Bimo Aria Fundrika | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi menggunakan AI (Pexels/Sanket Mishra)
Zahrin Nur Azizah

Saat ini kecerdasan buatan atau yang lebih dikenal sebagai AI sudah bukan hal yang asing lagi. Kehadirannya terasa dekat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam banyak pekerjaan, AI digunakan untuk mempermudah tugas dan mempercepat proses.

Mulai dari mencari referensi, menyusun ide, hingga membantu menyelesaikan pekerjaan administratif. Kemudahan inilah yang perlahan memengaruhi kebiasaan dan gaya hidup seseorang. Tanpa disadari, cara kita bekerja, berpikir, bahkan mengambil keputusan ikut berubah.

Kini, bukan hanya untuk urusan pekerjaan, ada juga yang mulai menggunakannya sebagai teman curhat. Seseorang bisa bercerita panjang lebar, lalu teknologi ini akan memberikan respons yang terdengar seolah-olah seperti teman yang memahami. Padahal sebenarnya mereka bisa saja memilih untuk bercerita kepada teman atau keluarga. Namun anehnya, sebagian justru lebih memilih berbicara dengan AI.

Di sinilah muncul pertanyaan dalam benak saya: kenapa banyak orang kini lebih suka curhat pada kecerdasan buatan daripada manusia? Apakah karena merasa lebih aman?

Dan ternyata fenomena ini bukan kasus individual semata, melainkan gejala sosial yang semakin terlihat di masyarakat kita.

Krisis Kesepian di Tengah Konektivitas

Kini tidak sedikit orang memiliki banyak pengikut di media sosial atau memiliki banyak teman di dunia nyata. Interaksi terlihat tampak ramai dengan ditandai dengan percakapan yang terus berjalan.

Namun di balik itu semua, ada alasan yang terdengar membingungkan, yaitu tetap merasa kesepian. Di tengah keramaian justru muncul rasa hampa yang sulit dijelaskan. Perasaan tidak benar-benar dipahami membuat seseorang tetap merasa sendiri.

Di titik itulah sebagian orang mulai mencoba curhat ke AI. Awalnya mungkin hanya coba-coba. Sekadar bertanya rekomendasi film atau meminta saran ringan. Namun lama-kelamaan kebiasaan itu berlanjut. Dari pertanyaan sederhana berubah menjadi cerita pribadi yang lebih dalam. Mesin cerdas ini perlahan mengaburkan batas antara teknologi dan persahabatan. Ia hadir bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai ruang berbagi cerita bahkan emosi.

Ada banyak alasan di balik pilihan ini. Alasan yang sering dilontarkan adalah karena sistem ini tidak pernah menghakimi. Dalam percakapan, disana tidak ada tatapan sinis atau ejekan. Tidak ada respons yang berubah menjadi adu nasib. AI mendengarkan tanpa menyela. Cerita yang disampaikan juga tidak akan disebarkan kepada orang lain.

Selain itu, teknologi ini selalu tersedia kapan saja. Ketersediaan ini membuat sebagian pengguna menghabiskan waktu cukup lama untuk berinteraksi. Secara emosional terasa lebih aman. Bahkan bagi sebagian orang, alat ini bisa terasa lebih nyaman daripada curhat dengan keluarga sendiri. Teman memang bisa menjadi tempat berbagi. Namun ada kekhawatiran bahwa kejujuran justru dapat merusak relasi yang sudah ada. Karena itulah AI dipilih sebagai teman curhat.

Apakah Ini Sehat?

Untuk menjawabnya, kita perlu melihat secara seimbang. Tidak perlu langsung menghakimi. Namun juga tidak tepat jika membenarkan sepenuhnya. Ada sisi positif yang patut dipertimbangkan. Menuliskan keluh kesah kepada AI bisa membantu menata pikiran. Ketika kepala terasa penuh, proses menulis dapat membantu mengurai pikiran yang kusut di kepala. Hingga akhirnya emosi yang awalnya campur aduk terasa lebih tenang.

AI juga bisa menjadi sarana refleksi awal. Respons yang diberikan biasanya disusun berdasarkan informasi dan data dari berbagai sumber. Hal ini dapat memberi sudut pandang baru yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Dalam batas tertentu, alat ini bisa menjadi alternatif sementara sebelum seseorang mencari bantuan profesional.

Namun ada pula risiko yang perlu disadari. Interaksi yang terlalu sering dapat menimbulkan ketergantungan emosional. Seseorang bisa menjadi semakin enggan menghadapi relasi di dunia nyata. Kemampuan untuk berkomunikasi langsung perlahan menurun. Bahkan ada kemungkinan menarik diri dari interaksi sosial. Perlu diingat bahwa respons AI berbasis data, bukan emosi sungguhan. Saran yang diberikan tidak bisa dijadikan patokan utama dan tidak dapat menggantikan peran manusia.

Cara Mengurangi Ketergantungan pada AI

Pada dasarnya, AI diciptakan sebagai alat untuk meringankan pekerjaan manusia, bukan untuk menggantikan relasi antarmanusia. Karena itu diperlukan kesadaran diri agar dapat menggunakannya secara sehat.

Kita perlu memahami bahwa interaksi dengan kecerdasan buatan tidak sama dengan interaksi dengan manusia. Ada keterbatasan yang tidak bisa dilampaui. Walaupun teknologi ini canggih, tetap saja tidak memiliki emosi sungguhan, meskipun responsnya terkadang terasa hangat dan personal.

Penggunaan yang berlebihan dapat membuat kita terbiasa dengan respons instan dan perlahan mengurangi kemampuan menghadapi dinamika hubungan nyata yang tidak selalu cepat dan nyaman. Karena itu penting untuk membatasi waktu dan intensitas penggunaan.

Beri ruang bagi diri sendiri untuk tetap membangun percakapan langsung dengan orang terdekat, meski terasa canggung atau tidak selalu mulus.

Jangan menjadikan AI sebagai jawaban utama atas setiap persoalan. Jika menghadapi masalah yang serius, akan lebih baik mencari pertolongan dari pihak yang profesional atau berbicara dengan orang yang benar-benar bisa hadir secara emosional. Dukungan dari manusia tetap tidak tergantikan.

Bijak di Tengah Kemajuan Teknologi

Kita hidup di masa ketika teknologi terasa seperti sahabat. Bahkan terkadang lebih dekat daripada teman sendiri. Namun di sinilah krisis kesepian muncul sebagai problem sosial, bukan lagi sekadar persoalan individu. Fenomena curhat pada AI dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan mental. Oleh karena itu, penting untuk bijak dalam menggunakannya. Jangan sampai terlena dan mengaburkan arti relasi yang sebenarnya di dunia nyata.