Hayuning Ratri Hapsari | Davina Aulia
Ilustrasi seorang remaja (Unsplash.com/ Sasha Matveeva)
Davina Aulia

Berbagai persoalan yang melibatkan remaja kian sering muncul ke permukaan dalam beberapa tahun terakhir. Kasus perundungan, kekerasan antarremaja, penyalahgunaan media sosial, perilaku konsumtif berlebihan, hingga menurunnya rasa hormat terhadap orang tua dan guru menjadi fenomena yang mengkhawatirkan.

Remaja tampak semakin mudah tersulut emosi, sulit menerima batasan, dan cenderung mengekspresikan diri tanpa mempertimbangkan norma sosial. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya degradasi moral yang perlahan tampak dalam kehidupan remaja Indonesia.

Jika dibandingkan dengan remaja pada era sebelumnya, perbedaan perilaku terlihat cukup mencolok. Remaja di masa lalu hidup dalam keterbatasan akses informasi dan kontrol sosial yang lebih kuat dari keluarga serta lingkungan.

Norma kesopanan, penghormatan kepada otoritas, dan nilai kebersamaan masih dijunjung tinggi. Meskipun bukan berarti generasi sebelumnya tanpa masalah, pelanggaran norma sosial tidak semudah sekarang untuk dilakukan secara terbuka dan masif. Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru yang memengaruhi cara remaja bersikap dan memaknai nilai moral.

Berbagai faktor menjadi penyebab munculnya persoalan moral pada remaja masa kini. Perkembangan teknologi yang pesat, perubahan pola pengasuhan, lemahnya kontrol sosial, serta kurangnya keteladanan dari orang dewasa turut berperan besar.

Remaja tumbuh di tengah arus informasi yang nyaris tanpa filter, sementara pendampingan moral dan emosional sering kali tertinggal. Akibatnya, remaja berada dalam situasi yang membingungkan antara kebebasan dan tanggung jawab.

Pengaruh Media Digital dan Media Sosial

Media digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja saat ini. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga membentuk cara berpikir, bersikap, dan menilai diri sendiri. Paparan konten yang mengedepankan popularitas, sensasi, dan validasi instan berpotensi menggeser nilai moral yang seharusnya ditanamkan sejak dini.

Tanpa literasi digital yang memadai, remaja rentan meniru perilaku negatif yang mereka lihat di dunia maya. Kekerasan verbal, ujaran kebencian, hingga perilaku tidak pantas kerap dianggap wajar karena sering muncul di layar gawai. Ketika batas antara benar dan salah menjadi kabur, media sosial berkontribusi pada normalisasi perilaku menyimpang.

Peran Keluarga yang Semakin Melemah

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan moral remaja. Namun, dinamika kehidupan modern membuat banyak orang tua memiliki keterbatasan waktu dan energi untuk mendampingi anak secara optimal. Pola komunikasi yang minim dan pengasuhan yang cenderung permisif atau sebaliknya terlalu otoriter dapat menghambat internalisasi nilai moral.

Ketika keluarga gagal menjadi ruang aman untuk berdiskusi dan menanamkan nilai, remaja akan mencari rujukan di luar rumah. Sayangnya, rujukan tersebut tidak selalu memberikan contoh yang sehat. Ketiadaan figur teladan di rumah memperbesar risiko remaja mengembangkan perilaku yang menyimpang dari norma sosial.

Pendidikan Moral yang Kurang Kontekstual

Pendidikan formal memiliki peran penting dalam membentuk karakter remaja. Namun, pendidikan moral sering kali disampaikan secara normatif dan kurang menyentuh realitas kehidupan remaja. Nilai-nilai diajarkan sebagai hafalan, bukan sebagai panduan hidup yang relevan dengan tantangan sehari-hari.

Akibatnya, remaja kesulitan mengaitkan konsep moral dengan situasi nyata yang mereka hadapi. Sekolah lebih menekankan capaian akademik daripada pembentukan karakter, sehingga aspek moral dan emosional kurang mendapat perhatian serius. Hal ini memperlemah daya tahan moral remaja dalam menghadapi tekanan sosial.

Tanggung Jawab Sosial yang Terabaikan

Degradasi moral remaja tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab sosial yang lebih luas. Lingkungan masyarakat yang permisif terhadap pelanggaran norma turut membentuk pola pikir remaja. Ketika perilaku menyimpang tidak mendapatkan konsekuensi yang jelas, nilai moral kehilangan maknanya.

Remaja belajar dari apa yang mereka lihat di sekitarnya. Jika kekerasan, ketidakjujuran, dan ketidakadilan dianggap hal biasa, maka sulit mengharapkan remaja tumbuh dengan kompas moral yang kuat. Masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pembentukan karakter remaja.

Degradasi moral remaja Indonesia tidak dapat semata-mata dibebankan pada generasi muda sebagai korban zaman. Fenomena ini juga menjadi cermin dari kelalaian kolektif dalam mendampingi, mendidik, dan memberi teladan.

Remaja membutuhkan arah, batasan, dan dukungan untuk tumbuh menjadi individu yang berkarakter. Tanpa keterlibatan aktif keluarga, sekolah, dan masyarakat, degradasi moral akan terus berulang dan menjadi tantangan serius bagi masa depan bangsa.