M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Ilustrasi Parkour (dok. Instagram/@parkourjkt)
Chairun Nisa

Banyak orang masih menganggap parkour sebagai olahraga ekstrem yang identik dengan aksi melompat dari gedung ke gedung atau melakukan gerakan berbahaya. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Di balik setiap lompatan, parkour justru mengedepankan penguasaan teknik, pengendalian tubuh, serta keselamatan sebagai fondasi utama dalam setiap latihan.

Hal itulah yang diterapkan oleh Komunitas Parkour Jakarta. Mereka rutin menggelar latihan di Taman Puring, Jakarta Selatan. Kawasan taman yang dipenuhi bangku, tembok, pagar, tangga, dan berbagai struktur beton dimanfaatkan sebagai arena latihan untuk mengasah kemampuan para anggota parkour.

Alih-alih langsung mencoba gerakan sulit, seluruh anggota memulai latihan dengan pemanasan untuk melenturkan otot terlebih dahulu. Tahapan ini dilakukan untuk membuat tubuh siap menerima beban latihan serta meminimalkan risiko cedera.

Setelah itu, anggota komunitas parkour mulai mempelajari materi teknik yang sudah disusun oleh tim instruktur. Perlu diketahui bahwa materi latihan tidak pernah sama pada setiap pertemuan.

Kurikulum Latihan dan Tiga Teknik Dasar

Setiap pekan, mereka mendapatkan tiga materi berbeda yang telah diatur dalam kurikulum internal komunitas. Teknik yang dipelajari juga beragam, mulai dari teknik dasar pendaratan, menjaga keseimbangan, hingga berbagai jenis lompatan dan perpindahan.

"Jadi setiap minggu itu kita dikasih tiga materi. Itu ada divisinya sendiri. Ada divisi materi, mereka yang bikin semacam kurikulum gitu. Hari ini materinya ada kong vault, tic-tac, sama laché," ujar salah satu pelatih Komunitas Parkour Jakarta, Faiqo Rohman.

Kong vault sendiri merupakan teknik melewati rintangan dengan kedua tangan sebagai tumpuan sebelum tubuh meluncur ke depan.

Sementara, tic-tac dilakukan dengan memanfaatkan dinding sebagai pijakan untuk mengubah arah atau memperoleh ketinggian tambahan.

Untuk laché adalah teknik berpindah dari satu pegangan ke pegangan lainnya dengan cara melepaskan kedua tangan di udara sebelum mendarat di pegangan berikutnya.

Kemampuan yang didapatkan selama latihan nantinya menjadi bekal bagi anggota yang ingin mengikuti perlombaan. Komunitas Parkour Jakarta secara rutin berpartisipasi dalam berbagai kejuaraan, salah satunya Indonesia Open (INA Open).

Berbeda dengan cabang olahraga lain yang menerapkan seleksi internal, komunitas ini memberikan kesempatan kepada seluruh anggota yang merasa siap untuk ikut bertanding.

"Kita ada ikut lomba, kayak kemarin itu kita ikut INA Open atau Indonesia Open. Yang ikut sih, yang mau-mau aja, jadi gak ada seleksi. Lo siap dan lo yakin, oke, kita support," katanya.

Menurut Iqo, dukungan sesama anggota menjadi salah satu kekuatan komunitas. Mereka saling mendukung dan memberi semangat ketika ada anggota yang mengikuti perlombaan maupun saat berlatih teknik baru.

Utamakan Keselamatan Lewat Spotting dan Clear Area

Selain berfokus pada teknik, keselamatan menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan. Sebelum kegiatan dimulai, pengurus terlebih dahulu menentukan area yang akan digunakan agar tidak mengganggu aktivitas orang-orang di sekitar taman.

Selama latihan berlangsung pun, ada anggota yang saling melakukan spotting atau pengawasan untuk membantu apabila ada kekeliruan dalam latihan.

"Itu biasanya orang-orangnya, sih, cukup disiplin dan bisa diatur. Kita dari awal juga udah tegasin kalau ini wilayah kita. Untuk keselamatan praktisinya, kita spotting, orang lalu lalang juga kita tetap jaga, clear area," terangnya.

Saat ini, Taman Puring menjadi lokasi utama latihan rutin komunitas. Namun, tidak menutup kemungkinan mereka mengadakan sesi latihan di tempat lain, seperti di Vata Parkour Bintaro atau jamming.

Jamming sendiri merupakan sesi latihan bersama sambil mengeksplorasi taman-taman lain yang dinilai punya karakteristik menarik.

"Ya, untuk sementara kelas Minggu pagi itu selalu di Taman Puring. Sebenarnya kita ada latihan lagi di Vata atau janjian jamming eksplor ke taman mana kalau ada teman yang nemu taman yang bagus," ujarnya.

Menurutnya, taman yang cocok untuk parkour bukanlah ruang terbuka yang luas tanpa hambatan. Justru keberadaan seperti bangku taman, tembok, pagar, hingga beton bertingkat menjadi daya tarik utama karena bisa dimanfaatkan sebagai rintangan untuk berlatih.

"Paling yang ada obstacles-obstacles yang bisa dilewatin. Tembok-tembok gitu aja juga gak papa. Karena kalau cuma tanah lapang itu jatuhnya kita cuma salto-salto aja," katanya.

Potensi Taman Kota Jakarta untuk Parkour

Berbagai fasilitas tersebut memungkinkan praktisi mengeksplorasi banyak teknik. Oleh karena itu, taman kota dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi ruang latihan parkour selama tetap memperhatikan aspek keamanan dan fungsi sebagai ruang publik.

Tak hanya penguasaan teknik, komunitas juga menaruh perhatian besar terhadap kondisi fisik para anggotanya. Menurutnya, kekuatan tubuh menjadi modal penting sebelum seseorang menguasai berbagai teknik parkour yang lebih kompleks.

"Tapi yang harus dikuatin banget itu fisiknya. Biasanya setiap bulan kita ada SNC, Strength and Conditioning. Di situ benar-benar di-drill fisik kita," paparnya.

Melalui Strength and Conditioning, anggota menjalani berbagai latihan untuk meningkatkan kekuatan otot, daya tahan, keseimbangan, serta kelincahan. Ini menjadi fondasi penting agar tubuh bisa menerima beban ketika melakukan gerakan parkour.

Tak hanya itu, Iqo menilai bahwa Jakarta sebenarnya punya potensi besar untuk mendukung perkembangan olahraga ini. Semakin banyak ruang terbuka hijau dan taman kota yang dibangun pemerintah setempat, ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat latihan mereka.

"Sebenarnya kota Jakarta udah cukup berpotensi untuk memfasilitasi olahraga parkour ini. Cuma lebih ke atletnya gak ada. Jadi paling lebih ke SDM-nya," ungkapnya.

Ia juga menegaskan tidak ada ukuran pasti mengenai berapa lama seseorang dapat menguasai seluruh teknik parkour. Proses belajar setiap orang berbeda-beda, bergantung pada kemampuan motorik, kedisiplinan, serta seberapa sering latihan yang dijalani.

"Itu tergantung orangnya. Ada orang motoriknya bagus dan ada yang enggak. Balik lagi tergantung kedisiplinannya," tuturnya.

Bagi Komunitas Parkour Jakarta, olahraga ini bukan sekadar olahraga semata yang mengandalkan keberanian melakukan lompatan. Ternyata, olahraga ini mengajarkan proses belajar yang bertahap, disiplin berlatih, saling menjaga keselamatan, serta membangun kepercayaan diri untuk terus berkembang sesuai kemampuan diri sendiri.