Media sosial TikTok dan X sempat ramai membicarakan sosok pasangan konten kreator muda, Azkiave dan yuka_san__, yang terkesan mempromosikan pernikahan di usia 19 tahun dan berhenti kuliah kepada pengikutnya. Keduanya pun menjadi sorotan setelah konten glorifikasi ini memicu perdebatan publik.
Apalagi, mereka secara terbuka menyampaikan pandangan tersebut seolah ingin mendorong pengikutnya untuk berhenti kuliah demi fokus pada pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Konten tersebut dengan cepat menjadi viral, menuai kontroversi sekaligus kritik tajam, hingga akhirnya disadari oleh "pelaku" yang kemudian menyampaikan permintaan maaf.
Sayangnya, permintaan maaf dari Azkiave di akun media sosial pribadinya justru membuat geger. Hal ini seolah membuka drama part II yang semakin memicu kontroversi karena dirasa cacat secara struktural dan tidak tepat sasaran pada poin masalah.
Statement Azkiave: Non-Apology Apology?
Dalam unggahannya pada 9 Januari 2025 di akun Instagram @azkiave, permintaan maaf disampaikan setelah melihat reaksi publik yang semakin ramai atas pernyataan soal nikah usia 19 tahun yang seolah diglorifikasi. Namun, jika membaca teks Azkiave, cara mengomunikasikan permintaan maafnya terasa kurang nyaman dibaca dan terkesan cacat struktural. Bisa dibilang, gaya minta maafnya mengarah ke konsep non-apology apology.
Dia memang menyampaikan maaf, tetapi tidak menjelaskan kesalahannya secara eksplisit hingga perlu meminta maaf kepada publik. Hanya ada permintaan maaf karena sudah membuat publik tidak nyaman. Bukan hanya itu, Azkiave masih menambahkan alasan keterbatasan media sosial hingga ilmu yang dia usung tidak tertangkap atau tersampaikan dengan baik. Artinya, publik seolah disalahkan karena tidak “secerdas” dirinya.
Reframing Defensif Jadi Senjata untuk Melawan
Di sisi lain, Azkiave juga membuka kalimat permintaan maafnya dengan statement “melihat reaksi makin melebar dan mulai menimbulkan mudarat...” yang malah menyudutkan publik. Warganet seolah disalahkan karena reaksinya yang melebar.
Padahal, reaksi yang lahir dari kontroversi justru berakar dari pernyataan Azkiave sendiri. Dia seolah ingin menggeser pola yang ada dengan menyalahkan publik yang bereaksi berlebihan atas pernyataannya soal nikah di usia 19 tahun.
Drama Babak Kedua Mengarah pada Indikasi Playing Victim
Tidak sampai di situ, Azkiave juga menunjukkan indikasi playing victim dengan menyalahkan batasan kemampuan orang lain. Dia merasa memiliki ilmu yang deep dan sama sekali tidak salah berbicara, sehingga kesalahan terletak pada ketidakmampuan orang dalam memahami ilmunya.
Padahal, di sisi lain, saat seseorang dengan kemampuan dan pemahaman yang mendalam berbicara, seharusnya pesan tersebut disampaikan dengan cara yang baik agar bisa dimengerti. Jika tidak, artinya gaya komunikasinya sendiri yang gagal.
Awal Mula Kontroversi di Media Sosial
Konten viral ini awalnya hadir dengan narasi personal mengenai pendidikan tinggi yang dianggap sebagai bagian dari extended adolescence yang berpotensi membuat generasi muda takut mengambil tanggung jawab besar. Bahkan, kuliah disebut sebagai “scam” jika bukan jurusan spesialis, hingga memicu gelombang kritik dari warganet yang merasa bahwa nilai ini tidak realistis dan bisa berbahaya bagi banyak orang, terutama pengikutnya.
Meski opini ini sah-sah saja untuk konsumsi pribadi, hal tersebut berpotensi menjadi salah kaprah saat tidak dipahami secara lebih luas. Terlebih, mereka juga seolah mendorong argumen pernikahan sebagai solusi hidup yang lebih tenang dan bermakna dibandingkan dengan mengejar pendidikan tinggi. Namun, masalah muncul saat pesan tersebut tidak lagi berhenti pada pengalaman pribadi, tetapi dibingkai seolah menjadi rekomendasi umum bagi pengikutnya yang kebanyakan masih berusia belasan hingga awal 20-an.
Normalisasi Keputusan Besar Tanpa Konteks Risiko
Kritik datang sangat keras karena pengguna media sosial menilai konten tersebut berpotensi menyesatkan. Apalagi, banyak pengikutnya yang masih muda dan berada dalam fase pencarian jati diri. Keberatan utama publik lebih menyoroti bahwa pernikahan usia 19 tahun tidak bisa disamaratakan dan berhenti kuliah bukan keputusan ringan. Terutama, ada risiko ekonomi, mental, dan relasi yang jarang dibahas.
Bahkan, ada juga yang menilai bahwa konten tersebut terlalu menonjolkan sisi romantis tanpa menampilkan kompleksitas serta konsekuensi jangka panjang dari keputusan tersebut. Padahal, setiap keputusan pasti memiliki dua sisi mata uang yang membutuhkan pertimbangan matang.
Baca Juga
-
Tidur Sekasur tapi Rasanya Seperti Teman Sekamar? Kenali 5 Tanda Pernikahan Sedang Sekarat
-
Hubungan Sempurna di Medsos Cuma Ilusi? Ini Bukti Gen Z Mulai Sadar!
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang
-
Menjadi Dewasa Tidak Sesederhana Itu: Realita Adulting Gen Z di Era Mahal
Artikel Terkait
-
5 HP Rp2 Jutaan Kamera Terbaik 2026 untuk Konten Kreator
-
Dilema Penulis Zaman Now: Menulis Buku atau Menjadi Konten Kreator?
-
Perjalanan Inspiratif Samuel Christ: Bikin Finansial Jadi Mudah Dipahami Anak Muda
-
Dari Anak Petani, Kini Rivel Sumigar Jadi Kreator dengan Jutaan Pengikut!
-
Siapa Mas Gunawan? Kontennya Dikecam karena Pamer Kemesraan dengan Anak SMP
News
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
Terkini
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening