Apa yang terjadi jika sebuah mimpi mulia tentang kesetaraan justru berakhir menjadi tirani yang lebih kejam daripada sebelumnya? Pertanyaan inilah yang menghantui sepanjang saya membaca Animal Farm.
Berawal dari visi Major, si babi tua bijaksana, hewan-hewan di Peternakan Manor milik Tuan Jones memutuskan untuk memberontak. Mereka ingin lepas dari perbudakan manusia yang selama ini merampas telur, susu, hingga anak-anak mereka tanpa pernah memedulikan kesejahteraan para hewan.
Transformasi Menuju Kegelapan
Revolusi pun pecah. Di bawah pimpinan babi-babi cerdas seperti Snowball, Napoleon, dan Squealer, Peternakan Manor berganti nama menjadi Peternakan Hewan. Mereka menetapkan "Tujuh Perintah" sebagai konstitusi dan lagu "Binatang Inggris" sebagai simbol kemerdekaan.
Namun, sebagaimana sejarah sering berulang, kekuasaan terbukti memabukkan. Seiring berjalannya waktu, peternakan itu berubah menjadi miniatur negara yang penuh dengan intrik: perebutan kekuasaan, praktik korupsi, penyebaran fitnah, hingga eksekusi bagi siapa saja yang dianggap pengkhianat.
Simbolisme Karakter dan Golongan Masyarakat
Membaca novel ini terasa seperti membedah sisi gelap birokrasi. Meskipun menggunakan tokoh hewan, Orwell sebenarnya sedang melukiskan wajah manusia.
- Major adalah pionir kemerdekaan yang ideologinya sering kali disalahgunakan setelah ia tiada.
- Snowball mencerminkan rekan seperjuangan yang dikhianati dan disingkirkan.
- Napoleon adalah prototipe penguasa diktator yang licik, sementara Squealer menjadi mesin propaganda yang mahir memutarbalikkan fakta.
- Hal yang paling menyesakkan bagi saya adalah Boxer, si kuda pekerja yang jujur namun naif, mencerminkan rakyat kelas bawah yang bekerja keras demi pemimpinnya tanpa sadar bahwa mereka sedang dieksploitasi.
- Ada pula Muriel (kambing) yang mengerti situasi namun enggan bertindak, serta Moses (gagak) yang melambangkan suara-suara lain yang mencari celah di tengah kekacauan.
Hilangnya Nilai Kemanusiaan dalam Politik
Dunia manusia memiliki "nilai kemanusiaan", maka dalam konteks ini, izinkan saya menyebutnya sebagai "nilai kehewanan". Ketika hewan-hewan ini mulai terobsesi pada kekuasaan, mereka perlahan kehilangan nilai tersebut. Empati lenyap, persahabatan dikhianati, dan segala cara dianggap sah demi ambisi pribadi. Fenomena ini sangat identik dengan perilaku manusia; saat kursi jabatan menjadi tujuan utama, nurani sering kali menjadi tumbal pertama.
Setelah menuntaskan novela ini, sebuah pertanyaan besar muncul di benak saya: "Apa yang sebenarnya dirasakan oleh mereka yang kini duduk di kursi pemerintahan dengan jabatan-jabatan mentereng? Apakah mereka benar-benar memikirkan rakyat, atau hanya sibuk mengamankan nikmat sesaat?" Narasi kelam dalam buku ini terasa begitu relevan dengan dinamika politik yang sering kita saksikan saat ini.
Saya akhirnya memahami mengapa mahakarya klasik ini tetap abadi melintasi zaman. Animal Farm akan selalu menemukan relevansinya selama struktur kekuasaan dan negara masih berdiri. Ia bukan sekadar fabel untuk anak-anak, melainkan cermin retak bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana idealisme bisa hancur di tangan keserakahan. Sebuah bacaan wajib bagi siapa pun yang peduli pada isu keadilan dan kemanusiaan.
Identitas Buku:
- Judul: Animal Farm
- Penulis: George Orwell
- Penerjemah: Prof. Bakdi Soemanto
- Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Terbit: Juni 2021, cetakan ke-12
- Tebal: iv + 144 hlm.
- ISBN: 9786022912828
Baca Juga
-
Yang Terlupakan dan Dilupakan, Upaya Melawan Sunyi dalam Sejarah Perempuan
-
Review Buku Kumpulan Budak Setan: Horor Klasik Ala Penulis Kontemporer
-
Ketika Menjadi Manusia Terasa Begitu Melelahkan, Review Novel 'Ningen Shikkaku' Osamu Dazai
-
Kerumunan Terakhir: Ketika Harga Diri Runtuh di Hadapan Penghakiman Netizen
-
Novel Babel: Menggugat Akar Kolonialisme Lewat Menara Terjemahan
Artikel Terkait
-
Review Novel Perfect Illusion: Saat Cinta Menjadi Bayangan Semu
-
Yang Terlupakan dan Dilupakan, Upaya Melawan Sunyi dalam Sejarah Perempuan
-
Dopamine Detox Paling Elit: E-Ink Reader Bikin Fokusmu Jadi Nggak Rumit
-
Bulan Bolong dan Awal Mula Saya Jatuh Cinta pada Fiksi
-
Bedah Literasi dan Ketangguhan Mental dalam Novel Harga Sebuah Percaya
Ulasan
-
Review Novel Perfect Illusion: Saat Cinta Menjadi Bayangan Semu
-
Refleksi Prapaskah: Menyelami Arti Kekudusan dari The Hole in Our Holiness
-
Film Papa Zola The Movie: Tawa Absurd dengan Sentuhan Realita
-
Duet Calming Barsena dan Nyoman Paul di Lagu 'Ruang Baru', Vibesnya Mahal!
-
Film Abadi Nan Jaya: Potret Sunyi Ambisi dan Tekanan Sosial
Terkini
-
YouTube Lumpuh Tiba-Tiba: Sejenak Merasa Dunia Tanpa Algoritma
-
4 Serum Korea Hyaluronic Acid dan Panthenol, Andalan Skin Barrier Sehat
-
Angpao Imlek Bingung Buat Apa? Ini 3 Rekomendasi Jam Tangan Casio di Bawah Rp500 Ribu
-
Sinopsis Bhabiji Ghar Par Hain, Film Terbaru Ravi Kishan dan Aasif Sheikh
-
Mindful Detachment: Belajar Ketenangan Batin di Tengah Hidup yang Sibuk