juga perasaan lega yang pelan-pelan muncul.

Misalnya, saat saya membaca kabar bahwa ribuan liter air bersih akhirnya mengalir ke kampung-kampung terdampak. Listrik mulai menyala di beberapa wilayah. Bantuan makanan, pakaian, dan tenda darurat satu per satu sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Setelah akses jalan mulai bisa dilalui.

Ini adalah kabar baik. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan, seolah hati ini berkata pelan, “akhirnya… mereka bisa minum air bersih tanpa rasa cemas.”

Ada pula satu-dua video warga yang tersenyum, meski pakaian mereka masih lusuh dan latar di belakangnya jauh dari kata layak. Senyum-senyum tulus itu... entah kenapa bikin hati ini nyesss....

Bangkit dan Pulih sebagai Satu Bangsa

Ilustrasi penyaluran bantuan kepada korban banjir (Sumber: Doc. Pribadi)

Di dalamnya ada langkah-langkah kecil yang mungkin terlihat sepele, tapi justru di situlah harapan berada. Sumur bor yang memancarkan air, satu hunian sementara yang bisa ditempati, satu bantuan yang datang tepat waktu... semuanya adalah pertanda bahwa kita belum menyerah.

Pada akhirnya, pemulihan bukan hanya tentang bangkit dari bencana alam. Ia adalah upaya untuk pulih bersama sebagai bangsa, berjalan seirama meski langkah kita berbeda.

Tidak meninggalkan siapa pun di belakang, karena kita percaya bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan yang dirangkum dalam satu prinsip sederhana namun mendalam yang sudah kita pelajari sejak duduk di bangku SD dulu... “Bhinneka Tunggal Ika.”

Baca Juga