Pelecehan Kok Dibilang Fetish? Mengenal Rage Bait, Konten Sampah yang Hobi Makan Korban

M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Pelecehan Kok Dibilang Fetish? Mengenal Rage Bait, Konten Sampah yang Hobi Makan Korban
Ilustrasi marah, emosi. (Freepik.com/jcomp)

Belum lama ini, media sosial X kembali diguncang dengan isu panas ulah dari sebuah komentar yang diunggah oleh akun @SelebtwitMobil. Dalam unggahannya, ia melontarkan penyataan ofensif mengenai pelecehan di transportasi umum. Menurutnya, tindakan "digrepe" adalah sebuah fetish.

Fetish saya bukan digrepe orang,” katanya.

Meski akun tersebut kini telah hilang, jejak digitalnya meninggalkan luka mendalam bagi para penyintas sekaligus menjadi alarm keras bagi etika ruang publik kita.

Distorsi Makna Antara Hasrat dan Kriminalitas

Persoalan utama dari narasi tersebut bukan sekadar bercandaan yang tidak lucu, melainkan distorsi makna yang berbahaya terhadap istilah psikologis.

Mengutip dari Halodoc, fetish dalam sudut pandang psikologi adalah obsesi seksual yang muncul saat seseorang mendapatkan rangsangan mendalam pada berbagai objek selain manusia, atau anggota tubuh yang bukan termasuk dalam organ genital. Hal ini bisa berupa aksesori, jenis pakaian tertentu, hingga benda mati. Para ahli memahami bahwa fetishistic disorder masuk dalam kondisi fantasi atau perilaku yang bisa mengakibatkan distress bagi pengidapnya.

Poin krusial yang sengaja dikaburkan oleh pelaku adalah konsensusnya. Fetish itu harus didasarkan pada kesepakatan. Artinya, aktivitas tersebut dilakukan jika semua pihak memang setuju dan merasa nyaman. Jadi, kalau dilakukan kepada orang asing di angkutan umum tanpa izin mereka, berarti ini bukan soal selera seksual, tetapi murni sebagai tindak kejahatan.

Sebaliknya, "digrepe" adalah tindakan kriminal sepihak yang melanggar integritas tubuh orang lain. Menggunakan istilah fetish untuk melabeli pelecehan adalah bentuk manipulasi bahasa yang menjijikkan. Ini kesannya menjadi sebuah upaya untuk menciptakan perlindungan semu agar kejahatan seksual terlihat seperti "preferensi seksual" yang diwajarkan.

Muncul Istilah Rage Bait demi Angka Statistik

Tapi pertanyaannya adalah mengapa narasi seperti ini bisa terus berulang? Jawabannya sering kali menunjuk pada fenomena rage bait.

Dilansir dari Oxford University Press, rage bait diartikan sebagai konten daring yang sengaja dirancang untuk memicu kemarahan atau kegusaran dengan cara yang frustasi, provokatif, atau ofensif.

Tujuannya adalah untuk mendorong trafik atau engagement pada konten tertentu. Dalam kasus ini, pelaku sepertinya rela menggadaikan empati dan martabat manusia hanya demi mendapatkan banyak interaksi dari netizen yang marah terhadap postingan atau argumennya. Ini adalah bentuk degradasi moral di mana rasa sakit orang lain malah dikomodifikasi menjadi angka statistik.

Ruang Digital Seakan Menjadi Racun bagi Para Penyintas

Humor yang menindas ini memiliki dampak yang sangat nyata. Bagi penyintas yang memiliki trauma di transportasi umum, membaca candaan tersebut bisa menjadi sebuah trigger atau pemicu traumanya lagi menjadi lebih hebat. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang inklusif justru berubah menjadi lingkungan digital yang beracun karena normalisasi kekerasan seksual yang sering kali dibungkus dengan label candaan.

Hilangnya akun @SelebtwitMobil memang menjadi sebuah sanksi sosial yang instan. Namun masalahnya bisa lebih meluas jika setiap orang memiliki mindset “yang penting viral” tanpa memikirkan pengguna media sosial lain yang mungkin memiliki trauma terhadap isu tertentu.

Perlu ditegaskan kembali bahwa jika sebuah candaan harus menyinggung perasaan orang lain atau men-trigger orang lain untuk teringat kembali pada traumanya, maka itu bukan lagi sebagai humor, melainkan berubah menjadi penindasan. Kita boleh bebas berekspresi, tapi jangan sampai menormalisasi kejahatan yang terjadi di ruang publik.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak