Reaksi dr Tirta terhadap klarifikasi Mohan Hazian kembali menjadi perhatian publik karena disampaikan secara terbuka dan emosional. Ia menilai klarifikasi tersebut bukan meredakan situasi, justru memicu kemarahan publik yang lebih luas.
Dalam videonya, dr Tirta secara tegas mengkritik isi klarifikasi Mohan. “Mas Mohan, video klarifikasimu jelek dan justru memancing amarah. Tuduhan ke kamu gak 1-2, tapi ada banyak belasan coy. Dan itu semua harus kamu jelaskan, terserah caranya gimana,” kata dr Tirta melalui unggahan pada Senin (10/2/2026).
Kegeraman itu bukan hanya soal isi video, tetapi juga soal cara publik merespons isu pelecehan seksual. Bagi dr Tirta, klarifikasi personal tidak boleh menggeser fokus utama dari substansi persoalan.
Ia menegaskan prinsip dasar dalam menyikapi kasus kekerasan seksual. “Sexual abuse itu di mana pun kasusnya kita selalu aturannya stay with victim,” ujarnya dalam video tersebut.
Dr Tirta juga menekankan keberanian korban dalam bersuara di ruang publik. “Yang ngomong ini akun real, bukan akun anonim. Untuk speak up aja tuh keberaniannya luar biasa. Sudah akun real pernah ke as as a model,” tegasnya.
Menurutnya, keberanian korban untuk membuka pengalaman traumatis tidak boleh diremehkan. Proses speak up bukan tindakan ringan, tetapi keputusan besar yang berisiko secara sosial, mental, dan psikologis.
Dr Tirta juga menanggapi narasi keraguan publik terhadap korban. “Lah kalau gak terbukti?, itu urusan yang dituduh,” ucapnya, menegaskan bahwa beban pembuktian tidak boleh dibalik menjadi tekanan terhadap korban.
Ia melihat pola lama yang terus berulang dalam kasus serupa. Korban dipaksa membuktikan, sementara publik lebih sibuk mencari celah untuk meragukan kesaksiannya.
Kritik juga diarahkan pada pola klarifikasi publik yang dinilai seremonial dan tidak empatik. “Klarifikasi ini sampai jumpa jam 8, kamu pikir boxing, bal-bal an, teaser film?” ujar dr Tirta.
Bagi dr Tirta, persoalan pelecehan seksual tidak bisa diperlakukan sebagai konten atau tontonan publik. Ini adalah persoalan kemanusiaan yang menuntut empati, tanggung jawab moral, dan keberanian berpihak.
Prinsip stay with victim diposisikan sebagai sikap etis, bukan emosional. Ini adalah bentuk perlindungan sosial agar korban tidak sendirian menghadapi tekanan, stigma, dan penghakiman publik.
Keberpihakan pada korban juga berarti menciptakan ruang aman di media sosial dan ruang publik. Tanpa itu, speak up justru berubah menjadi risiko sosial bagi penyintas.
Baca Juga
-
Fakta Menarik Trofi Emas Piala Dunia: Pernah Dicuri, Bukan Milik Sang Juara
-
Timberland Boots: Berawal Dari Sepatu Tukang Jadi Ikon Rapper Dunia Hip Hop
-
JisuLife Ultra 2: Kipas Portable Premium dengan Berbagai Fungsi Menarik!
-
ROG Zephyrus Duo, Laptop Dua Layar dengan RTX 5090 Seharga Mobil Bekas!
-
Bawa Argentina Menang 3-0, Messi Cetak Hattrick Pertama di Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Usai Heboh Dugaan Pelecehan, Korban Akui Dihubungi Pihak yang Mengaku Keluarga Mohan Hazian
-
Alya Putri Hapus Foto Mohan Hazian di Instagram, Netizen Geruduk Postingan Lawas
-
Leona Agustine Ikut Speak up Pelecehan Seksual, Pelakunya Anak Band Terkenal
-
6 Koleksi Mobil Jejouw yang Terseret Kasus Dugaan Pelecehan Mohan Hazian
-
Terpopuler: Rekam Jejak Mohan Hazian, Ini Ramalan Keuangan Zodiak 11 Februari 2026
News
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'
-
Diminta OTP dan Pasang APK Saat Melamar Kerja? Fix, Itu Loker Palsu!
-
Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi
-
Make Munir Live Again: Merawat Ingatan Kasus HAM di Aksi Kamisan Jogja
Terkini
-
Gaji Dipotong Pajak Terus tapi Fasilitas Publik Bapuk, Negara Ngapain Aja?
-
Review 'Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?': Mengupas Pengorbanan Sunyi Seorang Ibu yang Bikin Dada Sesak
-
Peluang Emas Buat UMKM: Jangan Batasi Pasar 'Modest Fashion' Cuma di Segmen Muslim!
-
BIGBANG Tambah Jadwal Konser di Jakarta! Simak Trik Jitu Biar Nggak Gagal War Tiket Lagi
-
Buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia: Cinta, Kemiskinan, dan Kepedihan