Beberapa waktu lalu, sebuah unggahan di Threads tentang laki-laki yang dinilai tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga menarik perhatian warganet.
Dalam unggahan akun @jurnalsibapak, seorang bapak diceritakan diminta mengganti popok anaknya. Namun, popok dipasang miring hingga bocor dan membuat kasur basah. Kesal, sang istri akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut.
“Pak, itu BUKAN kelemahan. Itu STRATEGI. Dan strategi itu punya nama di dunia psikologi: Weaponized Incompetence. Ketidakmampuan yang dijadikan senjata,” tulis akun tersebut.
Fenomena weaponized incompetence merujuk pada kondisi ketika seseorang menunjukkan atau mempertahankan ketidakmampuannya dalam mengerjakan suatu tugas sehingga orang lain akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut.
Dalam rumah tangga, pola semacam ini berisiko membuat perempuan menanggung beban domestik lebih besar. Padahal, tidak mampu melakukan suatu pekerjaan bukan berarti seseorang tidak dapat mempelajarinya.
Di tempat kerja, misalnya, seseorang yang belum mahir mengerjakan tugas tertentu dituntut untuk belajar dan beradaptasi. Hal yang sama semestinya berlaku dalam pekerjaan rumah tangga.
Memasak, mencuci, membersihkan rumah hingga mengasuh anak merupakan life skill yang dibutuhkan setiap orang. Namun, pekerjaan-pekerjaan tersebut masih kerap dipandang sebagai tanggung jawab perempuan.
Melihat persoalan ini, Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) menilai weaponized incompetence tidak bisa dilepaskan dari norma gender yang telah membentuk laki-laki sejak kecil.
Sebagai Koordinator Nasional ALB, Wawan Suwandi atau Jundi, mengatakan pembagian peran yang menempatkan pekerjaan domestik sebagai tugas perempuan membuat sebagian laki-laki tumbuh tanpa terbiasa mengurus kebutuhan rumah tangga.
“Padahal pekerjaan domestik itu life skill bagi setiap orang. Dia bukan pekerjaan yang hanya dilakukan oleh perempuan saja,” kata Jundi.
Norma Gender Tradisional Telah Mengakar Kuat
Norma gender tersebut memang tidak selalu hadir dalam bentuk aturan tertulis. Namun, ia dapat diwariskan dari generasi ke generasi hingga dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Anak laki-laki, misalnya, lebih sering dilayani dan tidak dibiasakan mengerjakan pekerjaan domestik. Sebaliknya, anak perempuan lebih banyak diperkenalkan dengan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci atau membantu mengurus anggota keluarga.
Menurut Jundi, pola tersebut pada akhirnya dapat membuat laki-laki tumbuh tanpa kemandirian dalam urusan domestik.
“Dari kecil dia dilayani, dimanja, terus tidak diberikan tanggung jawab,” ujarnya.
Ketika dewasa dan berumah tangga, kebiasaan tersebut dapat menjadi persoalan. Laki-laki yang tidak pernah diberi tanggung jawab domestik mungkin benar-benar tidak memiliki keterampilan untuk mengerjakannya.
Persoalannya, ketidakmampuan tersebut kemudian dapat membuat pekerjaan kembali dilimpahkan kepada perempuan.
Di sisi lain, norma gender juga memengaruhi cara laki-laki memandang maskulinitas. Pekerjaan rumah tangga dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan gambaran laki-laki yang selama ini mereka kenal.
“Ketika dilakukan oleh laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang tidak laki banget, bahkan dapat meruntuhkan maskulinitasnya,” kata Jundi.
Padahal, menurut ALB, kemampuan mengurus rumah tidak semestinya menjadi ukuran maskulinitas seseorang.
Jangan Langsung Diambil Alih, Beri Ruang untuk Belajar
Di samping itu, permasalahan baru muncul saat laki-laki mulai mencoba mengerjakan pekerjaan domestik. Sayangnya, hasil tersebut belum sempurna.
Sebagai contoh, seorang laki-laki baru mulai mencoba menyapu atau mengepel. Hasilnya dianggap kurang rapi. Mungkin tanpa disadari, pasangan tidak sabar atau tergoda untuk mengambil alih pekerjaan itu.
