M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi berkebun (Unsplash/CDC)
Tika Maya Sari

Menghabiskan sepanjang waktu bekerja, terkena omelan atasan, target yang tidak terpenuhi, hingga dibombardir dengan kelakuan para pemangku kebijakan negara, bahkan geopolitik dunia yang memanas? Stres adalah hal manusiawi yang terjadi jika kita masihlah spesies Homo sapiens.

Hendak pergi tamasya dan healing ke lokasi wisata? Yang ada justru stres duluan dengan padat dan macetnya lalu lintas. Apalagi momentum yang bertumbukan seperti hari Valentine, tahun baru Imlek, hingga pembukaan Ramadan yang menyatu di tahun 2026 ini.

Jika boleh memberi saran, mungkin berkebun adalah ekoterapi manjur bagi kawan-kawan yang merasa sedang lebur.

Studi Menunjukkan Manfaat Berkebun yang Luas

Melansir laman Capital Garden, studi mengungkapkan bahwa berkebun memiliki beragam manfaat yang baik terhadap fisik maupun mental seseorang.

Manfaat bagi fisik tentu saja meningkatkan kebugaran tubuh secara menyeluruh karena aktivitas berkebun mirip dengan olahraga. Kita mencangkul tanah, menanam bibit, serta memberikan pupuk dan air. Semuanya dikemas dalam aktivitas menyenangkan yang sarat kesehatan.

Sementara itu, manfaat bagi mental antara lain:

  • Mengurangi masalah mental seperti depresi dan kecemasan;
  • Mengurangi stres; bahkan
  • Mengatasi hipertensi.

Berkebun Mengajarkan Empati dan Tanggung Jawab

Pada praktiknya, kegiatan berkebun tidak hanya sekadar hobi atau penghilang stres semata. Berkebun mampu menjelma menjadi pelajaran hidup yang mengusung nilai-nilai empati hingga tanggung jawab.

Lewat kegiatan berkebun, secara otomatis kita akan bersentuhan dengan tanah, air, dan alam sekitar. Hal ini tidak hanya menenangkan, tetapi juga menguatkan hubungan kita dengan alam sebagai satu kesatuan. Perlahan-lahan, akan timbul rasa sayang pada tanaman sendiri dan memupuk harapan baru bagi alam ke depannya.

Selain itu, berkebun juga mengajarkan kita untuk bertanggung jawab terhadap tanaman. Alih-alih memasang target harus menanam seribu sayur, lebih baik mengurus tanaman yang sudah ada dengan maksimal. Hal ini tentu saja meliputi pemberian pupuk, penyiraman, perawatan tanaman dari hama, hingga tahap proses panen.

Berkebun Bisa Menjadi Hobi yang Menghasilkan Keuntungan

Berkebun tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental seseorang, melainkan bisa mendatangkan keuntungan atau cuan tambahan.

Bagi kawan-kawan yang berkebun sayur, hasil panennya dapat dijadikan konsumsi pribadi atau dijual ke lingkungan sekitar. Dimasak menjadi menu jualan juga boleh. Sedangkan untuk yang berkebun tanaman bunga-bungaan, selain menambah estetika pekarangan rumah, tanaman tersebut juga bisa dijual sebagai tanaman hias.

Keuntungan bisa berlipat ganda jika ditambah dengan pengolahan sampah organik hasil kebun menjadi kompos.

Ketenangan dan Kepuasan Pribadi

Berkebun nyatanya memberikan kepuasan pribadi yang menyenangkan. Apalagi ketika menyaksikan benih yang kita semai mulai tumbuh perlahan, memunculkan daun demi daun baru, hingga pada masanya siap untuk dipanen.

Ada rasa bangga yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Terutama saat melihat tanaman sayur siap dipotong, bunga yang mekar, atau saat tanaman buah mulai berbunga dan berbuah lebat. Rasanya senang, bahagia, bangga, dan terharu menjadi satu. Rasanya seperti orang tua yang sudah membesarkan anak, haha.

Maka, tidak salah jika berkebun disebut sebagai hobi yang lengkap. Kita merasa semangat karena menuntaskan kepuasan individu, merasakan euforia ketika tanaman yang kita tanam mulai menunjukkan hasil, hingga rasa sayang terhadap lingkungan sekitar.

Lewat berkebun, kita diajari untuk merawat lingkungan dan tumbuhan, juga memahami konsekuensi yang terjadi jika kita mengambil langkah tertentu. Seperti ketika kita memilih menggunakan pupuk kompos atau kimiawi, yang tentu memberikan perbedaan hasil panen serta dampak ekologisnya.

Anyway, kawan-kawan sekalian suka berkebun juga, nggak?