M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Alumni Sampoerna University, Wahyu Mahendra dan Karunia Dwi Novita, bersama Arum Githa Putri, Dosen Visual Communication Design, Faculty of Engineering and Technology, Sampoerna University dalam acara Student Exhibition tahunan Program Visual Communication Design (VCD), Rabu (26/8/2026). (dok. Sampoerna University)
Chairun Nisa

Seiring perkembangan teknologi membuat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendesak cara manusia bekerja di berbagai sektor, termasuk industri kreatif. Kini orang-orang tanpa perlu keahlian khusus mampu menghasilkan gambar, video, ilustrasi, hingga berbagai materi visual hanya dengan mengandalkan teknologi.

Fenomena tersebut membuat kemampuan kreatif dan teknis tidak lagi dinilai cukup sebagai modal untuk bersaing di dunia profesional. Para talenta kreatif semakin ditantang untuk memiliki kemampuan yang adaptif secara lebih luas.

Kini mereka tidak sekadar menciptakan karya yang menarik, tetapi juga keterampilan memahami persoalan, mengenali kebutuhan audiens, menyusun strategi, hingga memanfaatkan teknologi secara tepat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta tenaga kerja pada 2025. Hal ini setara 18,7 persen dari total tenaga kerja nasional. Makanya, tidak mengherankan kebutuhan terhadap talenta dengan kemampuan tersebut semakin relevan di tengah besarnya industri kreatif Indonesia.

Namun, kemudahan akses AI ini justru mengubah standar kemampuan yang diperlukan industri. Saat teknologi makin mudah digunakan untuk meluncurkan sebuah karya, kemampuan manusia untuk berpikir, menentukan arah, serta memahami konteks menjadi pembedanya.

Dosen Visual Communication Design, Faculty of Engineering and Technology, Sampoerna University, Arum Githa Putri menjelaskan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya dibekali dengan keterampilan menghasilkan karya visual. Mereka perlu diarahkan untuk menjawab kebutuhan industri kreatif.

"Di Sampoerna University, mahasiswa VCD tidak hanya dibekali kemampuan untuk menghasilkan karya visual, tetapi juga memahami audiens, mengidentifikasi masalah, mengembangkan konsep, dan menerjemahkannya menjadi solusi komunikasi visual yang relevan," katanya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk mempersiapkan mahasiswa berkembang sebagai Creative Technologist dan Time-Based Media Designer, sehingga mereka mampu mengkombinasikan teknologi, desain, dan visual bergerak.

"Seiring perkembangan AI, kami juga mengajarkan mahasiswa untuk memahami pemanfaat teknologi secara tepat, karena AI tetap membutuhkan arahan manusia. Oleh karena itu, kemampuan seperti data thinking, data marketing, dan kolaborasi menjadi penting untuk terus diasah," jelasnya.

Perubahan kebutuhan industri tersebut turut terlihat dari pengalaman para alumni. Selain kemampuan teknis, adaptabilitas menjadi salah satu kunci penting untuk terjun ke dunia kerja kreatif.

Salah satu alumni Visual Communication Design dan bekerja sebagai illustrator/graphic designer PT Global Urban Essential, Karunia Dwi Novita membenarkan hal tersebut. Menurutnya, kesempatan yang diberikan selama kuliah di universitas tersebut sangat berguna di dunia kerja.

"Selama kuliah di VCD, saya mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan beragam keterampilan, mulai dari desain hingga 3D. Berbagai proyek selama perkuliahan juga memperluas kemampuan saya, termasuk dalam storytelling, yang menjadi salah satu menjadi pengalaman paling berkesan," ungkap Nia.

Ada pun alumni Visual Communication Design, Sampoerna University sekaligus Motion Designer Sterly, Wahyu Mahendra menjelaskan kemampuan beradaptasi sangat penting dalam menghadapi berbagai keperluan dunia kerja, seperti menghadapi tim, klien, maupun situasi kerja yang berbeda.

"Selain mampu beradaptasi, kemampuan time management dan komunikasi juga sangat penting, terutama dalam lingkungan kerja yang dinamis dan remote," terang Mahendra.

Untuk melihat kemampuan penggabungan antara kreativitas dan problem solving ini sudah dituangkan melalui karya mahasiswa yang dipamerkan dalam Student Exhibition berjudul "Crossroad". Pameran yang berlangsung pada 26—28 Agustus 2026 tersebut menyajikan 11 Final Year Projects mahasiswa Visual Communication Design, Sampoerna University.

Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya menyorot kemampuan mahasiswa dalam membuat produk visual. Beberapa proyek justru berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, lalu diimplementasikan melalui teknologi dan pendekatan interaktif.

Salah satunya adalah Interactive Waste Sorting Game yang mengusung tema pemilahan sampah. Selain itu, ada pembelajaran interaktif mengenai pertolongan pertama untuk hewan peliharaan, kebersihan makanan, hingga diabetes tipe 2.

Beragam karya tersebut menonjolkan aspek teknologi dan kreativitas ternyata bisa berfungsi lebih luas daripada sekadar bertumpu pada karya visual.

Sebenarnya, tantangan utama justru ada pada keahlian para mahasiswa untuk menentukan persoalan yang ingin diselesaikan dengan menyesuaikan teknologi tepat guna untuk menjawab hal tersebut.

Demikian, industri kreatif di masa depan akan membutuhkan orang-orang yang lebih dari sekadar kreatif. Mereka juga didesak untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, berkolaborasi, dan menjadikan teknologi sebagai alat untuk menghadirkan solusi.

AI mungkin dapat membantu meringankan manusia dalam berkarya. Namun, perlu diingat bahwa pemilihan masalah yang perlu diselesaikan dan alasan sebuah karya perlu dibuat itu tetap menjadi pekerjaan yang memerlukan manusia di baliknya.