Bimo Aria Fundrika | Winu Prakarsa
Ilustrasi lingkungan. (Pixabay)
Winu Prakarsa

Pesantren kilat biasanya identik dengan ceramah agama, tadarus Al-Quran, dan pendalaman fiqih puasa. Namun Ramadan 1447 H di SMKN 1 Sukanagara, Kabupaten Cianjur menghadirkan konsep berbeda. Sekolah ini mengusung Pesantren Ekologi—sebuah program yang memadukan penguatan spiritual dengan aksi nyata menjaga lingkungan.

Program ini dijalankan sebagai bagian dari arahan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang mendorong integrasi pendidikan karakter dengan kesadaran ekologis.

Di SMKN 1 Sukanagara, pendekatan tersebut diterjemahkan dalam bentuk kegiatan yang tidak hanya menyentuh aspek kognitif siswa, tetapi juga sikap dan keterampilan mereka dalam merawat lingkungan sekitar.

Ilustrasi gaya hidup ramah lingkungan. (Pexels)

Pesantren Ekologi dirancang untuk menegaskan bahwa nilai keimanan tidak berhenti pada ritual ibadah. Siswa memang tetap memperdalam pemahaman tentang puasa, tadarus, dan kajian keislaman.

Namun pada saat yang sama, mereka juga diajak memahami peran manusia sebagai khalifah di bumi—yang bertanggung jawab menjaga dan merawat alam.

Selama Ramadan, siswa akan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan berbasis praktik. Salah satunya adalah pemilahan sampah organik dan anorganik di lingkungan sekolah yang dilakukan secara terjadwal.

Kegiatan ini bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi bagian dari pembiasaan. Guru-guru membimbing siswa memahami pentingnya pengelolaan sampah sebagai langkah sederhana yang berdampak besar bagi lingkungan.

Selain itu, siswa juga diajak menerapkan penghematan air saat berwudu. Momentum puasa dimaknai sebagai latihan pengendalian diri, termasuk dalam penggunaan sumber daya alam. Konsep gaya hidup minim sampah (zero waste) pun diperkenalkan sebagai bentuk konkret kesadaran ekologis yang sejalan dengan nilai kesederhanaan dalam Islam.

Tidak berhenti di situ, kegiatan penanaman pohon di area sekitar sekolah juga menjadi bagian dari rangkaian Pesantren Ekologi. Aksi ini diharapkan menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan sekaligus memberikan pengalaman langsung tentang pentingnya penghijauan. Dengan terlibat secara aktif, siswa tidak hanya memahami teori tentang ekologi, tetapi juga merasakan dampaknya secara nyata.

Kepala SMKN 1 Sukanagara, Ati Setiawati, menyampaikan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membangun karakter siswa secara menyeluruh. Menurutnya, penguatan spiritual perlu berjalan beriringan dengan kepedulian sosial dan lingkungan.

“Kami menyambut Ramadan 1447 H dengan penuh rasa syukur. Selain meningkatkan keimanan dan ketakwaan, kami juga mendukung penuh program Pesantren Ekologi. Kami ingin siswa memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari nilai ibadah yang nyata,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Pihak sekolah juga memastikan bahwa meskipun dalam kondisi berpuasa, kegiatan belajar tetap berjalan produktif. Jadwal pembelajaran telah disesuaikan agar siswa tetap dapat mengikuti kegiatan dengan optimal tanpa mengabaikan kondisi fisik mereka. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak menjadi alasan untuk menurunkan semangat belajar, melainkan momentum untuk meningkatkan kualitas diri.

Implementasi Pesantren Ekologi turut melibatkan berbagai pihak, mulai dari guru pendidikan agama hingga aktivis lingkungan lokal. Kolaborasi ini diharapkan menciptakan suasana sekolah yang religius sekaligus dinamis. Siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mendapatkan perspektif praktis dari para pegiat lingkungan.

Melalui program ini, SMKN 1 Sukanagara berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius dan berwawasan lingkungan. Pendidikan tidak lagi dipandang sebatas transfer ilmu, melainkan proses pembentukan sikap dan tanggung jawab sosial.

Pesantren Ekologi menjadi simbol bahwa ibadah tidak terpisah dari realitas kehidupan sehari-hari. Kesadaran menjaga bumi diposisikan sebagai bagian dari pengamalan nilai agama. Dengan fondasi ini, sekolah optimistis siswa mampu menerapkan gaya hidup ramah lingkungan secara konsisten, bahkan setelah Ramadan berakhir.

Baca Juga