M. Reza Sulaiman | Irhaz Braga
Ilustrasi adu nasib. (pexel)
Irhaz Braga

Di ruang digital hari ini, penderitaan kerap dipertontonkan dan dibandingkan. Cerita tentang kesulitan hidup, tekanan ekonomi, pengalaman traumatis, hingga kelelahan mental berseliweran di linimasa. Namun, alih-alih menjadi ruang empati kolektif, narasi tersebut sering berubah menjadi ajang adu nasib. Siapa yang paling menderita, siapa yang paling layak mendapat simpati, dan siapa yang dianggap berlebihan dalam mengeluh.

Fenomena ini dikenal sebagai budaya adu nasib, yakni kecenderungan membandingkan penderitaan individu atau kelompok seolah-olah kesulitan hidup adalah kompetisi. Dalam budaya ini, empati menjadi bersyarat. Penderitaan hanya diakui jika dianggap cukup parah menurut standar sosial yang kabur dan sering kali tidak adil.

Penderitaan dalam Logika Media Sosial

Budaya adu nasib tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dalam ekosistem media sosial yang mendorong narasi personal, keterbukaan emosional, dan validasi publik. Platform digital memberi ruang luas bagi individu untuk menceritakan pengalaman hidupnya, termasuk luka dan kesulitan. Namun, algoritma juga membentuk cara cerita itu dikonsumsi.

Konten yang menampilkan penderitaan ekstrem cenderung lebih mudah viral. Kisah perjuangan hidup yang dramatis, kemiskinan yang divisualisasikan, atau trauma yang diceritakan secara emosional sering mendapat perhatian lebih besar. Dalam logika ini, penderitaan berubah menjadi konten yang dinilai dari seberapa kuat ia menggugah emosi.

Masalah muncul ketika perhatian publik bersifat terbatas. Tidak semua penderitaan mendapat ruang yang sama. Akibatnya, terjadi kompetisi implisit. Cerita seseorang kerap direspons dengan pembanding seperti, "masih ada yang lebih susah," "masih ada yang lebih menderita," atau "keluhanmu belum seberapa." Alih-alih empati, yang muncul justru hierarki penderitaan.

Logika ini berbahaya karena menormalisasi penyangkalan atas pengalaman subjektif. Rasa sakit tidak lagi dipahami sebagai pengalaman personal yang sah, melainkan harus lolos verifikasi sosial terlebih dahulu.

Empati yang Terkikis dan Normalisasi Kekerasan Simbolik

Budaya adu nasib berdampak langsung pada kualitas empati sosial. Ketika penderitaan dibandingkan, empati kehilangan fungsinya sebagai respons kemanusiaan yang spontan. Ia berubah menjadi penilaian moral mengenai siapa yang pantas mengeluh dan siapa yang harus diam.

Dalam konteks ini, penderitaan kelompok rentan sering kali direduksi. Buruh dianggap wajar menderita karena sudah memilih pekerjaannya. Generasi muda dianggap manja karena membicarakan kesehatan mental. Kelompok miskin dinilai malas karena hidupnya sulit. Narasi semacam ini adalah bentuk kekerasan simbolik yang halus, tetapi merusak.

Lebih jauh, budaya adu nasib juga melemahkan solidaritas. Ketika setiap orang sibuk membuktikan bahwa penderitaannya lebih berat, ruang untuk membangun kesadaran struktural menyempit. Masalah sosial direduksi menjadi urusan individu, bukan hasil dari sistem yang timpang.

Alih-alih mempertanyakan kebijakan, struktur ekonomi, atau relasi kuasa, publik terjebak dalam perdebatan tentang siapa yang lebih pantas mengeluh. Ini menguntungkan sistem yang menormalisasi ketimpangan karena kemarahan dan kekecewaan dialihkan ke sesama warga.

Melampaui Kompetisi Penderitaan

Mengkritik budaya adu nasib bukan berarti menolak ruang berbagi pengalaman hidup. Yang perlu diubah adalah cara kita merespons penderitaan. Empati tidak seharusnya bersifat kompetitif. Mengakui rasa sakit seseorang tidak berarti meniadakan penderitaan orang lain.

Media dan platform digital memiliki peran penting dalam membentuk ekosistem empati. Algoritma yang hanya mengangkat kisah paling ekstrem memperkuat logika kompetisi. Diperlukan pendekatan yang lebih beragam dan kontekstual dalam mengangkat isu sosial agar penderitaan tidak direduksi menjadi tontonan emosional.

Di tingkat publik, literasi empati menjadi krusial. Masyarakat perlu dibiasakan untuk mendengar tanpa membandingkan, serta bertanya tentang konteks, bukan menghakimi intensitas penderitaan. Kesadaran bahwa banyak kesulitan hidup bersumber dari masalah struktural dapat menggeser fokus dari individu ke sistem.

Budaya adu nasib adalah cermin dari masyarakat yang lelah, tertekan, dan kekurangan ruang aman untuk berempati. Selama penderitaan diperlakukan sebagai kompetisi, solidaritas akan terus rapuh. Tantangannya adalah membangun ruang publik yang memungkinkan empati tumbuh tanpa syarat, tanpa perbandingan, dan tanpa hierarki. Hanya dengan cara itu, penderitaan dapat menjadi dasar solidaritas, bukan ajang perlombaan.