Di balik gerakan tanpa kata, pantomim ternyata bisa menciptakan dampak yang tidak selalu terlihat di atas panggung.
Bagi Remime, sebagai komunitas pantomim, seni ini tak sekadar menghibur penonton, tetapi juga menjadi ruang bagi seseorang untuk mengenal diri sendiri, membangun kepercayaan diri, hingga menyalurkan emosi menjadi sesuatu yang positif.
Salah satu pengagas komunitas Remime, Muhammad Angga Nurohman, mengungkapkan bahwa ia masih mengingat salah satu murid yang pernah dibimbingnya saat mengajar pantomim di sekolah. Murid tersebut dikenal sangat pendiam dan kesulitan dalam bersosialiasi. Kondisi inilah yang membuat murid itu kerap dikucilkan oleh teman-temannya.
Namun, keadaan itu perlahan berubah setelah murid itu secara rutin mengikuti latihan pantomim.
“Yang paling berkesan itu melihat perkembangan anak. Dari yang pendiam sampai mulai percaya diri,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu di Taman Mentang, Jakarta Pusat.
Pada mulanya, setiap selesai tampil murid tersebut enggan menghapus riasan pantomim di wajahnya. Menurut Angga, saat mengenakan riasan itu, sang murid merasa bahwa ia menjadi lebih bebas mengekspresikan diri dan seakan dirinya menjadi pribadi yang berbeda.
Seiring berjalannya waktu, rasa percaya dirinya terus bertumbuh. Hingga pada akhirnya, tanpa riasan sekalipun, ia mulai berani untuk menunjukkan jati dirinya di hadapan orang lain.
Bagi Angga, melihat perubahan seperti itulah yang menjadi suatu pencapaian terbesar dalam mengajarkan pantomim.
Tak hanya di lingkungan sekolah, pengalaman yang menyentuh juga dirasakan oleh Bagas Dharmawan ketika suatu waktu ia tampil di stasiun LRT. Saat itu, ia bersama rekan-rekannya hanya berniat menghibur penumpang dengan pertunjukan ringan.
Di tengah pertunjukannya, seorang anak kecil tampak menikmati setiap gerakan yang dilakukannya. Setelah pertunjukan selesai, ayah dari anak tersebut menghampiri Bagas sambil menyodorkan sejumlah uang sebagai bentuk apresiasi.
Bagas sempat menolak, karena ia bermaksud menghibur saja. Namun, sang ayah tetap memintanya untuk menerima uang tersebut.
“Udah saya tolak itu, tapi ayahnya maksa. Dia bilang Mas, makasih banyak ya. Anak saya sudah dua hari gak mau ngomong karena lagi sedih,” tuangnya.
Cerita itulah yang menjadi pengingat bahwa sebuah pertunjukan sederhana bisa berdampak besar daripada yang kita bayangkan.
“Kadang hal yang kita anggap kecil, belum tentu kecil buat orang lain,” ujarnya.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut membuat para pegiat Remime ini percaya bahwa pantomim tidak sekadar seni pertunjukan, melainkan lebih dari yang dibayangkan.
Melalui gerakan tubuh dan ekspresi, seseorang bisa meluapkan emosi tanpa harus menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Bagas menyebutkan bahwa bermain pantomim dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk pemulihan diri yang dapat membantu seseorang mengelola emosi mereka.
“Kalau lagi kesel atau punya emosi negatif ya kita alihkan aja lewat pantomim. Jadinya membuahkan karya, deh. Juga kan enggak menyakiti orang lain,” katanya.
Meski demikian, perjalanan menjadi pegiat pantomim tidak selalu berjalan mulus. Cibiran atau ejekan pernah beberapa didapati saat tampil di ruang publik. Beberapa belum memahami bahwa pantomim berbeda dengan badut ataupun hiburan jalanan.
Berdasarkan pengalaman itu justru membuat mereka semakin terbiasa dalam menghadapiberbagai respons masyarakat.
“Alhamdulillah ejekan dating pas kita udah siap, sih. Dalam artian udah terbiasa dengan pengalaman” tutur Bagas.
Selain menghadapi stigma tersebut, tantangan lainnya kerap muncul saat tampil di atas panggung. Pantomim membutuhkan persiapan yang matang sehingga tidak semua adegan dapat diimprovisasi. Belum lagi kendala teknis, seperti pencahayaan, tata panggung, hingga miskomunikasi dengan penyelenggara acara.
Angga pernah mengalami adanya salah paham antara kliennya. Menurutnya, saat itu klien tidak memaparkan konsep pertunjukan yang diinginkan tidak secara rinci. Akibatnya, ada bagian pertunjukan yang tidak sesuai dengan ekspektasi penyelenggara.
Mengalami kendala tersebut, tidak berdampak pada semangat mereka dalam berkarya, khususnya di seni pertunjukan pantomim ini.
Menurutnya, pantomim merupakan seni yang sederhana karena tidak membutuhkan banyak perlengkapan. Modal utamanya hanyalah tubuh, ekspresi, dan kemauan untuk terus berlatih.
“Sebenernya pantomim itu simpel. Enggak perlu modal banyak, cukup bawa diri dan modal nekat,” ujarnya.
Para pegiat komunitas ini menganggap bahwa setiap pertunjukan bukan sekadar tempat untuk menghibur, tetapi juga membuka ruang bagi siapapun untuk merasakan bahwa gerakan sederhana bisa digunakan untuk menyampaikan pesan, harapan, hingga membangun kepercayaan diri, termasuk membagikan kebahagiaan kepada orang lain.
Baca Juga
-
Remime: Menjaga Pantomim Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman
-
90 Mahasiswa Indonesia Lanjut S2 Lewat Erasmus Mundus, Uni Eropa Perkuat Investasi pada Talenta Muda
-
Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?
-
Ekspektasi vs Realita Anak Kos: Katanya "Bebas", Kenyataannya Malah Kena Mental
-
Seni Memahami Kekasih: Potret Hubungan 'Anak Muda Miskin' yang Sangat Relate dengan Kehidupan Nyata
Artikel Terkait
News
-
Di Balik Jendela TransJakarta: Ada Cerita Perjuangan yang Sering Kita Lewatkan
-
Paradoks Transportasi Jakarta: Penumpang Naik Pesat, Kenapa Macet Makin Parah?
-
In This Economy: Gengsi Nggak Bisa Bayarin Bensin, Naik Transum Is The New Flex!
-
90 Mahasiswa Indonesia Lanjut S2 Lewat Erasmus Mundus, Uni Eropa Perkuat Investasi pada Talenta Muda
-
Pilihan yang Berawal dari Jarak: Menemukan Sisi Lain Jakarta Lewat Transportasi Umum
Terkini
-
Elegan dan Eksotis! Intip Highlight Medley Album Red Velvet, Velvet Summer
-
Ulasan Novel Alegori Valerie, Menuntut Keadilan Melalui Lensa Kamera
-
Bedah Isu Plagiarisme Yellowface: Saat Etika Penulis Diuji Habis-Habisan!
-
Nyawa Dibayar Ayam Sabung: Alarm Keras untuk Penegakan Hukum dan Nurani Kita
-
Review Buku Bored: Petualangan Rita Melawan Kebosanan dengan Imajinasi