Sekar Anindyah Lamase | Rizka Utami Rahmi
Acara LINTAS bersama Kemenhub dan Yoursay.id [Dokpri/Rizka Utami]
Rizka Utami Rahmi

Yoursay bersama Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI) menyelenggarakan sesi diskusi menarik bertajuk LINTAS (Ngobrolin Transportasi Bareng Komunitas) pada Jumat (24/7/2026).

Dalam kegiatan tersebut hadir narasumber Reza Hertantyo selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) dan Ezra, seorang pegiat media sosial yang aktif membagikan aktivitasnya menggunakan alat transportasi umum.

Menariknya, dalam sesi tanya jawab seluruh komunitas yang hadir dapat bertanya langsung kepada para narasumber soal keresahan maupun pertanyaan lainnya seputar alat transportasi umum.

Komunikasi yang terjalin dua arah antara narasumber dan para peserta membangun sebuah diskusi menarik yang menambah pengetahuan soal transportasi umum yang begitu memengaruhi berbagai aspek mulai dari cuaca hingga masalah kesehatan.

Salah satu yang paling serius adalah fakta bahwa sebanyak 87 persen emisi transportasi itu berasal dari sektor transportasi darat. Maka dari itu, Kemenhub melakukan berbagai acara agar masyarakat bisa mulai menggunakan alat transportasi umum.

Ezra selaku pegiat media sosial juga memberikan sebuah insight menarik bahwa masyarakat bisa melakukan perjalanan liburan dengan menggunakan alat transportasi publik dengan biaya yang sangat murah. Ia bahkan membagikan pengalamannya saat pergi ke Pulau Seribu dengan modal sebesar Rp200 ribuan dengan menggunakan transportasi umum.

Pengalaman Ezra tersebut turut memantik rasa penasaran para peserta hingga menjadi salah satu bahasan menarik dalam sesi kegiatan LINTAS tersebut.

Sayangnya waktu yang cukup terbatas membuat sesi kegiatan tersebut harus berakhir meski masih banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada para peserta. Semoga nantinya acara serupa bisa terus diselenggarakan agar bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai besarnya manfaat menggunakan transportasi umum.

Tuliskan Harapan di Wall of Hope

Wall of Hope, berisi harapan dan komitmen peserta LINTAS terhadap tranposrtasi umum [Dokpri/Rizka Utami]

Setelah acara diskusi ditutup, peserta yang hadir bersama-sama dipersilakan menuliskan harapan dan komitmen mereka mengenai transportasi umum.

Dengan penuh antusias, peserta menuliskan harapan besar mereka terhadap alat transportasi di sebuah dinding harapan sebagai simbol komitmen untuk terus mendukung penggunaan transportasi umum.

Beragam harapan pun tertulis di Wall of Hope tersebut. Mulai dari keinginan agar transportasi umum semakin nyaman, aman, terjangkau, hingga dapat menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.

Tidak hanya menuliskan harapan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi para peserta untuk merefleksikan kembali kebiasaan mereka dalam bepergian. Transportasi umum bukan hanya soal bagaimana seseorang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan LINTAS, peserta diajak untuk melihat bahwa perubahan kebiasaan dalam menggunakan moda transportasi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Salah satunya adalah dengan memilih transportasi umum untuk pergi bekerja, kuliah, atau kegiatan lainnya.

Harapan yang dituliskan di Wall of Hope tersebut pun menjadi pengingat bahwa upaya menciptakan sistem transportasi yang lebih baik membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Pemerintah, komunitas, pegiat transportasi, hingga masyarakat umum memiliki peran masing-masing dalam mewujudkan transportasi publik yang semakin nyaman dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kegiatan LINTAS bukan hanya menjadi ruang untuk berdiskusi, tetapi juga menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai transportasi umum.

Dari pengalaman pengguna transportasi publik hingga penjelasan dari pihak yang terlibat dalam pengelolaannya, semua informasi tersebut dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk semakin memahami pentingnya transportasi umum.

Semoga harapan yang telah dituliskan di Wall of Hope tidak berhenti sebagai tulisan di sebuah dinding. Lebih dari itu, harapan tersebut dapat menjadi komitmen bersama untuk menciptakan budaya menggunakan transportasi umum yang semakin kuat di tengah masyarakat.