M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi perempuan dewasa (Pexels/KoolShooters)
e. kusuma .n

Belakangan ini istilah “puber kedua” sering muncul di media sosial. Biasanya dipakai bercanda untuk menggambarkan perempuan usia 30–50 tahun yang tiba-tiba jadi lebih aktif posting story, rajin selfie, tampil stylish, atau lebih berani menunjukkan sisi diri yang dulu jarang terlihat.

Mungkin akan banyak orang yang notice dan bilang, “Wah, kayak ABG lagi” atau “Ada angin apa nih, kok glow up banget?”. Perubahan-perubahan yang seolah mengarah pada fase pubertas pun mulai disorot dan jadi pembahasan hangat di media sosial.

Namun, apakah ini benar-benar pubertas lagi atau hanya bentuk ekspresi diri? Kalau bicara fakta medis, puber kedua sebenarnya tidak ada. Yang terjadi adalah fenomena psikologis yang dikenal sebagai mid-life crisis atau krisis paruh baya yang umumnya muncul di usia 35–65 tahun.

Pada fase ini, perempuan dewasa yang terjebak rutinitas domestik mulai mengevaluasi hidupnya dan ingin mencoba hal-hal baru. Terlebih saat media sosial menyediakan panggung untuk aktualisasi diri hingga perubahan yang ada jadi mudah terlihat.

Akhirnya, banyak perempuan terlihat seperti reborn, menjadi lebih ekspresif, lebih berani, dan lebih hidup. Lalu apa saja tanda-tandanya?

1. Lebih Aktif Update Story di Media Sosial

Dulu jarang posting, sekarang hampir tiap hari ada story. Mulai dari OOTD, ngopi cantik, olahraga pagi, sampai momen kecil sehari-hari. Feed dan story jadi lebih hidup.

Sayangnya, banyak yang menganggap ini “cari perhatian”, padahal seringnya bukan itu tujuannya. Setelah bertahun-tahun sibuk mengurus rumah, anak, atau pekerjaan tanpa ruang personal, media sosial jadi tempat untuk statement “Aku juga ada, lho. Ini hidupku.”

Sebenarnya, ini bentuk kebutuhan untuk terlihat dan diakui, sesuatu yang wajar secara psikologis. Hanya saja, tanda awal “puber kedua” pada perempuan ini seolah kurang disambut positif dan justru dinilai tabu.

2. Lebih Berani Tampil, Tanpa Kehilangan Batas

Perubahan gaya berpakaian juga sering terlihat. Perempuan dewasa jadi lebih rapi, lebih modis, lebih pede pakai warna cerah, makeup, atau outfit yang dulu mungkin dianggap “nggak cocok umur segini”.

Kini berekspresi lewat penampilan bukan cuma butuh terlihat rapi, tapi juga butuh dilihat tanpa kehilangan nilai diri. Banyak perempuan di fase ini mulai sadar kalau menikmati diri sendiri tidak terbatas usia.

Namun, tentu kedewasaan berpikir membuat mereka tetap punya batas, tetap elegan, tanpa harus menyembunyikan diri demi standar sosial. Ini tanda self-confidence yang tumbuh, bukan kenakalan.

3. Haus Perhatian, tapi Bukan Cinta Murahan

Salah satu stigma terbesar dari “puber kedua” adalah dibilang genit atau cari validasi. Padahal kebutuhan akan perhatian itu manusiawi. Bedanya, perhatian yang dicari di fase ini biasanya bukan romantis, tapi lebih ke apresiasi dan pengakuan.

Contohnya, senang kalau fotonya dipuji, bahagia kalau ada yang bilang kelihatan fresh, atau merasa dihargai saat ada yang notice dengan pencapaiannya. Setelah lama merasa invisible karena fokus ke orang lain, wajar kalau sekarang ingin merasakan spotlight sedikit.

4. Emosi Lebih Terbuka di Publik

Kalau dulu cenderung memendam, sekarang lebih jujur. Mulai berani cerita capek, sedih, bahagia, atau curhat di caption dan story. Buat sebagian orang, mungkin ini terlihat “lebay”, padahal justru tanda kedewasaan emosional.

Di usia paruh baya, banyak perempuan akhirnya sadar kalau menahan semua perasaan sendirian itu melelahkan. Jadi mereka belajar mengekspresikan diri dan media sosial memudahkan itu. Bukan drama, tapi proses healing.

5. Mulai Penasaran Lagi dengan Lawan Jenis

Dalam fase “puber kedua” perempuan, gelagat seperti penasaran lagi sama lawan jenis sering jadi tanda yang paling banyak disalahpahami. Padahal rasa ingin merasa menarik itu normal di usia berapa pun. Bukan berarti mau selingkuh atau cari sensasi, lho.

Sebab, ada perempuan yang mulai lebih peduli penampilan, senang ngobrol dengan lawan jenis, atau merasa ingin diperhatikan lagi sebagai individu, bukan cuma sebagai ibu atau istri.

Fase ini mengarah pada kebutuhan untuk merasa dirinya masih berharga dan masih menarik. Setelah bertahun-tahun identitas melebur ke peran domestik, wajar kalau muncul keinginan menemukan kembali sisi feminin atau personalnya.

Kenapa Fenomena Ini Terlihat Lebih Kuat Sekarang?

Dulu, krisis paruh baya mungkin cuma terlihat dari hobi baru atau perubahan gaya hidup. Sekarang semua terdokumentasi di “panggung” media sosial yang mengaburkan batas usia dan memudahkan validasi instan. Akhirnya, proses pencarian jati diri ini jadi terlihat jelas sekaligus disalahartikan.

Intinya sederhana, mereka cuma sedang menemukan kembali diri sendiri. Sayangnya, bentuk ekspresi diri ini justru diberi label “puber kedua” yang sering terdengar negatif. Padahal kalau dilihat lebih dalam, kondisi ini bisa jadi fase pertumbuhan. Fase di mana perempuan akhirnya bertanya “Aku maunya apa?”, “Aku bahagia nggak?” dan “Selain mengurus orang lain, aku siapa?”

Saat jawabannya mulai dicari, perubahan pun terjadi. Perempuan di fase ini bukan sekadar jadi lebih aktif dan lebih berani, tapi juga lebih hidup. Bukan mundur ke masa remaja, hanya kembali terhubung dengan diri sendiri.