Belakangan ini, kimpul tengah ramai jadi perbincangan di media sosial setelah salah satu kreator media sosial membuat berbagai macam kreasi masakan dengan umbi kimpul. Dari sini, umbi kimpul yang mulai dilupakan generasi muda kembali dikenal lewat konten-konten viral yang dibagikan. Mulai dari makanan lokal Indonesia, seperti seblak hingga makanan khas mancanegara, seperti ttekbokki dan lasagna, dengan kreatif diolah dengan umbi kimpul sebagai bahan utamanya.
Di balik viralnya berbagai kreasi tersebut, kimpul ternyata bukan bahan makanan baru. Umbi ini sudah lama menjadi alternatif pengganti nasi yang dikonsumsi masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Selain mengenyangkan, kimpul juga mengandung serat, vitamin, dan mineral yang baik untuk tubuh. Nah, sebelum ikut mencoba berbagai olahan kimpul yang sedang viral, yuk kenali lebih dekat umbi lokal yang satu ini!
Kimpul dan Talas Berbeda Meskipun Masih Satu 'Keluarga'
Sekilas, kimpul memang sangat mirip dengan talas sehingga banyak orang mengira keduanya adalah tanaman yang sama. Padahal, kimpul merupakan umbi dari spesies Xanthosoma sagittifolium, sedangkan talas umumnya berasal dari spesies Colocasia esculenta. Meski masih berada dalam keluarga talas-talasan (Araceae), keduanya memiliki bentuk daun, umbi, hingga tekstur yang sedikit berbeda.
Kimpul sendiri berasal dari kawasan Amerika tropis, tetapi sudah lama dibudidayakan di Indonesia. Tanaman ini mudah tumbuh di daerah beriklim tropis dan sering ditemukan di pekarangan rumah, kebun, maupun lahan pertanian. Karena mudah ditanam dan tidak memerlukan perawatan yang rumit, kimpul sejak dulu dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pangan oleh masyarakat di berbagai daerah.
Alternatif Sumber Karbohidrat Pengganti Nasi
Kimpul dikenal sebagai salah satu umbi-umbian pengganti nasi karena mudah ditemukan dan dibudidayakan. Umbi ini mengandung karbohidrat kompleks yang dicerna tubuh lebih lambat, sehingga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama. Karena itu, kimpul kerap dijadikan pilihan bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi nasi tanpa harus mengurangi asupan energi.
Harus Diolah Dulu, Tidak Boleh Dimakan Mentah!
Meski memiliki banyak manfaat, kimpul tidak bisa langsung dimasak begitu saja. Umbi ini mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal atau sensasi menyengat di mulut dan tenggorokan jika tidak diolah dengan benar. Karena itu, proses pengolahan menjadi langkah penting sebelum kimpul dikonsumsi.
Agar lebih aman, kupas kulit kimpul hingga benar-benar bersih, lalu cuci dengan air mengalir. Kamu juga bisa merendamnya dalam air garam atau menjemurnya terlebih dahulu untuk membantu mengurangi kandungan penyebab rasa gatal. Setelah itu, rebus atau kukus kimpul hingga benar-benar matang sebelum diolah menjadi berbagai hidangan. Dengan pengolahan yang tepat, kimpul bisa dinikmati dengan aman sekaligus tetap mempertahankan cita rasanya yang lezat.
Cocok Diolah untuk Berbagai Macam Makanan
Salah satu alasan kimpul kembali populer adalah karena versatile atau mudah diolah menjadi beragam jenis makanan. Cara paling sederhana adalah dengan merebus atau mengukusnya. Teksturnya yang lembut dan rasa gurih alaminya membuat kimpul tetap nikmat disantap tanpa banyak bumbu. Tak heran, kimpul bisa cocok diolah dengan berbagai versi makanan dari dalam maupun luar negeri.
Selain itu, kimpul juga bisa diolah menjadi berbagai hidangan tradisional, seperti kolak, getuk, keripik, hingga campuran sayur bersantan. Seiring viralnya di media sosial, banyak orang mulai berkreasi mengolah kimpul menjadi menu yang lebih modern, seperti seblak, tteokbokki, lasagna, bahkan dessert.
Kimpul yang baru-baru ini viral nyatanya sudah sejak lama diolah dan dikonsumsi sebagai alternatif sumber karbohidrat. Seiring berkembangnya zaman, tren makanan pun mulai bergeser. Kimpul yang dulunya hanya dikukus, dibuat getuk, atau kolak, kini mulai merambah ke pangan modern yang disukai anak muda. Kamu tertarik olah kimpul jadi apa?
Baca Juga
-
Seperti Hilang Arah, 4 Novel Tema Keterasingan Ini Pertanyakan Eksistensi
-
Drakor Bisa Kenalkan Budaya Korea pada Dunia, Kenapa Indonesia Belum?
-
Ulasan Novel The Great Gatsby: Apakah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
Artikel Terkait
-
Mengapa Nasi di Magic Com Cepat Mengering dan Mengeras di Bagian Pinggir? Ini Penyebabnya
-
Cara Memasak Nasi di Rice Cooker Tidak Kering atau Benyek, Segini Ukuran Airnya
-
9 Cara agar Nasi Tahan Lama di Rice Cooker, Hindari Buka Tutup Terlalu Sering
-
Sepiring Nasi Goreng di Pinggir Jalan
-
Setelah Nasi Matang, Apakah Rice Cooker Sebaiknya Dicabut? Ini Penjelasannya
News
-
Bantuan IPB University dan ARM HA-IPB Tiba di Labuan Bajo, Ribuan Paket Pangan Siap Disalurkan
-
FESTVENT VOL.3 2026 Hadir Kembali, Usung Tema 'Own the Street, Own the Game'
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
Terkini
-
365 Repeat The Year, Thriller Time Travel dengan Alur Penuh Plot Twist
-
Memahami Trauma Loop Ibu: Apakah Bisa Berdampak pada Pola Asuh Anak?
-
Shaun the Sheep: The Beast of Mossy Bottom, Komedi yang Nggak Banyak Kata
-
Jangan Asal Larang! Ini 5 Langkah Ajarkan Aturan agar Anak Paham dan Disiplin
-
Kabar Buruk Jelang ASEAN Cup 2026: Jay Idzes Cedera, Elkan Baggott Siap Turun Gunung?