M. Reza Sulaiman | Rizky Pratama Riyanto
Ilustrasi Aplikasi Google Maps (Pexels/Ingo Joseph)
Rizky Pratama Riyanto

Tidak sedikit pengguna yang justru tersesat saat mengikuti rute tercepat dari aplikasi navigasi seperti Google Maps atau Waze. Alih-alih sampai lebih cepat, mereka justru diarahkan melewati jalan sempit, gang kecil, hingga jalur yang tidak layak dilalui kendaraan roda empat.

Secara algoritma, aplikasi navigasi mengutamakan jalur paling efisien berdasarkan kondisi lalu lintas secara real-time. Rute yang mengalami perlambatan hingga puluhan menit karena kemacetan, terjadi kecelakaan, dan adanya pekerjaan konstruksi biasanya tidak disarankan. Akibatnya, sistem secara otomatis mengalihkan pengguna ke rute lain yang dianggap lebih cepat.

Aplikasi navigasi dirancang untuk meminimalkan waktu dan jarak tempuh sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar dengan memilih jalur optimal. Oleh karenanya, pengguna perlu berhati-hati dan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Terlebih lagi, bila rute yang akan dilewati justru dialihkan ke jalan yang tidak umum.

Kondisi fisik jalan yang memadai ataupun sebaliknya justru tidak selalu menjadi faktor pertimbangan algoritma aplikasi navigasi. Meskipun ada laporan pengguna terhadap jalan yang tidak layak, algoritma hanya memprioritaskan rute dengan waktu dan jarak tempuh yang singkat untuk dilalui. Intinya, aplikasi navigasi memang tidak memperhitungkan kenyamanan keadaan jalan ketika berkendara.

Pengguna perlu memeriksa jalan secara manual melalui aplikasi pada peta satelit dan pemandangan jalan (street view) untuk menghindari jalur yang sempit, curam, dan berlubang. Lakukan perbesaran pada peta dan selidiki bentuk jalan yang akan dilalui sebelum bepergian. Pengguna juga diharapkan berkontribusi memberi informasi kepada pengguna lainnya terhadap rute yang telah dilewati.

Data kondisi jalan pada aplikasi navigasi tidak selalu akurat karena mengandalkan data pemerintah setempat, citra satelit, dan laporan pengguna. Alhasil, jalan rusak bisa dianggap sebagai jalan umum, khususnya di daerah tertentu seperti jalan perdesaan dan pedalaman.

Selain itu, jalur alternatif yang dipilih bisa memasuki jalan kecil atau gang. Padahal, rute tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, melainkan hanya dilalui oleh kendaraan bermotor. Jalan-jalan di area perkebunan, persawahan, proyek, hingga perdesaan tetap dianggap sistem sebagai jalan yang normal.

Apalagi jika di jalan kecil tidak terdeteksi adanya kemacetan, hal ini membuat sistem mudah memilihnya sebagai jalur alternatif. Dengan demikian, aplikasi navigasi dapat dikatakan pintar mengolah data tetapi tidak paham kondisi nyata di lapangan.

Adapun informasi tambahan melalui fitur pusat bantuan di halaman Google, yaitu aplikasi navigasi yang belum diperbarui bisa memengaruhi cara kerjanya. Dengan memperbarui aplikasi dan menghapus penyimpanan di setelan pada perangkat, maka kinerja aplikasi akan kembali normal.

Pastikan koneksi internet mampu bekerja dengan baik selama melakukan navigasi. Siapkan peta offline untuk berjaga-jaga ketika berada di wilayah yang minim jaringan. Setiap pengguna perlu memperhatikan rute yang dilalui untuk mengantisipasi jalan yang keliru.

Kemudian, pengguna tidak boleh bergantung sepenuhnya pada aplikasi dan disarankan untuk memeriksa rute secara manual melalui fitur satelit atau street view guna memastikan keamanan serta kelayakan jalur.

Ketidakakuratan data di wilayah perdesaan atau perkebunan sering kali membuat sistem salah mengartikan jalur motor sebagai jalan mobil, sehingga pembaruan aplikasi dan penggunaan peta offline menjadi sangat krusial.

Kurangnya pemahaman sistem terhadap medan nyata ini bahkan telah memicu berbagai kasus fatal, seperti mobil yang terjebak di tengah hutan, masuk ke dalam jurang, hingga kendaraan yang tersangkut di gang sempit yang hanya cukup untuk satu motor.

Banyak pengendara yang akhirnya harus dievakuasi oleh warga sekitar atau petugas karena terlalu percaya pada instruksi aplikasi tanpa memperhatikan rambu dan kondisi jalan di depan mata.

Kesadaran untuk tetap waspada dan tidak hanya mengandalkan navigasi digital menjadi kunci utama agar perjalanan tetap aman dan nyaman sampai tujuan.