suara hijau

News

River Ranger Jakarta Pilih Tersesat di Pedalaman Demi Solusi Warga, Kenapa?

River Ranger Jakarta Pilih Tersesat di Pedalaman Demi Solusi Warga, Kenapa?
Workshop Ecobrick River Ranger Jakarta (Instagram/@riverrangerjakarta)

“Bukan rencana, tapi aksi nyata.” Begitulah cara River Ranger Jakarta bekerja.

Bagi kebanyakan organisasi, menjalankan program sosial sering kali datang dengan setumpuk rencana kerja, target angka, dan kurikulum yang kaku.

Namun, bagi River Ranger Jakarta, rencana terbaik sering kali adalah tidak memiliki rencana sama sekali.

Komunitas ini memilih untuk "tersesat" di pedalaman Indonesia, mendengarkan keresahan warga, lalu meramu solusi yang benar-benar mereka butuhkan.

Koordinator Kurikulum River Ranger Jakarta, Andriana atau yang kerap disapa Nana, menceritakan bahwa jiwa komunitas ini sangat lekat dengan hobi sang inisiator, Syahiq Harpi. Ia gemar bertualang ke tempat baru, terutama di kawasan Indonesia Timur.

"River Ranger Jakarta itu seneng banget tiba-tiba tersesat ke mana, tinggal di sana, terus observasi, dan tiba-tiba bikin kegiatan di sana gitu. Jadi tanpa plan," ungkap Nana.

Mencari Solusi Bagi Petani Trans Patoa

River Ranger Jakarta melakukan edukasi di Trans Patoa (Instagram/@riverrangerjakarta)
River Ranger Jakarta melakukan edukasi di Trans Patoa (Instagram/@riverrangerjakarta)

Gaya kerja yang organik ini membuat River Ranger sangat fleksibel. Mereka tidak memperlakukan semua tempat dengan sama, melainkan menyesuaikan. Di Trans Patoa, Sulawesi Utara, misalnya, Syahiq menemukan bahwa masalah utama warga bukan sekadar sampah plastik, melainkan hama yang menyerang kebun cengkeh dan cabai mereka.

Ilmu pengetahuan yang terbatas membuat warga tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak mampu membeli pestisida atau pupuk kimia yang mahal.

“Di sana kan banyak jeruk, dan jeruk itu nggak ada harganya sama sekali. Bisa Rp4.000 atau Rp3.000 per kilo,” ungkap Syahiq.

Melihat banyaknya jeruk yang membusuk dan terbuang karena harga jualnya rendah, Syahiq melihat peluang. "Aku ajak mereka untuk bikin eco-enzyme. Eco-enzyme itu kan banyak fungsinya ya. Fungsinya sebagai kayak membasmi hama, seperti fungisida ataupun pestisida," jelas Syahiq.

Dengan bahan alami yang ada di sekitar, warga akhirnya bisa melindungi tanaman mereka dengan cara yang lebih murah dan aman bagi tubuh.

Mengajar Teknologi di Tanah Syurdori

Prinsip "customize" atau penyesuaian ini kembali diuji saat Syahiq menginjakkan kaki di Desa Syurdori, Papua. Awalnya, ia berniat membawa materi waste management. Namun, realita di lapangan berbicara lain. Warga di sana ternyata lebih membutuhkan literasi teknologi.

"Aku nggak bisa maksain tentang program. Aku udah nggak mampu menjalankan program itu. Karena yang dibutuhkan bukan itu saat itu," kenang Syahiq.

Alhasil, meski jauh dari visi-misi utama River Ranger yang berfokus pada lingkungan, ia memutuskan untuk mengajar komputer kepada guru-guru setempat. Baginya, memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat adalah pintu masuk untuk membangun kepercayaan. Ini juga masih sejalan dengan tujuan awal pembentukan River Ranger Jakarta, yakni sebagai wadah untuk belajar.

Strategi ini bukan berarti River Ranger melupakan isu lingkungan. Syahiq menggunakan pendekatan yang cerdik. Setelah masyarakat merasa terbantu dan dekat secara emosional, barulah ia perlahan menyisipkan nilai-nilai keberlanjutan. "Aku penuhi dulu kebutuhan mereka, baru get-in," tambahnya.

Di tengah pelajaran komputer atau pembuatan pupuk alami, ia menyelipkan bagaimana cara mengompos atau mengelola sampah plastik secara mandiri.

Pendekatan yang membumi ini membuktikan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teori yang berat. Dengan melakukan observasi mendalam dan menyesuaikan diri bersama kearifan lokal, River Ranger Jakarta berhasil menanamkan benih perubahan di tempat-tempat yang paling sulit dijangkau sekalipun.

Bagi River Ranger Jakarta, menjadi pelindung sungai tidak hanya berarti menjaga air, tetapi juga menjaga manusia-manusia yang hidup di sekitarnya.

Penulis: Vicka Rumanti

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda