Ada sebuah pemandangan yang selalu membuat saya geli sekaligus miris jika jalan-jalan di mal Jakarta atau Surabaya menjelang buka puasa. Di satu sudut, ada restoran fine dining yang sudah memasang papan "fully booked". Di dalamnya, orang-orang dengan jam tangan seharga cicilan rumah saya duduk manis menanti azan magrib. Sementara itu, di parkiran bawah tanah, seorang petugas keamanan sedang membuka bungkusan nasi karet dengan lauk tahu goreng yang sudah dingin.
Meja makan, Kawan-kawan, adalah sekat paling sombong yang pernah diciptakan manusia. Di sanalah kita memamerkan siapa yang makan wagyu dan siapa yang makan obat sakit maag. Namun, untungnya, semesta punya cara untuk menjewer kuping kita yang sombong ini setahun sekali melalui sebuah eksperimen sosial bernama Ramadan.
Selama ini, jika kita bicara soal kelas sosial, kita sering merujuk pada Pierre Bourdieu. Sosiolog Prancis ini pernah bicara soal distinction. Intinya, selera makan itu bukan hanya soal lidah, melainkan soal "pamer kartu identitas". Orang kaya makan bukan hanya untuk kenyang, tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka punya akses ke menu-menu yang namanya susah dieja. Sebaliknya, bagi kaum yang saldonya kritis, makan itu urusan biologis murni: yang penting lambung tidak demo.
Namun, lihat apa yang terjadi saat Ramadan. Teori Bourdieu itu seolah kena skakmat. Begitu imsak tiba, semua orang—mau dia CEO yang punya lima anak perusahaan atau kuli bangunan yang hanya punya satu motor butut—sama-sama masuk ke zona "kosong". Jam dua siang, rasa perih di lambung itu tidak pilih-pilih jabatan. Lambung seorang direktur tidak akan mengeluarkan bunyi yang lebih aristokrat daripada lambung pengemis. Di hadapan rasa lapar, kita semua adalah makhluk rapuh yang sama-sama butuh asupan. Inilah yang kita sebut sebagai the great equalizer.
Secara spiritual, ini bukan hanya soal menahan haus dan lapar. Puasa itu "edukasi rasa". Tuhan sedang memaksa kita untuk melakukan riset empiris. Selama ini kita mungkin hanya tahu soal "kelaparan" dari berita atau buku teks; itu namanya empati teoretis. Namun, melalui puasa, empati itu masuk ke pori-pori, ke kerongkongan yang kering, dan ke kepala yang sedikit pening. Kita jadi tahu rasanya menjadi "mereka" yang setiap hari memang tidak tahu mau makan apa.
Indahnya lagi, Ramadan punya konsep commensality—istilah keren sosiologi untuk "makan bareng". Meja makan yang tadinya privat dan tertutup tembok rumah mewah, tiba-tiba tumpah ke jalanan. Ada takjil gratis di masjid, ada pembagian nasi kotak di pinggir jalan. Di sini, identitas kelas itu melebur. Saat duduk lesehan di teras masjid untuk membatalkan puasa, segelas air putih itu nilainya sama bagi semua orang. Tidak ada air putih yang menjadi lebih "suci" hanya karena diminum memakai sedotan stainless steel milik selebgram.
Namun, tentu saja, penyakit kelas menengah kita sering kumat. Sekarang muncul fenomena "Buka Puasa Mewah" di hotel berbintang yang harganya bisa untuk makan satu RT selama seminggu. Kalau Ramadan hanya menjadi ajang pindah tempat makan dari meja rumah ke meja hotel demi konten Instagram, berarti kita gagal total. Esensi keadilan di meja makan itu bukan soal seberapa banyak menunya, melainkan seberapa inklusif suasananya.
Keadilan itu terjadi kalau kelebihan di piring kita bisa mengalir ke piring orang lain yang kosong. Seperti kata John Rawls soal veil of ignorance, bayangkan jika kita tidak tahu bakal lahir jadi anak siapa. Pasti kita ingin sistem dunia yang adil bagi semua, kan? Nah, puasa memosisikan kita di balik tabir itu. Kita diingatkan bahwa "kenyang" itu bukan hanya hak pemilik kartu kredit.
Pada akhirnya, Ramadan adalah manifesto kemanusiaan. Meja makan seharusnya menjadi tempat berbagi cerita, bukan sekadar pamer validasi. Keadilan meja makan menuntut kita sadar bahwa kenyang kita baru sah secara moral kalau tidak ada lagi tetangga yang terpaksa berbuka hanya memakai air keran.
Mari kita jaga agar ritual ini tidak hanya menjadi rutinitas biologis yang membuat badan kurus tetapi hati tetap rakus. Jadikan rasa perih di lambung itu sebagai pengingat, bahwa di atas piring-piring kita, ada tanggung jawab untuk menghapus sekat. Karena di hadapan Tuhan, yang dilihat itu isi hati dan amalan, bukan seberapa estetis foto menu buka puasa yang kamu unggah di feed.
Baca Juga
-
Gula: Dari Simbol Kebahagiaan Menuju Penanda Kelas Sosial di Era Modern
-
Dilema Restoran Cashless Only: Hak Konsumen vs Modernisasi
-
Perpustakaan: Berubah atau Jadi Museum Fosil Pengetahuan?
-
Piala Dunia 2026: Ambisi Gila FIFA dan Nasib Kita yang Cuma Jadi Zombie Kopi
-
Ketika Lembaga Keuangan Ikut-ikutan Baper
Artikel Terkait
-
Apa Itu Gamis Bini Orang? Lagi Ngehype di Ramadan 2026, Segini Harganya
-
Cara Download Bukti Pemesanan BI Pintar saat Tukar Uang Baru
-
6 Remaja Disergap Saat Mau Tawuran, Polisi Sita Senjata Tajam!
-
Pemukim Israel Bakar dan Corat-coret Masjid di Tepi Barat Saat Ramadan
-
Kapan Waktu yang Tepat untuk Membayar Zakat Fitrah? Ini Cara yang Benar
News
-
Imbas Polemik Dwi Sasetyaningtyas, LPDP Sebut 600 Awardee Tengah Diselidiki
-
Roblox Jadi Teman Virtual yang Unik, Ngabuburit Jadi Makin Asyik!
-
Mengenal Ojil dan Hanoy: Duo Kreator Bahasa "Yumdhi" Kesayangan Gen Z
-
Polemik Konten Anak Jadi WNA, LPDP Ingatkan Dwi Sasetyaningtyas soal Etika?
-
Review Film CAPER: Amanda Manopo Ungkap Sisi Kelam Teror Pinjol Ilegal