Sobat Yoursay, ada sebuah kenyataan pahit yang makin sering kita lihat, tetapi jarang dibahas secara jujur. Banyak anak muda yang memulai pagi dengan pekerjaan utama, siang hari lanjut mengerjakan proyek sampingan (freelance), dan malamnya masih sibuk mengurus toko online atau pesanan klien.
Satu tubuh dipaksa menangani tiga pekerjaan sekaligus. Namun anehnya, pada akhir bulan, saldo rekening tetap saja "meringis". Ini bukan karena boros kopi kekinian, melainkan karena biaya hidup memang sedang mencekik dari segala sisi.
Fenomena ini sering diberi label keren seperti multi-jobber atau side hustler. Di media sosial, narasinya selalu soal semangat, "Kerja keras sekarang, sukses kemudian." Namun jujur saja, Sobat Yoursay, berapa banyak dari kita yang benar-benar sampai ke tahap "menikmati hasil" itu? Alih-alih sukses, banyak yang justru terjebak dalam lingkaran setan kerja tanpa henti sambil terus bertanya-tanya, "Kenapa uangnya masih belum cukup juga?"
Kenyataannya, kebutuhan hidup zaman sekarang bukan hanya untuk makan dan tempat tinggal. Ada beban biaya internet, transportasi, cicilan, hingga kesehatan yang terus membengkak. Di kota besar, gaji sering kali habis hanya untuk ongkos sampai ke tempat kerja. Sementara itu di desa, meskipun harga barang sedikit lebih murah, kenaikan upahnya sangat lambat. Akhirnya, punya satu pekerjaan jadi tidak realistis; punya dua masih waswas; punya tiga pun seringnya cuma cukup untuk "napas".
Sobat Yoursay, generasi sekarang sering dicap kurang gigih atau malas. Padahal, kalau memang malas, mana mungkin mereka sanggup lembur dari fajar sampai tengah malam? Dahulu, satu pekerjaan bisa menghidupi seluruh anggota keluarga. Sekarang, tiga pekerjaan terkadang cuma cukup untuk satu orang bertahan hidup sendirian. Menyalahkan anak muda karena "kurang pintar atur uang" rasanya terlalu menyederhanakan masalah.
Banyak yang memulai karier dengan gaji awal yang sangat minim, tetapi dituntut memiliki produktivitas selangit. Ketika gaji tidak cukup untuk hidup layak, solusinya bukan naik upah, melainkan malah disuruh mencari sampingan. Budaya kerja rangkap ini pun dianggap normal. Kalau ada yang mengeluh lelah, dibilang kurang mental. Kalau mengeluh kurang uang, dibilang kurang bersyukur.
Padahal, tubuh kita punya batas. Bekerja terus-menerus tanpa istirahat itu ada harganya, yaitu kesehatan fisik dan mental yang ambruk. Banyak anak muda yang dari luar kelihatan sibuk dan produktif, tetapi sebenarnya mereka sedang mengalami kelelahan emosional yang hebat (burnout). Mereka mengorbankan waktu istirahat dan hobi bukan karena ingin hidup mewah, melainkan demi meredam kecemasan finansial.
Di media sosial, kerja tiga job dipuji sebagai sumber inspirasi. Namun, jarang ada yang berani mempertanyakan, kenapa sampai harus kerja sebanyak itu? Dan kenapa sistem membiarkan ini terjadi? Sobat Yoursay, kondisi ini menciptakan dilema. Karena terlalu sibuk mengejar tambahan uang, ruang untuk belajar hal baru, bersosialisasi, atau sekadar beristirahat jadi hilang.
Idealisme dan mimpi-mimpi besar sering kali harus dikalahkan oleh tagihan yang harus dibayar. Banyak anak muda terpaksa diam dan tetap bekerja meskipun kewalahan, hanya karena takut dianggap lemah di era yang memuja "kesibukan" sebagai ukuran kesuksesan.
Masalahnya bukan pada individu anak mudanya, melainkan pada sistem yang membuat kerja keras tidak lagi sebanding dengan hasilnya. Upah yang jalan di tempat, harga barang yang terus naik, serta minimnya jaminan sosial membuat kerja rangkap bukan lagi sebuah pilihan, melainkan cara untuk bertahan hidup.
Jadi, Sobat Yoursay, kalau hari ini kamu merasa lelah sekali karena harus 'jungkir balik' cari cuan, ketahuilah bahwa itu bukan sepenuhnya salahmu. Kamu tidak kurang usaha; kamu hanya sedang berjuang di tengah arus yang memang lagi kencang-kencangnya. Yuk, mulai kurangi menyalahkan diri sendiri dan mulai bicara jujur tentang kondisi ini. Mungkin yang kita butuhkan saat ini bukan tambahan motivasi untuk kerja lebih keras lagi, melainkan keberanian untuk mendefinisikan ulang apa itu hidup yang cukup dan layak.
Baca Juga
-
Perdamaian Tanpa Palestina, Damai untuk Siapa?
-
Misi Damai di Luar, Kegelisahan di Dalam: Menggugat Legitiminasi Diplomasi
-
Bebas Aktif atau Bebas Selektif? Menyoal Kursi Indonesia di Forum Trump
-
Hutan di Meja Makan: Mengapa Suapan Kita Bisa Menjadi Jejak Deforestasi?
-
Akselerasi Mimpi di Negeri yang Hobi Menunda: Sebuah Catatan Kritis
Artikel Terkait
-
Self-Neglect Era Gen Z: Saat Kita Baru Peduli Diri Sendiri setelah Burnout
-
Career Minimalism ala Gen Z: Mengenal Tren Kerja yang Anti Burnout
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Kerjaan Bikin Sulit Fokus Jelang Liburan? Coba Terapkan Mindful Break
-
Bukan Malas, Hanya Lelah: Kisah Pribadi Mengatasi Kelelahan Mental
News
-
Darurat Arogansi Aparat: Menilik Dampak Kerugian Pedagang karena Es Gabus Dikira Spons
-
Fresh Graduate Jangan Minder! Pelajaran di Balik Fenomena Open To Work Prilly Latuconsina
-
Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?
-
Milenial vs Gen Z: Mengapa Generasi Milenial Dinilai Lebih Awet Muda?
-
Perbandingan Banjir Jakarta Dulu dan Sekarang: Cerita Warga Kelapa Gading Timur