Menurut Jundi, seharusnya pada tahap tersebut laki-laki diberi ruang untuk belajar. Dari kesalahan-kesalahan itulah yang bisa dijadikan sebagai alasan untuk kembali membebankan seluruh pekerjaan kepada perempuan.
"Kasih ruang dan kesempatan pada laki-laki untuk bertransformasi. Jadi dia mencoba, kan ada trial and error," ujar Jundi.
Jangan kaget saat seorang laki-laki mencoba masak untuk pertama kali dan hasilnya belum sempurna, bahkan gosong. Pengalaman tersebut bisa jadi bagian dari perubahan kebiasaan.
Jundi juga menegaskan bahwa sebagai pasangan untuk tidak mengejek perubahan yang dilakukan laki-laki. Dengan memberikan dukungan diyakini lebih membantu daripada menjadikan kesalahan itu sebagai bahan olokan.
"Beri kesempatan sambil dikasih informasi yang tepat," katanya.
Bukan Sekadar Membantu, Melainkan Terlibat
Sebenarnya, laki-laki tidak boleh memandang pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang menjadi tanggung jawab perempuan dan sesekali dibantu. Laki-laki harus menilai dirinya sebagai bagian dari orang yang juga bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut.
"Penggunaan istilahnya itu 'terlibat', bukan 'bantu'. Karena kalau bantu cuma bantu-bantu aja. Namanya terlibat, ya itu berarti memang dia menjadi bagian dari berperan," jelasnya.
Demikian, laki-laki jadi tidak perlu menunggu diminta untuk mengurus pekerjaan domestik, seperti mencuci piring, memasak, membersihkan rumah, atau mengurus anak.
Jundi mencontohkan sederhana. Ketika istri tengah sibuk menyiapkan sarapan atau memyiapkan keperluan anak untuk sekolah, laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Membiasakan perubahan tersebut tidak selalu mudah. Hal ini dilatarbelakangi dengan doktrin yang diterima laki-laki mengenai peran gender selama bertahun-tahun.
Mereka itu bukan tidak mampu mengurus rumah. Laki-laki hanya perlu diberi kesempatan untuk membangun kebiasaan tersebut.
Pada dasarnya, pekerjaan domestik tidak bisa jadi tolak ukur maskulinitas. Kemampuan membersihkan rumah hingga mengasuh anak bukanlah berpaku pada satu gender saja, karena itu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Baca Juga
-
Disrupsi AI di Industri Kreatif: Ketika Keterampilan Teknis Saja Tak Lagi Cukup
-
HP Makin Awet, Mengapa Sebagian Orang Masih Tak Bisa Lepas dari Power Bank?
-
Jangan Bolak-balik Servis, Ini 5 Tanda Sudah Waktunya Kamu Ganti Laptop Baru
-
Mengenal Kind Pace, Ruang bagi Perempuan untuk Berlari dan Saling Terhubung
-
Kenapa Banyak Perempuan Takut Mulai Lari? Kisah di Balik Komunitas Kind Pace
Artikel Terkait
Lifestyle
-
IQ Bukan Jaminan, Ini Sederet Faktor yang Menentukan Kesuksesan
-
5 Tinted Lip Oil yang Bikin Bibir Auto Plumpy dan Fresh, Ada yang Ber-SPF!
-
5 Inspirasi Daily Outfit Bergaya Kasual ala Jang Gyuri, Mudah Ditiru!
-
Harga Murah hingga Minim UPF, Masih Gengsi Makan di Warteg?
-
4 Tinted Sunscreen SPF 50 Buat Outdoor, Bikin Pori dan PIH Tersamarkan
Terkini
-
Slow Living: Gaya Hidup Berkelanjutan atau Privilege Kelas Atas?
-
Bertajuk My Friend, Mark Lee Umumkan Comeback Usai Keluar SM Entertainment
-
Bukan Horor Biasa! Trailer Memburu Pemangsa Sengaja Tolak Jumpscare Murahan Demi Angkat Isu Nyata
-
Gen Z, Healing, dan Self-Care: Hidup Seimbang Kini Jadi Bukti Kebebasan?
-
Sinopsis Sanada Juu Yuushi, Drama Historical Jepang Terbaru Iwamoto Hikaru